Memerdekakan Indonesia Dengan Konsep Zero Waste

Peralatan dan perbekalan mendaki dengan konsep Zero Waste. (WARTAPALA INDONESIA/ Ahmad Humaidi (817-062))

Wartapalaindonesia.com, PERS RILIS – Tanggal 17 Agustus adalah hari yang sangat sakral bagi seluruh bangsa Indonesia, tak terkecuali para pemuda yang tergabung dalam organisasi pencinta alam “Cekakpala”.

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 tahun, Cekakpala mengadakan pendakian serentak ke Gunung Sindoro, Sumbing dan Slamet (Triple S) yang bertajuk Smart, Safety and Social.

Kenapa Triple S? Gunung Sindoro dan Sumbing yang terletak di antara Kota Wonosobo danTemanggung hanya dipisahkan jalan raya yang menghubungkan dua kota tersebut.

Selain letaknya yang berdekatan, Gunung Sumbing dan Sindoro diibaratkan sebagai pasangan dimana Gunung Sumbing sebagai lelaki dan Sindoro sebagai perempuan.

Sedangkan untuk Gunung Slamet sendiri merupakan puncak gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, Gunung Slamet, Gunung Sindoro dan Sumbing terkenal sebagai  “Triple S” yang tersohor di kalangan pendaki di Jawa bahkan Indonesia.

Karena letaknya yang berdekatan inilah Triple S dipilih menjadi salah satu tujuan dalam program kerja KPA Cekakpala.

Dalam pendakian serentak ini, Cekakpala beserta peserta eksternal mengadakan selebrasi wajib hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengadakan upacara bendera di tiga gunung tersebut, program kali ini juga membawa misi edukasi “Zero Waste“.

Konsep Zero Waste adalah sebuah filsafat mengenai meminimalisir atau mengurangi pembuangan dari proses awal produksi hingga pada end user.

Sampah sebagai sumber pencemar lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan pengotoran lingkungan, pencemaran air, tanah, tempat berkembangnya bibit penyakit, penyumbat saluran air yang menyebabkan banjir. Selain itu sering pula timbunan sampah merusak keindahan alam serta lingkungan dan menimbulkan bau yang kurang sedap.

Anggota dan peserta eksternal dalam pendakian ini diwajibkan menghindari cemilan berbungkus plastik dan menggantinya dengan buah-buahan atau gula jawa kiloan yang dapat dibawa dengan wadah makanan.

Sebisa mungkin mengurangi makanan siap saji, dan menggantinya dengan berbagai jenis sayuran yang dibawa dengan keranjang atau goodie bag atau plastik zipper, bisa juga membawa tempe yang berbungkus  daun pisang, mengganti tisu dengan membawa serbet atau  kain lap, mengganti botol minum dengan tumbler atau jirigen atau water tank, menghemat plastik untuk packing dengan cara menyatukannya dengan plastik berukuran besar.

Selain itu, belajar cara mengompos dengan cara menimbun sampah-sampah organic pada lubang yang digali agak kepinggir dari jalur pendakian (komposing).

“Banyak pendaki yang menyadari akan pentingnya membawa turun sampah mereka, banyak  juga yang tidak. Tapi membawa turun sampah juga tidak menyelesaikan masalah tetapi hanya memindahkan masalah. Konsep Zero Waste ini sangat tepat diterapkan di pendakian dan di kehidupan sehari-hari demi mewujudkan program pemerintah yaitu Indonesia Bebas Sampah 2020,” tegas Wildan Azizi Riva’i , Kepala Divisi Gunung dan SAR,.

Konsep Zero Waste yang menjadi fokus utama, sangat penting dikala sistem pengolahan sampah di Indonesia belum bisa mengatasi problematika limbah dan persampahan.

Tidak hanya kampanye Zero Waste yang diusung pada program kerja KPA Cekakpala kali ini, ada juga peringatan terhadap pendaki yang melakukan vandalisme di sepanjang jalur pendakian.

Vandalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)  atau perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas.

Banyak cara agar semangat kemerdekaan tetap terjaga di dalam relung hati bangsa Indonesia, langkah kecil tidaklah menjadi masalah selama kita bertujuan untuk menjaga dan melindungi NKRI.

Dalam acara ini juga Cekakpala memasang banner mengenai Zero Waste yang bertujuan mengampanyekan tersebut kepada kalangan pendaki.

“Konsep zero waste sangat bagus untuk penerapan di pendakian, jika tidak bias memulai secara penuh maka mulailah perlahan-lahan, dan seharusnya sistem pengelola taman nasional ataupun yang belum berstatus taman nasional lebih di perketat lagi mengenai sampah yang dihasilkan para pendaki,” tutur Prayoko dan Shamil, pesertaTriple S.

Kontributor || Ahmad Humaidi (817-062)

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan