Menjelajahi Keindahan Tebing Panjat di Desa Songan, Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Batur

WartapalaIndonesia.com, FEATURE – Sebagai bagian dari upaya pengembangan dan pengaplikasian kemampuan, Divisi Rock Climbing, IMPA Akasia mengadakan ekspedisi di tebing Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Pada 9-11 Agustus 2025.

Ekspedisi ini memberangkatkan 3 anggota muda yakni M. Alfridho, Aisyah Romadhoni, Saviola Verdianto. Mereka dipandu seorang pendamping. Tujuannya untuk memberikan pengalaman langsung dalam mengaplikasikan pengetahuan dan teknik yang telah dipelajari.

Dalam ekspedisi ini, tim mencoba tiga jalur berbeda dengan metode yang beragam, seperti Bouldering, Top Rope, Top Lead.

Ekspedisi ini menjadi ajang bagi anggota muda tersebut untuk mengasah kemampuan teknis dan manajerial, berinteraksi langsung dengan kondisi lapangan, dan berkoordinasi dengan pihak desa dalam rangka mempromosikan potensi wisata panjat tebing di Desa Songan.

Karakteristik Wilayah dan Pengelolaan Tebing
Desa Songan yang terletak di kawasan dataran tinggi, menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan dengan kontur tanah yang terjal dan tebing-tebing kokoh yang tersebar di wilayahnya.

Dengan ketinggian tebing 25 meter, tebing dengan batuan andesit ini memiliki 25 jalur yang sudah terpasang anchor dengan grade 4a sampai dengan 8a yang menjadi tantangan sendiri bagi para pemanjatnya.

Meski terkenal dengan keindahan Danau Batur, yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan, desa ini menyimpan potensi tersembunyi yang menarik bagi para pecinta olahraga ekstrem dan petualangan dengan tebingnya ini.

Pemerintah Desa Songan menyadari pentingnya mengelola tebing-tebing tersebut secara serius untuk keberlanjutan pariwisata panjat tebing. Pengelolaan, yang diartikan sebagai proses mengendalikan, menyelenggarakan, dan mengurus sesuatu, mencakup pengawasan tebing, perawatan hanger, dan kerja sama dengan pihak eksternal untuk pembuatan jalur baru.

Pemerintah Desa Songan sudah dapat dikatakan mampu mengelola tebing dengan baik karena mereka bekerja sama dengan berbagai pihak profesional, salah satunya yaitu Monk Climbing dari Ubud, yang merupakan pegiat panjat tebing.

Kolaborasi itu mencakup pembuatan jalur, pengenalan tebing kepada turis mancanegara, serta penyediaan sistem guide untuk menemani sekaligus mengawasi aktivitas panjat tebing yang tergolong ekstrem.

Terkait keamannan jalur panjat, tak usah diragukan, karena pihak pengelola tebing Songan rutin mengganti hanger yang terpasang pada tebing setiap 5 bulan sekali demi faktor keamanan pemanjat.

Meskipun saat ini pengaruh langsung dari wisata panjat tebing terhadap perekonomian desa masih kecil, karena aktivitas ekonomi lebih banyak ditopang oleh kunjungan ke Danau Batur, keberadaan spot panjat tebing ini tetap memberikan manfaat. Beberapa warga lokal telah memanfaatkan peluang ini dengan menyediakan jasa seperti penyewaan alat dan homestay atau menjadi pemandu lokal.

Tantangan utama dalam pengelolaan tebing adalah sebagian besar lahan merupakan milik pribadi. Hal ini memerlukan inisiatif dan kesadaran dari pemilik lahan. Oleh karena itu pendekatan partisipatif menjadi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan keselamatan area panjat tebing Songan. (*).

Kontributor || Humas IMPA Akasia
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.