Oki Lutfi, Product Designer Eiger Adventure

Caption foto: Oki Lutfi dengan Keba dalam Ekspedisi Black Borneo di Gunung Beriun, Kalimantan Timur pada tahun 2016 (foto oleh: @oki_lutfi). (WARTAPALA INDONESIA/ Nindya Seva Kusmaningsih)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Di balik carrier dan daypack indah hasil produksi PT. Eigerindo MPI, terdapat sosok penting di dalam prosesnya. Oki Lutfi, seorang product designer hebat yang dimiliki oleh Eiger sejak 17 tahun lalu.

Pria lulusan ITENAS Bandung ini memegang ahli dalam Technical Backpack. Meski tak ada background pegiat alam, namun Oki mampu menghasilkan desain yang digandrungi para pegiat outdoor.

Soul desain yang dia miliki dibentuk oleh pengalaman-pengalaman dalam beraktifitas outdoor. Salah satunya sering berkegiatan di alam terbuka bersama Tim Eiger Adventure Service Team (EAST).

Berkat soul desain tersebut dia berhasil mendapatkan dua penghargaan dari hasil desainnya.

Excelsion 75 liter, menyabet penghargaan Good Design Indonesia (GDI) Award yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan. Kemudian Keba, berhasil mendapatkan penghargaan di Indonesia Good Design Selection (IGDS) yang diadakan oleh Kementerian Perindustrian.

Sebelum mendesain untuk edisi khusus, pria kelahiran 11 Oktober ini harus terjun langsung ke lapangan untuk melakukan riset. Seperti edisi Black Borneo, dia melakukan riset selama 12 hari dengan menembus puncak Gunung Beriun, Kalimantan Timur.

Oki memerlukan waktu satu tahun untuk proses pengembangan desain serial khusus Black Borneo. Sedangkan untuk desain daily acvity rata-rata prosesnya hanya memakan waktu tiga bulan

Seluruh desain produk Eiger memang diadopsi dari kebutuhan dan manfaatnya, bagaimana medannya maka si pembuat diajak untuk terjun langsung. Supaya produk-produk nantinya kaya akan makna dan penuh arti. Agar konsumen merasakan kenyamanannya dan membuat elegan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti Keba, ini adalah salah satu hasil adopsi dari kekayaan lokal masyarakat sekitar Gunung Beriun. Dengan maksud bahwa menggali kekayaan lokal bisa diangkat dan ditawarkan menjadi produk pelengkap masakini.

Mari kita kenal lebih dekat pria kelahiran Bandung, 42 tahun yang lalu ini.

Bagaimana bisa menghasilkan desain-desain yang menarik?

Semuanya berawal dengan mencari ide ataupun gagasan-gagasan sebelum melakukan desain. Untuk edisi khusus biasanya mencari ide lewat riset melalui ekspedisi, seperti Black Borneo.

Apa saja edisi khusus hasil desain Oki?

Ada Excelsion 75 liter, Keba series dari Black Borneo, ada juga series ekspedisi 28 gunung pada tahun lalu.

Tanpa adanya background pegiat alam, bagaimana anda menyeimbangkannya selama bergabung di Eiger?

Petualang adalah tugas kantor, yang merupakan bagian dari pekerjaan dan tanggungjawab. Jadi, sudah terbiasa dengan ritmenya. Selain itu ada juga pendampingan dari tim expert seperti Kang Galih Donikara, Kang Mamay S. Salim dari EAST.

Apa saja kesulitan maupun kendala yang terjadi saat proses desain?

Utamanya kesulitan teknologi. Untuk yang teknologinya tidak tersedia di Indonesia harus mencari ke luar negeri dan ini memerlukan waktu lebih lama dibandingkan jika teknologinya ada di Indonesia

Apa Oki hanya membuat design saja lalu menyerahkan ke tim selanjutnya?

Tidak, setelah desain jadi, maka harus nyari meterialnya, treatment-nya, mengawal produk tersebut sampai launching bahkan sampai bagaimana market meresponnya.

Melihat harga Keba yang mencapai 2,5 juta, bagaimana menurut pendapat Oki?

Sebenarnya melakukan negosiasi ke manufacture juga, bagaimana nanti ke pasarnya supaya harga bisa terjangkau untuk konsumen. Meski dengan harga yang cukup tinggi dan penjualannya pelan, namun Keba berhasil memenuhi target.

Apa hanya berprofesi sebagai product designer saja atau memiliki usaha lain?

Memotret juga, biasanya saat ekspedisi, karena tidak ada yang bisa jadi ditugaskan untuk memotret. Jadi memotret saat ekspedisi juga bagian kerjaan dari Eiger.

Apa setelah 17 tahun menjadi bagian dari Eiger kini mendaki gunung juga menjadi hobby?

Naik gunung hanya sebagai bagian dari pekerjaan. Gunung yang pernah didaki juga tak pernah menghitungnya karena lebih berorientasi ke prosesnya. Seringnya ke gunung Gede Pangrango karena dekat lokasinya dari Bandung

Bagaimana cara menyikapi suka dan duka selama bekerja?

Ya bagaimana bisa menikmati kerjaan, kalo ada kendala jangan terlalu dipusingin tapi segera mencari solusinya.

Lalu, pesan untuk para pegiat alam sendiri apa?

Jangan buang sampah sembarangan deh.

Nah itulah sedikit wawancara dengan sosok product designer dari Eiger yang memiliki hobby running.

“Untuk apapun profesinya, berkarya itu harus total jangan tanggung. Supaya kita bisa memberi manfaat ke berbagai pihak,” tutup pria yang menyukai buah-buahan ini.

Sekarang kita tahu kan ada siapa dibalik produk Eiger yang kece dan memenuhi kebutuhan konsumen di era milenial saat ini.

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Editor || A. Phinandhita P, WI 150001

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: