Menghancurkan Gunung Tumpang Pitu Sama Dengan Tidak Bersyukur

Suasana acara Kupatan dan Halal Bihalal warga dusun Pancer di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pancer, Minggu (24/6/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Forum Banyuwangi)

Wartapalaindonesia.com, BANYUWANGI –  Warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi menggelar acara kupatan dan halal bihalal dalam momentum hari raya Idul Fitri 1439 H.

Acara ini disiapkan oleh warga yang konsisten menolak keberadaan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu yang diadakan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pancer, Minggu (24 Juni 2018).

Puluhan warga membawa ketupat dan sayur mendatangi TPI Pancer sejak pagi. Selain warga setempat, acara tersebut juga dihadiri warga dari Sumbermulyo, mahasiswa dan seniman.

Tak hanya orang tua dan pemuda, anak-anak juga antusias mengikuti acara ini.

Sundari, Koordinator Acara mengatakan, “kupatan dan halal bihalal selain sebagai ajang untuk saling memaafkan juga merupakan bentuk rasa syukur atas ciptaan Allah. Mereka yang merusak dan menghancurkan alam sesungguhnya orang yang tidak bersukur terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT”.

“Kupatan dan halal bihalal ini adalah sebagai bentuk rasa syukur dan meminta maaf antar sesama dan kepada alam. Menghacurkan gunung Tumpang Pitu sama dengan tidak bersyukur,” lanjutnya.

Acara dibuka dengan orasi Zainal Arifin, dalam orasinya pria yang biasa dipanggil Ari ini menyampaikan keberadaan pertambangan emas di Gunung Tumpang pintu dianggap mengancam pertanian yang secara kolektif telah dibangun sejak lama oleh masyarakat Pesanggaraan.

“Warga Pesanggaran sudah sejahtera dengan pertanian, ada buah naga , ada padi yang mampu menghidupi kita. Pertambangan emas itu rakus lahan dan air, ini mengancam pertanian yang sangat membutuhkan keduanya,” tegas Ari.

“Selain sebagai pusat resapan air yang mampu menyimpan air, Gunung Tumpang Pitu sangat penting bagi komunitas nelayan Dusun Pacer,” kata Fitri, warga Dusun Pancer.

“Gunung Tumpang Pitu menjadi pelindung Dusun Pancer ketika angin barat daya bertiup sangat kencang dan menjadi benteng ketika Tsunami tiba. Memori tsunami tahun 1994 lalu tidak dapat saya lupakan, saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika saat itu tidak ada Gunung Tumpang Pitu,” terang Fitri.

Menariknya, selain makan ketupat bersama, saat acara berlangsung diadakan penyablonan 40 panji-panji perjuangan ForBanyuwangi Nelayan Pancer. Bendera tersebut kemudian dipasang di perahu nelayan.

Sementara orangtua menikmati sajian ketupat, musisi memainkan musik, anak-anak bergembira mewarnai sketsa gambar ikan dan petani.

Acara Kupatan dan Halal Bihalal ditutup dengan nyanyian buruh tani, darah juang dan apa kabar yang dibawakan oleh komunitas solidaritas perjuangan.

Kontribusi : Forum Banyuwangi

Editor : Nindya Seva

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan