Membaca dari Gunung Meucica

Caption foto: Salah satu peserta saat berada di Air Terjun Lereng Gunung Meucica, Aceh Besar. (WARTAPALA INDONESIA/ Andi Tharsia)

Wartapalaindonesia.com, ACEH – Pandemi Covid-19 menyebabkan gairah ekonomi, sosial dan budaya mengalami pergeseran dari sebelumnya. Dengan jargon “New Normal”, masyarakat pada umumnya diharuskan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas di tempat publik, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kondisi ini juga mengharuskan pemerintah setempat memperketat kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan komunal. Dampaknya tak hanya melibatkan masyarakat umum, tapi juga Mahasiswa Pecinta Alam, khususnya yang ada di Aceh.

Enam pemuda yang menamakan dirinya “Tim Marsose”, bergerak melawan arus dengan melakukan pendakian ke gunung tertinggi di kabupaten Aceh Besar, yakni Gunung Meucica. Mereka adalah M. Dhipa Syauqi (Samsak–Leader), Ruslan Manik (DJ-PU), Zahid Asyi (OTW-Sweeper), M. Iqbal (Selow-Equipment), Sulthan Adam Maulana (Ye-Logistik), dan Ikram (Arga-Navigator).

Tim Marsose berhasil mencapai puncak Gunung Meucica (dari kiri-kanan: Samsak, Selow, Arga, OTW, DJ dan Ye).

Pendakian ini merupakan kolaborasi sejumlah organisasi pecinta alam fakultas kampus Universitas Syiah Kuala dan komunitas adventure Hiwapatala Aceh, bertujuan untuk solidaritas, menajamkan keterampilan manajemen pendakian dan logistik selama masa pandemi Covid-19.

“Suntuk di kost”, kata Selow sambil tersenyum ketika ditanya alasan mendasar melakukan pendakian di saat pandemi Covid-19 sedang massif terjadi di Aceh.

Pernyataannya diamini oleh DJ. Mereka bosan dengan keadaan, dan ingin bertualang seperti sebelum pandemi.

Kayaknya ada rasa kangen gitu, lihat pemandangan, air terjun, lembah dan suasana alam yang beda,” ujar DJ.

Seruputan arabika dan kepulan rokok menambah nikmat perbincangan seputar pengalaman pendakian diantara kami bertiga. Di sana, tim menemukan flora yang dilindungi seperti Padma raksasa (Rafflesia Arnoldii), Kantung semar merah (Nepenthes) dan burung Rangkong(Bucerotidae) yang tak jarang mereka temukan saat melakukan pendakian.

“Yang kami temukan ini, semoga bisa menjadi temuan ilmiah dan diteliti lebih lanjut,” ujar DJ.

Tim Marsose siap memfasilitasi pihak-pihak yang ingin melakukan penelitian dan kegiatan ilmiah di Gunung Meucica.

Perjalanan naik turun Gunung Meucica membutuhkan waktu enam hari, dimulai dari tanggal  1 hingga 6 Januari 2021. Posko dijaga oleh 4 orang teman yang standby di Banda Aceh sebagai prevensi.

Medan berlumpur, tebing yang curam dan kabut tebal harus mereka lalui untuk sampai ke puncak. Kekompakan dan wawasan pendakian diuji di momen ini. Syukurlah, logistik masih banyak yang tersisa sehingga tim tidak merasa kekurangan stok makanan.

“Pasukan tidak takut mati tapi lebih takut lapar,” ungkap DJ dan sontak gelegar tawa kami pun membahana memenuhi sudut warkop yang kami tempati.

Gunung Meucica sendiri merupakan satu dari Triple M gunung berapi aktif di pegunungan Bukit Barisan yang berhimpitan dan terletak dekat kota Jantho, ibukota Kabupaten Aceh Besar. Triple M yang dimaksud adalah Gunung Meundom, Meutala, dan Meucica (2.140 MDPL).

Di ujung pertemuan, Selow dan DJ menutup perbincangan kami dengan harapan bahwa apa yang kami lakukan ini dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman Mapala, khususnya yang berada di Aceh untuk terus produktif, tetap terus berkegiatan yang bisa dilakukan meskipun pandemi Covid-19 belum berakhir.

Tetap menjaga semangat dan saling support antar pecinta alam itu perlu, supaya semangat mencintai alam tidak pupus. Hal kecil yang bisa kita lakukan jika memang terpaksa tidak bisa mendaki, ya setidaknya mulai dari diri kita sendiri seperti tidak membuang sampah sembarangan, melakukan kampanye di medsos dan cara kreatif lainnya.

Discaimer : atas permintaan narasumber, foto varietas asli sengaja tidak ditampilkan guna menjaga alam dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik

Kontributor || Andi Tharsia , WI 200141

Editor || Risma Wulandari, WI 180025

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: