Merefleksikan Hidup dari Olahraga Arung Jeram

Caption foto: Potret saat berarung jeram. (WARTAPALA INDONESIA/ M. Fulkun Nada)

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Arung Jeram merupakan olahraga yang dilakukan di sungai dan memiliki resiko bahaya yang cukup tinggi. Dari berarung jeram kita bisa belajar sedikit tentang kehidupan.

Bahwa hidup seperti air yang mengalir itu menurut saya membahayakan. Kenapa?

Kita semua paham sifat air itu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Bagiku sangat menyedihkan kalau kita sebagai manusia hanya menunggu hingga sampai di titik terendah tanpa berjuang.

Saya lebih sepakat hidup ibarat bermain arung jeram.

Arus sungai sebagai  kehidupan. Ranting pohon sekitar sungai dan bebatuan sebagai hambatan untuk kita berkembang. Perahu dan peralatan diri sebagai alat perjuangan, dan dayung sebagai ukuran akan dibawa kemana arah hidup kita.

Seringkali kita meremehkan sesuatu, padahal setiap hal membutuhkan perencanaan yang matang untuk menjalaninya.

Begitu halnya saat akan melalui jeram di sungai. Dimana kita tidak pernah tahu seberapa bahayanya jeram yang akan kita lalui.

Kita harus mendayung dan mengarahkan perahu agar bisa selamat serta merasakan keseruan saat melewati jeram tersebut. Dibutuhkan juga kerjasama tim untuk berhasil melewatinya.

Bayangkan saja kalau kita hanya mengikuti arus, resiko bahaya saat melalui jeram akan lebih tinggi.

Kadang juga sering kita beranggapan mampu hidup sendiri tanpa membutuhkan orang lain.

Kembali lagi ke analogi arung jeram, dalam perjalanan menyusuri sungai kita akan dihadapkan berbagai rintangan mulai dari strainer sampai resiko diri masuk undercut. Untuk melalui rintangan atau hambatan saat kita mengarungi sungai tidak bisa dilakukan seorang diri, apalagi kalau sampai perahu dalam kondisi wrap.

Selain dari itu, kemampuan atau skill dalam diri setiap manusia harus benar-benar diasah. Karena akan menambah rasa percaya diri dalam hidup, seperti halnya rafting (sebutan lain arung jeram) setiap anggota tim harus bisa selfrescue, yaitu upaya penyelamatan diri.

Selfrescue sendiri ada banyak tekniknya yang harus kita ketahui, supaya saat terjadi kecelakaan kita tau apa yang harus kita lakukan. Selain itu kita harus tau posisi dalam diri kita, yang berposisi sebagai pendayung depan hingga skiper melakukan sesuai fungsinya tanpa mengedepankan ego masing-masing.

Saat pengarungan di sungai kita akan menemukan pemandangan indah sepanjang perjalanan. Dari peristiwa itu kita belajar bahwa sebelum titik keberhasilan dicapai, kita harus belajar menikmati perjalanan, proses demi proses kita alami seiring kedewasaan yang bertumbuh.

Dari diri sendiri untuk perubahan sekitar. Mengapresiasi segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita.

Hidup kalau hanya sekedar hidup babi hutan juga hidup, petuah Buya Hamka yang bisa kita refleksikan.

Kontributor || M. Fulkun Nada

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: