Peduli Karst, Tolak Pabrik Semen di Kaltim

Caption foto: Ilustrasi gambar Karst Sangkulirang Mangkalihat (foto ini diambil di kawasan Desa Kasungai, Kabupaten Paser). (WARTAPALA INDONESIA/ Muh. Riskiullah)

Wartapalaindonesia.com, KALIMANTAN TIMUR – Berbagai elemen masyarakat yang tergbung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Karst Kalimantan Timur, tetap bersikeras untuk menolak adanya pabrik semen.

Gambarannya, pabrik semen yang nantinya berkapasitas 8 juta ton/tahunnya akan dibangun di kawasan sekitar wilayah Kutai Timur (Kutim). Pembangunan pabrik semen ini seakan mendapatkan prospek yang mulus, dilihat dari pertemuan antara Pemprov Kaltim dengan pemerintah provinsi Zheijang dan perusahaan Hongsi Holding Group Ltd, pada pertemuan Jumat, 15 Maret 2019 lalu.

Di ruang rapat lantai dua kantor Gubernur Kaltim, perusahaan asal China itu datang dan mempresentasikan rencana pembangunan pabrik semen.

Melihat adanya pertemuan itu, medapat reaksi dari Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim. Pradana Rupang, mengungkapkan jika terjadinya pembangunan pabrik semen  Kalimantan Timur akan berduka.

Dalam pertemuan tersebut, Isran Noor selaku Gubernur Kaltim mengungkapkan dalam pembangunan pabrik semen akan memperhatikan aspek lingkungan, transfer ilmu teknologi hingga menyerap tenaga kerja.

 “Berpuluh-puluh  tahun sudah lamanya, rakyat Kaltim telah melihat secara langsung kehancuran ruang hidup, mulai dari perusahaan kayu yang membabat habis hutan, minyak dan gas bumi, hingga pertambangan batu bara yang sampai saat ini telah menelan 32 korban,” tutur Rupang.

Faktanya hanya membuka peluang bagi para investor di Kaltim yang datang membawa janji, untuk mensejahterakan bagi rakyat tidak terbukti, sedangkan pada basis data terpadu Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) pada tahun 2017 ada sekitar 650 ribu jiwa masyarakat Kaltim hidup dalam garis kemiskinan.

Sedangkan pada izin usaha pertambangan yang terbanyak di wilayah Kutai Kartanegara justru menjadikan kabupaten tersebut jatuh dalam tingkat kemiskinan yang tertinggi dan disusul oleh Balikpapan, Samarinda, Kutai Timur yang juga membuka peluang bagi investasi.

Hal ini membuktikan, bahwa pengerukan sumber daya alam tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana narasi yang diproduksi Negara. Justru yang terjadi adalah penghancuran ruang hidup, mata pencaharian hilang, sumber air tercemar dan udarapun tercemar hingga anak-anak kecil mati di lubang tambang.

Menurutnya, jika pembangunan pabrik semen terus dipaksakan, kawasan karst yang membentang di Kutai Timur hingga Berau, yang sebagai sumber air kehidupan flora dan fauna, juga masyarakat akan dipertaruhkan.

Pembangunan pabrik semen di Berau dan Kutai Timur dikhawatirkan merusak seluruh wilayah tersebut hingga morfologi unik yang bernilai konservasi tinggi baik dari aspek keanekaragaman hayati, lingkungan maupun sosial akan hilang.

“Pembangunan pabrik semen akan memusnahkan mata pencaharian masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dan petani. Itulah sebabnya, kita harus bersama-sama menolak rencana pemerintah yang akan membangun pabrik semen tersebut,” tutupnya.

Kontributor || Muh. Riskiullah, WIJA Balikpapan

Editor || Jelita Sondang

Pradarma Rupang, Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim.

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: