Menemukan Kembali Jalur Yang Hilang di Gunung Sumbul

Caption foto: Salah satu anggota tim saat membaca peta Gunung Sumbul. (WARTAPALA INDONESIA/ Dewo Adibowo)

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Sebagian penggiat alam bebas mungkin hanya mengenal Gunung Salak, padahal di dalamnya terdapat lima anak gunung yang jarang terjamah oleh kaki manusia. Salah satu diantara lima gunung tersebut adalah Gunung Sumbul.

Gunung ini memiliki ketinggian puncak 1.926 Mdpl yang berada di dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Gunung Sumbul merupakan gunung yang menjadi daya tarik untuk penggiat alam bebas, khususnya di divisi gunung hutan. Selain memiliki jalur yang menantang, gunung ini juga membuat para penebas kewalahan.

Bahkan harus pukul mundur hingga dua kali bolak-balik untuk bisa sampai di puncaknya. Gunung Sumbul sendiri beriklim tropis dengan flora dan faunanya.

Ada beberapa jalur yang bisa kita tempuh untuk menuju ke puncaknya. Jalur pertama dari Desa Tenjolaya, sebelah barat bagian Gunung Salak. Jalur kedua dari puncak salak dua atau salak satu dan ada juga dari kawah ratu.

Pada awal tahun 2000, salah satu anggota dari Mahasiswa Komputer Pecinta Alam (Makopala) UBL pernah kesana dan menapakkan jejaknya di puncak Sumbul dari jalur kawah ratu.

Sebagai anggota baru adalah hal wajar jika sifat gengsi terhadap pendahulu yang lebih berpengalaman. Oleh karena itu, kita membuktikannya bahwa di tahun 2000 yang kamu rasakan dulu, kini sudah pernah saya rasakan.

Jumat, 4 Oktober 2019, menjadi hari dimana tim kami berangkat menuju Gunung Sumbul. Dengan perbekalan dan alat sesiap mungkin, kami berangkat dari Desa Tenjolaya melewati jalur irigasi menuju sungai pertama yang akan kami lewati.

Pepohonanan yang sangat lebat membuat kita harus buka jalur untuk sampai di atas. Tidak lupa kompas dan peta adalah hal wajib yang kita bawa sebagai bekal bernavigasi di alam bebas.

Setelah hampir menempuh jarak 4,4 km dengan waktu tempuh 1 jam 20 menit, kita sampai di sungai kedua yaitu Sungai Merah. Kami beristirahat dan juga makan siang.

Sekitar hampir 30 menit istirahat, kami melanjutkan misi untuk bisa sampai di puncak Sumbul. Penebas pertama yang sudah ahli di bidangnya bertugas untuk membuka jalur, sehingga kami tak khawatir terkena duri jika orang selanjutnya lewat.

Sekitar menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya tiba di puncak bayangan Gunung Sumbul. Rasa tak sabar ingin segera mendirakan bivak di puncaknya sembari masak-masak.

Kemudian melanjutkan perjalanan hingga berada di pertemuan antara puncak Salak dua menuju puncak Salak satu. Hal tersebut menjadi pemacu semangat, menandakan bawha puncak Sumbul sudah dekat.

Menempuh waktu perjalaanan selama sekitar 3 jam 50 menit, akhirnya sampai juga di puncak Gunung Sumbul. Rasa bahagia telah berhasil menjejakkan kaki di puncak Gunung Sumbul menjadi kebanggan tersendiri bagi tim kami.

Semoga gunung ini tetap lestari, terjaga keasriannya dan tetap menjadi gunung yang tersembunyi diantara lebatnya Gunung Salak.

Perjalanan ini mengajarkan kepada kita semua bahwasannya guru terbaik adalah mereka yang mau berbagi pengalamannya bukan merahasiakan pengalamannya.

Kontributor || Dewo Adibowo,WI 200217

Editor || Nadiatul Ma’rifah, WI 190044

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: