WARTAPALA INDONESIA

Pencinta Alam dalam Memaknai Slayer

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Slayer, merupakan benda atau atribut yang tidak asing lagi bagi anggota organisasi pecinta alam. Sebab, benda ini yang selalu menemani dan melekat pada tubuh mereka, khususnya pada saat melaksanakan kegiatannya.

Bahkan, sudah menjadi aturan agar atribut ini dipakai pada saat ada acara atau kegiatan penting, serta tidak diperbolehkan memakainya diluar kegiatan. Dan bagi yang melanggarnya, akan diberi sanksi atau hukuman.

Bagi sebagian orang, mungkin akan bertanya-tanya, apa sih slayer itu? kenapa bisa sering menjadi sebab penghukuman bahkan sebab pencabutan hak-hak  anggota organisasi dimana orang tersebut bergabung, kalau sampai salah dalam menempatkan atau menggunakannya?

Slayer, berbentuk kain segitiga yang berukuran 1×1,5 m, bisa lebih besar atau kecil dan disudutnya terdapat logo atau lambang organisasi yang bersangkutan. Warnanya pun bisa  beragam, tergantung pilihan suatu organisasi yang akan memakainya.

Bagi seorang pecinta alam, slayer mempunyai nilai dan harga yang tak bisa diukur dengan uang dan materi atau dengan apapun. Karena untuk mendapatkannya, membutuhkan pengorbanan dan perjuangan keras yang menguras tenaga, fikiran dan mental.

Padahal, slayer ini bisa didapatkan dengan mudah dimana saja, termasuk di pasar-pasar. Karena hanya dengan bermodalkan uang  kira-kira Rp 25.000 saja, sudah bisa didapatkan tanpa harus menguras tenaga dan fikiran.

Tapi hal itu, tentu saja sangat jauh berbeda nilainya dengan mendapatkannya melalui pengorbanan dan perjuangan keras. Karena, yang menjadi tolak ukur bernilai tidaknya sesuatu, dilihat dari seberapa besar perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu itu.

Namun, seberapa berharga pun slayer itu, seseorang  yang ingin menjadi bagian dari organisasi pecinta alam, harus menyadari bahwa bukan itu yang menjadi tujuan utama atau ingin didapatkan ketika telah menjadi bagian dari organisasi.

Karena, pada masa sekarang ini, fenomena yang terjadi di beberapa kalau enggang dikatakan semua organisasi pecinta alam, ketika melakukan pengkaderisasian, mereka menekankan kepada kader-kadernya agar slayer ini dijaga dan disimpan dengan baik, serta melarang di letakkan disembarang tempat, terutama di anggota badan bagian bawah.

Slayer ini, seakan-akan dianggap sebagai mahkota raja yang harus ditinggikan, dijaga dan disucikan. Yang membuat mereka (anggota organisasi pecinta alam) lupa, bahwa bukan cuma slayer saja yang harus dijaga dan disucikan.

Banyak hal lain yang lebih utama atau lebih pantas dijaga dan disucikan, dan hal itu mempunyai peran penting untuk kesuksesan suatu organisasi, dibandingkan dengan slayer.

Apakah slayer yang dianggap sebagai mahkota raja, ditinggikan dan disucikan mempunyai peran penting untuk keberhasilan atau kesuksesan suatu organisasi? Rasa-rasanya tidak demikian!

Slayer, tidak lebih dari sekedar penghargaan yang dijadikan sebagai tanda seseorang telah resmi atau lulus menempuh proses Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR), selama beberapa hari atau minggu, bahkan bulan. Dan kemudian slayer tersebut dijadikan sebagai atribut dan dipakai pada saat menghadiri atau melakuakan acara-acara atau kegiatan-kegiatan yang dianggap penting.

Yang harus diutamakan anggota organisasi pecinta alam untuk dijaga, ditinggikan dan disucikan adalah sifat dan sikapnya, baik  terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungan alam bebas.

Sifat dan sikap inilah yang memiliki peran penting untuk kesuksesan suatu organisasi. Karena kesuksesan suatu organisasi, berawal dari kesuksesan para penghuninya.

Inilah tujuan dasar pelaksanaan Diklatsar bagi calon anggota organisasi pecinta alam. Diberikan bimbingan dan pedidikan jasmani maupun rohani, serta melatih ketahanan fisik dan mentalnya.

Dengan demikian, melalui bimbingan, pendidikan dan pelatihan tersebut, diharapkan bisa melahirkan sosok-sosok pecinta alam yamg memiliki sikap relegius tinggi dan tangguh dalam menjaga dan melestarikan alam ini. Dan akan menjadi contoh yang baik dilingkungan masyarakat, khusunya dilingkungan sesama pecinta alam.

Tulisan ini merupakan percikan kontemplasi penulis, bahwa sebagian anggota organisasi pecinta alam, menganggap slayer sebagai sebuah mahkota raja yang harus dijaga dan disucikan.

Tak mengapa slayer itu diperlakukan seperti mahkota raja, asalkan tidak sampai membuat kita lupa, bahwa yang paling pantas untuk dijaga serta disucikan adalah hati dan perbuatan kita.

Karena, seberapa pun berharga dan bernilainya slayer itu, tidak akan berarti bila sifat dan perbuatan pemiliknya tidak dijaga dan disucikan.

Penulis : Spala Silanggaya

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: