Menyusuri Surga Tersembunyi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Caption foto: Tim eksplorasi Lawalata IPB saat lakukan pendataan lokasi mulut gua di Gunung Bongkok. (WARTAPALA INDONESIA/ Ziadatunnisa Ilmi Latifa)

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Kawasan karst merupakan bentukan alam yang khas. Terbentuk akibat proses hidrologi dan berfungsi sebagai pensuplai kandungan air.

Menurut Ahmad Munawir, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dalam webinar Eksplorasi karst Lawalata IPB 2020, potensi kawasan karst di TNGHS masih belum banyak diteliti, hal tersebut merupakan peluang bagi teman-teman pecinta alam atau peneliti untuk melakukan riset tentang kawasan karst di wilayah Halimun-Salak.

Eksplorasi kawasan karst yang dilakukan oleh Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Lawalata IPB pada September 2020 terdiri dari tiga kajian, yakni inventarisasi atau pendataan lokasi mulut gua, melakukan pemetaan gua, serta melakukan inventarisasi biota gua yang ditemukan.

Meski dilaksanakan di tengah situasi pandemi, ekspedisi ini dapat berjalan lancar dengan menerapkan protokol kesehatan. Menurut Ketua Tim, Beibi Widya Hutasoit (L-412), ekspedisi ini telah dirancang sejak akhir tahun 2019 dan menjadi tantangan tersendiri ketika melakukannya bersamaan dengan aktivitas kuliah secara daring.

Walau begitu, tim ekspedisi tetap mampu membagi waktu dan tenaga antara perkuliahan dan kegiatan eksplorasi gua. Selama eksplorasi, tim berhasil memetakan lima gua dan menemukan 57 titik yang berupa mulut gua, gua/aven, dolin dan air keluar.

Lima gua yang dipetakan yaitu Gua Keramat, Gua Karang, Gua Guling, Gua Otjang, dan Gua Zonke. Titik lokasi persebaran mulut gua, gua/aven, dolin dan air tersebar di Desa Hariyang, Desa Pasir Reuih, Desa Jagaraksa, dan Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Kebupaten Lebak, Banten.

Lokasi mulut gua yang ditelusuri oleh tim eksplorasi Lawalata IPB tersebar di 4 desa yang berbeda pada Kecamatan Sobang dan Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten. Metode inventarisasi persebaran gua diawali dengan melihat peta persebaran batuan gamping yang diperoleh dari Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM).

Berdasarkan peta tersebut, tim kembali mengkonfirmasi keberadaan mulut gua dengan bertanya kepada masyarakat sekitar kawasan dan kemudian memvalidasi data dengan melakukan survei pencarian gua.

Alat yang digunakan adalah GPS dan kamera sebagai perekam titik koordinat lokasi temuan gua serta tipe bentuk gua. Tim berpencar dan menyisir bukit yang diduga memiliki potensi karst dengan melihat jenis batuan atau aliran air.

Gua yang berhasil dipetakan tim berada di Desa Hariyang dengan karakteristik empat horizontal (Gua Keramat, Gua Karang, Gua Guling, Gua Otjang) dan satu vertikal (Gua Zonke) dengan kedalaman 8 meter.

Mulut Gua Keramat, Gua Guling dan Gua Zonke ditemukan berada di puncak bukit. Berbeda dengan Gua Karang dan Gua Otjang yang ditemukan di sisi bukit.

Lokasi Gua Keramat berada di kompleks karst Sanghiang, sedangkan Gua Guling dan Gua Zonke berada di kompleks karst Mandala, sementara itu Gua Karang dan Gua Otjang berada di kompleks Cidikit.

Pemetaan gua dilakukan dengan metode maju (forward methode) dan memakai teknik bottom to top serta top to bottom. Gua terpanjang yang berhasil dipetakan tim adalah Gua Keramat dengan panjang lorong 200,59 meter.

Gua Keramat merupakan gua wisata yang dikelola oleh masyarakat Desa Hariyang. Gua terpendek yang dipetakan adalah Gua Zonke dengan panjang lorong 10 meter.

Teknik SRT (single rope technique) digunakan untuk menelusuri Gua Zonke. Istilah “Zonke” diambil karena pada awal menemukan mulut gua, ekspektasi tim terhadap gua ini adalah menemukan sebuah ornamen, biota, atau melihat keindahan gua di dalamnya, namun sayang ekspektasi tidak seindah realita.

Gua Otjang merupakan satu-satunya gua yang memiliki aliran air dan berhasil dipetakan tim. Gua ini di dalamnya memiliki lorong sempit yang berisi air (sump) sehingga menjadi tantangan tersendiri ketika melewatinya. Beberapa ornamen yang ditemukan di dalam lorong gua adalah flowstone, pilar, stalaktit, stalakmit dan gordyn.

Selain melakukan penelusuran dan pemetaan gua, tim juga mengumpulkan data inventarisasi biota gua. Inventarisasi biota dilakukan pada setiap gua yang dipetakan.

Hasil ekplorasi ini menunjukkan bahwa hampir 60% lebih biota yang ditemukan dalam gua adalah jangkrik, sisanya adalah dari jenis arthropoda seperti laba-laba, kalacemeti, dan kaki seribu. Di beberapa gua juga ditemukan kelelawar, tokek, cacing, bahkan siput.

Kawasan karst di wilayah Gunung Bongkok menyimpan surga tersembunyi, yang memiliki nilai-nilai penting untuk kehidupan makhluk hidup, baik itu manusia, tumbuhan, dan juga hewan. Keberadaan kawasan karst perlu dijaga secara berkelanjutan.

Karena batuan karst merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan, perlu waktu ratusan bahkan jutaan tahun untuk membentuk bentang alam atau ekosistem karst. Hasil dari eksplorasi ini dapat dijadikan data awal (baseline) yang berguna untuk masyarakat ataupun pengelola kawasan demi kelestarian surga tersembunyi, karst Gunung Bongkok.

Kontributor || Ziadatunnisa Ilmi Latifa, WI 200213

Editor || Amita Pradana Putra, WI 150002

Penggunaan GPS untuk temukan koordinat gua.
Tim ekspolarasi Lawalata IPB saat berada di dalam gua.
Salah satu tim saat lakukan eksplorasi kawasan karst.

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: