Wartapalaindonesia.com, EKSPLORE – Caving (susur gua) berasal dari kata cave, artinya gua. Menurut Mc Clurg, cave (gua) berarti “ruang alamiah di dalam bumi”. Aktivitas caving diterjemahkan sebagai ‘Aktivitas Penelusuran Gua’.
Setiap aktivitas penelusuran gua tidak lepas dari keadaan gelap total (abadi). Justru keadaan seperti ini menjadi daya tarik bagi seorang ‘caver’, sebutan untuk seorang penelusur gua.
Pertanyaan yang akan muncul, yang berkembang menjadi pengetahuan tentang gua dan aspeknya, termasuk misteri yang terkandung di dalamnya dan dikenal dengan istilah ‘speleologi’. Ruang lingkup ilmu pengetahuan yang meliputi segi terbentuknya gua, tata lingkungan dan segi lainnya.
Sejarah Gua Rangga Gading
Gua ‘Rangga Gading’ Tasikmalaya, gua yang terletak di Desa Cigunung Kecamatan Parung ponteng, Tasikmalaya ini bernama Rangga gading, konon nama Rangga gading ini diambil dari nama seorang Raja kerajaan Pasundan yang bernama Rangga gading.
Dalam naskah sejarah yang ada pada masyarakat setempat terbentuknya gua Rangga gading dikarenakan pertempuran antara Raja Rangga Gading dan Raja lainnya. Pertempuran yang terjadi sangat besar sehingga menyebabkan terbentuknya sebuah gua, yaitu gua Rangga Gading.
Dan di tempat kerajaan lawannya terbentuk sungai yaitu sungai/situ Cibeureum. Kata Cibeureum diambil karena keadaan air di situ berwarna merah dikarenakan darah prajurit yang melawan Raja Rangga Gading.
Dari penuturan juru kunci, Gua tersebut mempunyai panjang rute sekitar 300 meter, namun saat ini hanya baru sekitar 60 meter yang bisa dieksplor dan diizinkan oleh penduduk setempat. Dalam naskah sejarah gua tersebut disebutkan bahwa ada sebuah chamber (ruang gua) yang seluas lapangan bola di dalamnya.
Gua tersebut memiliki sumber air panas yang mengalir di dalamnya. Gua tersebut pernah ramai dikunjungi para wisatawan pada tahun 2007-2008. Untuk melakukan penelusuran Gua Rangga gading saat ini memerlukan izin dari pemerintah Desa Cigunung.
Keadaan Gua saat ini (2016)
Gua Rangga gading termasuk dalam gua tipe horizontal, memiliki banyak entrance (mulut gua) dan terdapat 2 jalan masuk vertical, jalan akses menuju gua Rangga gading sudah ditumbuhi ilalang dan rumput yang tinggi. Saat memasuki gua, ditemukan tangga buatan yang dahulu pernah dibuat saat gua ini ramai.
Chamber yang konon seluas lapangan bolapun tidak ditemukan di kedalaman 60 meter, dan menurut informasi dari beberapa sumber, belum ada yang bisa menemukan chamber tersebut.
Bahkan informasi dari penduduk setempat, dulu di dalam gua dibangun kamar mandi air panas dan jembatan yang digunakan sebagi sarana. Terlihat banyak bambu, paku dan karung berisi tanah untuk meratakan tanah dan sebagai pijakan di dalam gua tersebut.
Air yang mengalir di dalam gua tersebut cukup deras dan kedalaman sekitar 1-1,5 meter. Aliran air panas di dalam gua pun masih bisa dijumpai meskipun airnya sekarang terasa hangat.
Karena pernah dijadikan gua wisata, banyak ornamen stalagtit yang dipotong dan tidak ditemukannya ornamen stalagmit.
Mitos yang beredar di masyarakat
Ada beberapa mitos tentang gua Rangga gading yang beredar di masyarakat sekitar, gua Rangga gading pernah dijadikan tempat bertapa atau bersemedi, konon di dalam gua terdapat harta karun. Terdengarnya suara pertunjukan wayang golek kerap kali terdengar dari dalam gua Rangga gading.
Kontributor : Tim Caving Mapala Natural Forum
Editor : Danang Jaya Arganata
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Dokumentasi Tim Caving Mapala Natural Forum
















Fauna Lintah, oleh Tim Caving Mapala Natural Forum





Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)
