WartapalaIndonesia.com, BANDUNG – Sekitar 70 orang pecinta alam dari berbagai komunitas di Bandung Raya kembali menunjukkan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Mereka berbondong-bondong mengikuti Gerakan Pungut Sampah (GPS) yang digelar di area camp pendidikan Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara, Sabtu, 26 April 2024.
Kegiatan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih biasa, melainkan sudah menjadi agenda tahunan yang konsisten dilakukan usai musim pendidikan bagi para calon pecinta alam berakhir.
Tahun ini, GPS kembali dipimpin oleh sosok yang tak asing bagi komunitas pecinta alam Bandung, yaitu Mang Dikdik Jabrigs — pengelola sekaligus koordinator utama area pendidikan di kawasan tersebut.
“Kami tidak hanya memanfaatkan alam sebagai fasilitas pendidikan saja, tapi kami juga berusaha menjaga kelestariannya,” tegas Mang Dikdik saat ditemui di lokasi kegiatan.
Semangat kolektif yang ditunjukkan para peserta patut diapresiasi. Mereka menyusuri jalur pendakian, area camp, hingga titik-titik rawan sampah sambil membawa karung dan alat pembersih.
Tidak hanya memungut sampah, mereka juga saling mengingatkan pentingnya menjaga etika lingkungan di alam bebas.
Aksi Nyata, Bukan Sekadar Wacana
Gerakan ini menjadi bukti bahwa pendidikan kepencintaalaman bukan hanya soal petualangan dan survival, tetapi juga soal tanggung jawab ekologis. Para peserta datang dari berbagai latar belakang komunitas, namun dipersatukan oleh satu tujuan, yakni mencintai alam lewat tindakan nyata.
Dalam suasana akrab namun penuh semangat, aksi pungut sampah berlangsung lancar dan menghasilkan puluhan karung sampah non-organik yang kemudian diangkut untuk proses pemilahan dan pembuangan yang tepat.
Menjaga Warisan Alam untuk Generasi Berikutnya
Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Sanggara bukan hanya lokasi latihan fisik dan mental bagi para calon anggota pecinta alam, tetapi juga bagian dari warisan alam yang harus dijaga bersama.
Lewat kegiatan ini, para peserta belajar bahwa menjadi pecinta alam bukan hanya tentang mendaki dan berkemah, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif untuk menjaga bumi tetap lestari.
“Alam sudah banyak memberi kita pelajaran dan tempat untuk tumbuh, sudah seharusnya kita juga memberi kembali, meskipun hanya lewat hal sederhana seperti memungut sampah,” ujar salah satu peserta dari komunitas Mapala kampus swasta di Bandung.
Dengan terselenggaranya GPS tahun ini, semangat konservasi dan kepedulian terhadap lingkungan di kalangan generasi muda Bandung Raya kembali ditegaskan. Harapannya, kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya untuk mencintai alam secara aktif dan bertanggung jawab. (as).
Kontributor || Mutiara Kasih
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)