Pejuang Konservasi di Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia ke-4

Wartapalaindonesia.com, KONSERVASI – Sekitar 150 naskah hasil penelitian tentang konservasi burung dari berbagai penjuru negeri dipresentasikan dan didiskusikan di Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia (KPPBI) ke-4 Semarang.

KPPBI merupakan salah satu event penting bagi para praktisi konservasi lingkungan, khususnya burung untuk saling bertukar informasi terkini.

Selain itu, penting juga untukmeningkatkan jejaring antara peneliti dengan pemerhati burung, pengembangan ilmu pengetahuan tentang burung, dan utamanya adalah upaya meningkatkan peran penelitian dalam mendukung konservasi burung di Indonesia.

Konferensi peneliti dan pemerhati burung Indonesia yang ke-4 ini berlangsung selama 3 hari, mulai tanggal 8 hingga 10 Februari 2018 di Auditorium Prof. Wuryatno, Universitas Negeri Semarang (UNNES) – Jawa Tengah.

KPPBI ke-4 ini terdiri dari 3 kegiatan, yaitu simposium pada tanggal 8-9 Februari 2018, Birdwatching Field Trip dan Workshop pada tanggal (10/2/2018). Pada hari ketiga (11/2/2018), peserta dapat memilih untuk mengikuti Workshop yang dilaksanakan di Auditorium UNNES atau Birdwatching Field Trip yang dilaksanakan di Danau Rawapening.

Workshop terdiri dari 3 topik, yaitu: (1) penandaan burung, (2) penelitian dan konservasi raptor, dan (3) Standarisasi Metode perkiraan populasi dan okupansi burung.

Mengusung tema “Peran Generasi Muda Dalam Penelitian dan Konservasi Burung, STOP Perdagangan Ilegal!”, diharapkan melalui acara ini dapat meningkatkan ketertarikan dan peran generasi muda untuk mau melakukan penelitian dan konservasi burung.

Juga dapat menambah peran serta bersama dalam menghentikan perdagangan ilegal yang berdampak buruk terhadap kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya burung.

Pemilihan tema ini juga disambut baik oleh pihak Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati. Terbukti, dalam diskusi Panel ini di sebutkan bahwa SRAK ditujukan utamanya adalah kepada Rangkong Gading, dan beberapa satwa prioritas lainnya.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama FMIPA UNNES, BKSDA JATENG, KEHATI, dan Internasionalisasi UNNES ini dukung juga oleh berbagai Instansi  yang bergerak di bidang konservasi. Diantaranya adalah WCS, LIPI, IPB, Suaka Elang, RAIN, Rangkong Indonesia, Burung Indonesia, Burung Nusantara, IdOU, dan masih banyak lagi.

Acara ini diikuti dengan sangat antusias oleh seluruh peserta dan tentunya memiliki kesan tersendiri dalam setiap kegiatan. Mulai dari simposium yang diisi oleh Keynote Speaker terkemuka di dunia seperti Bas Van Balen yang kita kenal sebagai peneliti sekaligus penulis buku panduan lapang pengamatan burung Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali.

Ass. Prof. Vijak Chimchome, Ph.D yang merupakan peneliti burung dari Thailand, Prof. Ani Mardhiastuti yang begitu terkenal sebagai Ornitolog Perempuan Indonesia, Riza Marlon yang selalu diingat sebagai Wildlife Photographer Senior, dan masih banyak peneliti-peneliti burung berpengalaman lainnya.

Selain Keynote Speaker, masih ada 10 orang Invited Speaker yang sengaja diundang untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan transfer informasi sambil menjelaskan hasil penelitiannya.

Diskusi ini dilakukan secara Paralel, sehingga peserta dapat memilih tema yang ingin diikuti. Tema pada diskusi paralel ini dibagi menjadi 5, yaitu (1) Burung dihabitat alami, (2) burung dihabitat termodifikasi, (3) Ekomorfoligi, Ekofisiologi, Etnoornitologi, Parasitologi, Zoonis, Perilaku dan Molekuler, (4) penangkaran dan perdagangan, edukasi, kebijakan, (5) Raptor dan burung pantai.

Tema-tema tersebut sudah mewakili seluruh lini kehidupan burung yang sangat berpeluang untuk diteliti. Meski begitu, partisipasi tentu saja tidak hanya berasal dari Keynote Speaker dan Invited Speaker, tetapi juga dari peserta pemakalah oral ataupresentator Poster.

Pemakalah oral atau presentator poster juga sangat beragam. Mulai dari mahasiswa, NGO, Citizen Science, hingga perusahan di divisi Konservasi.

Tak kalah menariknya dengan Simposium, Workshop pada hari terakhir juga dinantikan. Topik pertama adalah Penandaan burung yang dipandu oleh Mas Iwan Febrianto, atau biasa di kenal sebagai Iwan Londo dari Surabaya Bird Consultant,dan Ibu Yeni dari IPB.

Penandaan burung ini dilaksanakan di luar ruangan, sekitar Fakultas Teknik-UNNES. Tentunya, tempat ini dipilih agar penandaan burung dapat dipraktikkan secara langsung kepada peserta, sehingga peserta bisa lebih memahami materi yang disampaikan.

Topik kedua dan ketiga dilaksanakan didalam ruangan, agar peserta bisa lebih fokus berdiskusi. Topik kedua dengan judul penelitian dan konservasi raptor dipandu oleh  Pak Adam dan pemerhati raptor lainnya.

Sedangkan topik ketiga tentang Standarisasi Metode Perkiraan Populasi Dan Okupansi Burung dipandu oleh Mas Yoyok Hadiprakarsa dan Ibu Nurul L Winarni.

Berakhirnya KPPBI ke-4 di Semarang ini merupakan salah satu bentuk keberhasilan dari kerja keras dari semua pihak yang terkait. Semoga, KPPBI ke-5 yang akan dilaksanakan di Universitas Andalas- Padang di tahun depan dapat terlaksana dan dihadiri oleh lebih banyak peserta, serta terus menginspirasi. Salam Konservasi!

Kontributor : Nurlaila Fatmawati

Editor : Idfiandini Darayani

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Dokumentasi, Nurlaila Fatmawati

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.