“Menjemput Harimau Jawa” : Menyelamatkan Hutan Jawa Melalui Ekspedisi Pencinta Alam

Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa, Menyelamatkan Hutan Jawa melalui ekspedisi Pencinta Alam Indonesia. (WARTAPALA INDONESIA/Dhiky Santoso)

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Perdebatan masih atau tidaknya Harimau Jawa (Pantheratigris sondaica) terus bergulir sejak IUCN menetapkannya terancam punah dan dinyatakan punah pada tahun 1973. Pernyataan selanjutnya didukung oleh WWF pada tahun 1996 setelah melakukan penelitian di TN Meru Betiri dengan menggunakan kamera penjebak sistem injak.

Tidak sedikit praktisi maupun akademisi ikut mengamini pernyataan ini. Apalagi foto sosok Harimau Jawa tidak pernah ada setelah foto terakhir akhir tahun 1938. Kondisi dilapangan, masyarakat pinggiran hutan masih kerap memperbincangkan keberadaan Harimau Jawa.

Apakah karena ada warga melihat jejak, kotoran, cakaran, suara auman atau bertemu secara langsung. Tidak hanya masyarakat pinggiran hutan, ada cukup banyak orang di luar komunitas pinggiran hutan yang meyakini keberadaan Harimau Jawa.

Diantaranya bahkan menyatakan bertemu langsung. Dan wilayah pertemuan atau bukti-bukti keberadaan Harimau Jawa tersebut tidak hanya di TN Meru Betiri sebagai kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai habitat terakhir harimau Jawa. Tapi menyebar, dari ujung barat Pulau Jawa, Provinsi Banten sampai Ujung Timur.

Ekspedisi Harimau Jawa Kelompok Pencinta Alam pada tahun 1997 di TN Meru Betiri telah mengindikasikan Harimau Jawa belum punah. Berbagai temuan terdokumentasikan memperkuat bebagai data dan informasi keberadaan Harimau Jawa.

Baik yang bersumber dari masyarakat pinggiran hutan, petugas pemerintah pengawas hutan, TNI, peneliti maupun pemburu binatang liar yang juga menemukan bukti-bukti keberadaan Lodaya atau Gembong.

Tidak sedikit aktivis lingkungan yang lebih memilih setuju pernyataan punah demi untuk melindungi keberadaan Harimau Jawa. Dengan pernyataan punah, Karnivor tersebut dapat bebas menjelajah habitatnya dengan aman dan berkembang biak.

Namun argument ini bertolak belakang dengan harapan. Perburuan Harimau Jawa justru menjadi lebih bebas. Tidak ada hokum berburu hewan yang sudah punah. Jika pun ada informasi perburuan, akan disebut sebagai mitos atau mengada-ada.

Kondisi ini terbukti dengan terbunuhnya Harimau Jawa akibat perburuan dan terjebak tahun 2012 – 2014. Bukti fisik berupa kulit dan gigi harimau dapat terdokumentasikan langsung dari sumbernya.

Lebih jauh, anggapan punah selain akan mengabaikan berbagai data dan informasi yang berkembang, dapat berimplikasi pada hutan Jawa sebagai habitat Harimau Jawa. Alih fungsi hutan akan mengalami percepatan dengan berbagai alasan.

Pembangunan adalah kata sakti yang dapat diterjemahkan dengan berbagai bentuk kegiatan. Rencana pertambangan emas di kawasan Meru Betiri adalah salah satu contoh, bagaimanapun hanya Harimau Jawa dijadikan alas an tidak ada alas an mempertahankan kawasan konservasi karena yang dilindungi telah punah.

Kondisi serupa juga dapat dilihat tumbuhnya pembangunan fisik pada kawasan hutan untuk meningkatkan daya tarik wisata. Tekanan terhadap hutan di Jawa Juga informasi dari berbagai sumber menjadi dasar ekspedisi lanjutan, baik skala kecil maupun besar.

Dilakukan secara mandiri maupun dengan mendapatkan dukungan dari donatur. Tahun 1999 dilakukan ekspedisi lanjutan di kawasan gunung Slamet dan 2005 di Gunung Ungaran. Ekpedisi mandiri dilakukan di Kawasan Gunung Raung tahun 2012 dan Perbukitan Pembarisan Jawa Barat 2013.

Berbagai temuan perjalan selama lebih dari 20 tahun memperkuat keberadaan Harimau Jawa. Temuan-temuan tersebut terdokumentasikan melalui foto, cetak jejak memalui media gips, data rambut, fases maupun catatan-catatan lapang, buku, dan sebagainya. Foto dari video petugas TN Ujung Kulon pada 25 Agustus 2017 kembali mengangkat isu keberadaan Harimau Jawa.

Sekalipun foto tersebut mengidikikasikan sebagai Macan Tutul dari ciri yang ada, namun menyisakan hipotesis lain tentang keberadaan Harimau Jawa. Selain, berbagai data dan informasi menempatkan TN Ujung Kulon merupakan salah satu habitat Harimau Jawa.

Sebagai habitat, TN Ujung Kulon telah dibuktikan dengan ditemukannya jejak kaki dengan ukuran 14 x 16 cm dan seorang anggotaTNI menyatakan telah bertemu dengan harimau Jawa dengan yang dikuatkan dengan sumpah.

Sebagai bagian upaya perlindungan dan penyelamatan Harimau Jawa sebagai spesies dan habitatnya serta perlindungan atas hutan-hutan Jawa untuk keberlanjutan kehidupan, menjadi strategis untuk memberikan ruang peran Pencinta Alam. Sebagai komunitas peduli lingkungan, Pencinta Alam telah membuktikan dengan berbagai peran, baik sebagai individu maupun kelompok dalam satu ikatan KODE ETIK PENCINTA ALAM.

Ekspedisi Pencinta Alam “Menjemput Harimau Jawa” adalah bentuk kongkrit peran aktif Pencinta Alam dalam kontek mandiri melakukan upaya perlindungan dan penyelamatan lingkungan. Ekspedisi  yang akan dikemas dalam manajemen kolaborasi ; Pemerintah melalui KLHK – TN Ujung Kulon, Pencinta Alam dan masyarakat tempatan.

Ekspedisi, selain sebagai cara memperkuat data dan informasi lapang kebaradaan Harimau Jawa, juga menjadi bagian dari proses belajar, membangun kesadaran kritis serta memperkuat komitmen para pihak dalam melindungi berbagai aset penghidupan secara adil dan berkelanjutan.

Kontributor || Dhiky Santoso

Editor || A. Phinandhita P.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan