Caption foto : Peserta usai menyusunan SOP (Standart operating procedur atau standar operasional prosedur) Tindakan Antisipatif di Kabupaten Pandeglang. (WARTAPALA INDONESIA / Ratdita Anggabumi)
WartapalaIndonesia.com, PANDEGLANG – Yayasan ADRA Indonesia (Adventist Development and Relief Agency), memfasilitasi penyusunan pedoman dan protokol SOP (Standart operating procedur atau standar operasional prosedur) Tindakan Antisipatif di Kabupaten Pandeglang.
Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis, 8 Juni 2023 di Horison Altama Pandeglang tersebut, bertujuan untuk mengembangkan pedoman dan protokol kesiapsiagaan darurat.
Sebanyak 34 peserta dari 15 organisasi menghadiri koordinasi dan konsultasi serta diskusi kelompok fokus (FGD) yang berkelanjutan.
“Perlu adanya koordinasi sebelum terjadi bencana, sehingga data atau informasi terbaru dapat diketahui oleh semua instansi terkait. Pembentukan Tim Reaksi Cepat yang mewakili setiap instansi dapat menjadi solusi untuk saling berbagi data,” kata Deni dari BPBD Pandeglang.
Sementara Rahmat dari BPBD-PK (Pemadam Kebakaran) Pandeglang mengatakan, “Keselamatan hewan ternak saat terjadi bencana, juga merupakan bagian dari manajemen bencana, dan telah diatur oleh pemerintah sejak letusan Gunung Merapi, di mana masyarakat enggan dievakuasi karena tidak ingin meninggalkan hewan ternak mereka”.
Para peserta sepakat, koordinasi antar berbagai instansi selama fase prabencana dapat dilakukan secara rutin agar informasi tidak simpang siur, dan dapat dilakukan dengan menyusun SOP tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi kekeringan, dengan mempertimbangkan beberapa faktor dimana, Kabupaten Pandeglang memiliki risiko kekeringan yang terjadi setiap tahun selama musim kemarau. Sehingga diperlukan antisipasi dalam menghadapi kekeringan. Karenanya perlu dibuat landasan pelaksanaan Siaga Darurat Kekeringan.
“Perubahan perilaku dan pandangan masyarakat terkait SOP tanggap darurat perlu diperkuat. Pendekatan yang baik kepada masyarakat diperlukan, agar mereka dapat merasakan dampak yang lebih baik,” ujar Ahmad Farid dari Desk Relawan Banten.
Tatang Rusmana, selaku Koordinator Layanan Data & Informasi BMKG Serang, berharap, apabila SOP sudah tersusun dengan baik, diharapkan semua pihak terkait dapat bersinergi dan berkolaborasi dalam mengatasi dampak yang tidak diinginkan dari bencana kekeringan.
Sedangkan Aminuddin Magatani, Manajer Proyek Forecast based Financing for Anticipatory Action (FFACT) menyatakan, “Penyusunan SOP Kesiapsiagaan Bencana merupakan langkah untuk membantu semua instansi pemerintah (OPD) dalam menentukan langkah yang harus diambil saat menghadapi ancaman yang kejadiannya secara berangsur-angsur dan ada tanda-tanda sebelum terjadi bencana (disaster slow on-set).
“Maka pertemuan tidak akan sia-sia karena ini merupakan awalan dan dapat menjadi acuan untuk menyusun SOP bagi jenis ancaman bencana lain,” tambahnya.
Pernyataan penutup disampaikan oleh Ramet Supena dari Aranya Mahidhara. Katanya, “Membangun perspektif bencana bagi masyarakat dan aparatur pemerintahan adalah hal yang penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana dan ini selalu menjadi bahan diskusi di Desk Relawan Banten, sebagai forum relawan se-Banten”. (RA)
Kontributor || Ratdita Anggabumi
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)