Oleh : Dr. Irwan Wisanggeni, M.Si.
Akademisi dan Penjelajah
Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Baru-baru ini saya mendaki Gunung Lawu via Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur. Pendakian yang menyenangkan bersama para pemuda yang memberi nama kelompoknya “Semut Gunung”.
Perjalanan dari Jakarta kami tempuh dengan mobil dan via tol lintas Jawa, membuat kami sampai dengan aman dan cepat sampai ke Magetan.
Jalur Cemoro Sewu adalah jalur yang cukup terjal dan tracking-nya bebatuan, sehingga kami sangat kewalahan, terutama saya yang sudah sepuh sekaligus sebagai Pemula alias pendaki muka lama.
Gunung Lawu adalah kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan termasuk kawasan hutan tropis yang kaya akan floran dan fauna.
Dalam pendakian ini, kami menemukan beberapa hal unik. Di sini saya bisa melihat Edelweiss berwarna pink yang merupakan ciri khas Gunung Lawu sejak dahulu.
Di jalur pendakian kami sering menjumpai burung jalak berwarna hitam kecoklatan yang mengikuti langkah para pendaki. Jalak tersebut berkicau dengan indah dan seperti menghibur para pendaki. Sungguh menyenangkan melihat burung jalak hutan ini.
Momentum langka yang kami jumpai adalah melihat rusa liar di savana yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari Hargo Dumilah. Bagi yang belum tahu, Hargo Dumilah adalah nama titik puncak Gunung Lawu. (3.265 mdpl).
Rusa liar itu terlihat sangat cantik. Saat rusa makan rumput, kami sempat buat videonya. Ini pemandangan langka yang menakjubkan.
Angkat topi dan acung jempol untuk Jawagawana (penjaga hutan) di Gunung Lawu. Mereka menjaga kawasan konservasi ini dengan serius, dan hasilnya tumbuhan serta hewan di sana terjaga dengan baik.
Bahkan beberapa Jawagawana keliling di jalur pendakian untuk mengingat pendaki dengan kalimat, “Jangan lupa sampah dibawa turun, nanti akan diperiksa di Pos Cemoro Sewu”.
Saya suka dengan kalimat itu, seperti cambuk yang membuat kita sadar akan pentingnya menjaga hutan agar tak tercemar dengan sampah.
Ohya, di Pos 5 Gunung Lawu ada lokasi yang terdapat mata air. Namanya Sendang Drajat. Masyarakat lokal percaya Sindang Drajat merupakan tempat keramat.
Sendang Drajat terjaga dengan baik. Masuk ke Sindang Drajat kita harus membuka alas kaki, dan tidak boleh mandi, sikat gigi atau cuci kaki.
Air di Sendang Drajat bersih dan segar. Saya sempat mengambil air dan meminumnya, juga cuci muka.
Semoga Gunung Lawu tetap terjaga, agar generasi yang akan datang masih dapat menikmati keindahan alam dan selalu mensyukuri nikmat Tuhan yang maha Esa atas alam ciptaanNya. (*).
Foto || Koleksi pribadi penulis
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)