Musibah KM Mutiara Sentosa I : Mampukah Masalembu Sebagai FR?

Foto koleksi : pydnew.files.wordpress.com

Wartapalaindonesia.com, OPINI – Kembali kita dikejutkan dengan musibah transportasi KM Mutiara Sentosa I di perairan Masalembu dalam perjalan dari Surabaya menuju Balikpapan. Sebagaimana dilaporkan Tempo (21/5), dalam Musibah kapal yang mengangkut 197 orang termasuk ABK ini, menewaskan 5 orang dan beberapa orang lainnya luka luka.

Kejadian ini menambah rentetan kecelakaan di perairan Masalembu (juga dikenal dengan sebutan Masalembo), yang banyak dikenal sebagai segitiga bermuda Indonesia. Catatan musibah yang terbilang fenomenal bermula pada era 1981 KM Tampomas II terbakar menewaskan ratusan jiwa dan ratusan lainnya dinyatakan hilang.

Peristiwa ini menjadi catatan kelam musibah transportasi laut Indonesia. Disusul pada 2006 KM Senopati Nusantara dan pada 2007 secara beruntun terjadi musibah Pesawat Adam Air, KM Mutiara Indah dan KM Fajar Mas. Catatan terakhir pada 2009 KM Teratai Prima juga mengalami nasib naas di wilayah ini.

Sebenarnya Masalembu atau orang juga mengenal dengan istilah Masalembo, adalah nama pulau yang terdiri atas 2 desa yaitu Sukajeruk dan Masalima. Catatan musibah tersebut memberikan isyarat betapa berbahayanya perairan masalembu ini. Mau tidak mau menjadikan Masalembu harus berperan sebagai First Responder (FR) dalam setiap musibah yang terjadi.

Syarat Sebagai FR

Michael Antony Ugiono founder Survival Skill Indonesia (SSI) menjelaskan sebuah wilayah dapat menjadi FR handal jika memiliki 4 hal. Pertama masyarakatnya memiliki kemampuan Medical First Responder (MFR)  memadai; kedua masyarakatnya memiliki perangkat MFR memadai; ketiga faktor sosial budaya mendukung sebagai FR dan keempat infrastrukturnya memadai mendukung FR.

Sebenarnya di Masalembu pernah ada lembaga relawan untuk tanggap bencana atau kecelakaan. Namun sejauh ini fungsi dan perannya belum optimal, terbukti masih minimnya pembinaan dan pelatihan. Demikian juga peralatan MFR belum dimiliki dalam melaksanakan MFR.

Dari aspek sosial budaya, masyarakat masalembu termasuk multietnis dengan 3 etnis dominan yaitu Madura, Bugis dan Mandar. Memang karakter multietnis menurut Suntoo & Chitoo berpeluang menjadikan konstruksi sosial budaya yang fragile, namun sebaliknya menurut Voght juga berpeluang menimbulkan konstruksi sosial budaya yang progresif.

Dan ternyata 3 etnis dominan yang memiliki sterotip “keras” ternyata dalam pembaurannya menimbulkan konstruksi sosial budaya yang progresif. Penilaian Modal sosial pada aspek norm, trust dan networking menjukkkan level tinggi. Begitu pula dalam akulturasinya membuahkan kearifan lokal yang sangat baik dalam mempererat nilai saling tolong menolong.

Sehingga tidak heran harmoni kehidupan masyarakat jauh dari konflik. Justru pemicu konflik muncul dari kehadiran orang luar yang melakukan penangkapan ikan menggunakan alat yang dinilai tidak ramah lingkungan.

Sementara itu infrastruktur di Masalembu untuk bertindak sebagai FR terdapat 1 Puskesmas dengan 1 dokter 10 paramedis serta 19 bidan. Telah dilengkapi juga dengan ruang rawat inap 8 kamar, namun belum ada kamar operasi untuk kondisi MFR.

Dari aspek keamanan sudah terdapat kantor Polsek dan Koramil. Beberapa tahun lalu sebenarnya sudah ada pos TNI AL, namun saat kunjungan 2015 pos tersebut sudah tidak ada. Sementara itu terkait dengan kelautan kantor syahbandar juga telah ada di dekat demaga Masalembu.

Dari infrastuktur penunjang lain, listrik masih menggunakan tenaga diesel yang dioperasikan pada jam tertentu, bahkan tak jarang ketika terjadi kendala pasokan BBM karena kendala kendala musim misalnya, maka listrik di pulau ini terkendala. Jaringan komunikasi telah hadir beberapa operator seluler, meski belum menjangkau seluruh pulau seluas 23, 86 Km2.

Jalan raya juga sudah ada mengitari pulau namun kondisinya memprihatinkan utamanya di utara pulau. Dukungan transportasi udara juga telah tersedia dengan adanya landasan bekas El nusa yang pernah menempati pulau ini.

Peran Masyarakat sebagai FR              

Sebagai wilayah terdekat dari spot rawan terjadinya kecelakaan memaksa masyarakat Masalembu untuk sigap berperan sebagai FR. Ada berbagai model evakuasi korban musibah yang dapat dilakukan oleh sebuah wilayah terdekat bencana.

Salah satunya adalah model dasar evakuasi korban musibah yang dikemukakan Patterson, Weil dan Patel (2010) menyebutkan bahwa terdapat tiga aspek penting yaitu individual, event dan persepsi risiko. Aspek individual akan berkaitan dengan sosioekonomik / demografi, pengalaman/ pengetahuan dan lokasi.

Sementara aspek event berkaitan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan bahaya yang mengancam, infrastruktur untuk keselamatan dan faktor pengiriman pesan musibah. Terakhir persepsi risiko diperlukan mengidentifikasi risiko musibah sehingga dapat mempersiapkan dan memutuskan solusi yang tepat.

Ketiga model ini perlu dibangun dan dijaga serta diasah kesiapan dan ketersediaannya. Dikarenakan masing masing ketiga aspek tersebut saling memiliki keterkaitan maka tidak dapat ditinggalkan antara satu aspek dengan aspek lainnya.

Hal ini dilakukan agar nantinya ketika terjadi musibah (yang kita semua tak mengharapkan terjadi) Masalembu mampu sebagai FR yang siap sedia dalam segala hal – IN “OMNIA PARATIA. 

Penulis : Ihsannudin (Dosen Universitas Trunojoyo Madura , Anggota Survival Skill Indonesia Chapter Jawa Timur dan Kader Koservasi Kementeria LH dan Kehutanan)

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Tentang Penulis

Ihsannudin (Dosen Universitas Trunojoyo Madura , Anggota Survival Skill Indonesia Chapter Jawa Timur dan Kader Koservasi Kementeria LH dan Kehutanan)
Ihsannudin (Dosen Universitas Trunojoyo Madura , Anggota Survival Skill Indonesia Chapter Jawa Timur dan Kader Koservasi Kementeria LH dan Kehutanan)

bagikan

1 Komentar

Tinggalkan Balasan