Pendidikan di Pesisir Pulau Sepanjang

Anggota Impala UB berfoto bersama anak-anak asli pulau Sepanjang, kecamatan Sapeken, kabupaten Sumenep, Jawa Timur. (WARTAPALA INDONESIA/ Nian Nur Wahyudi)

Wartapalaindonesia.com, OPINI – Pulau Sepanjang merupakan sebuah pulau terluar yang memiliki akses sulit untuk dijangkau namun menyimpan kekayaan hayati yang menakjubkan dengan keramah-tamahan penduduk yang luar biasa.

Pulau ini berada di ujung timur kedua setelah Pulau Salaka yang termasuk dalam salah satu deretan pulau-pulau yang terletak di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kata “Sepanjang” diambil dari bentukan pulau yang membentang panjang dari timur ke barat.

Secara administratif Pulau Sepanjang terbagi atas dua desa yaitu desa Sepanjang yang terletak di ujung barat dan desa Tanjung Kiaok terletak di ujung Timur.

Desa Sepanjang terbagi lagi atas lima dusun yaitu dusun Tembing, Patemon, Cemara, Pajan Barat, Grengseng, dan Pelat.

Foto : IMPALA UB, Tim Brawijaya Sepanjang Island Research bersama Guru dan Anak Anak SDN Sepanjang VI

Desa Sepanjang memiliki angka demografi yang cukup padat dengan total kepala keluarga sebanyak 1756 KK atau 6417 jiwa, hal ini terlihat dari banyaknya rumah penduduk yang berdiri tegak di sepanjang jalan dengan jarak antar rumah saling berjauhan.

Dengan kondisi demografi tersebut memberikan keuntungan tersendiri dimana terdapat jumlah anak usia sekolah yang tinggi, mulai dari tingkat TK sampai SMA/sederajat.

Hal tersebut diperkuat oleh data kependudukan yang terdapat di desa Sepanjang, terbagi atas beberapa kriteria tingkat pendidikan mulai dari tidak/belum sekolah berjumlah 2213 jiwa, SD/sederajat berjumlah 2567 jiwa, SMP/sederajat berjumlah 825 jiwa, SMA/sederajat berjumlah 740 jiwa, Diploma berjumlah 32 jiwa, dan Strata 1 berjumlah 57 jiwa.

Dengan banyaknya jumlah tersebut menyebabkan cukup banyak sarana dan prasarana pendidikan di desa Sepanjang meskipun sebatas sampai tingkat SMA/sederajat.

Selain itu, jarak antar rumah yang saling berjauhan menjadi alasan lain banyaknya sekolah yang didirikan di Pulau ini.

Foto : IMPALA UB, Kebahagiaan anak-anak SDN Sepanjang VI

Kemudahan akses anak-anak di desa Sepanjang dalam mendapatkan pendidikan yang layak menjadi prioritas utama pemerintah setempat sehingga jarak tempuh dari ujung barat ataupun timur tidak sangatlah jauh.

Biasanya sarana dan prasarana pendidikan dibangun di dekat pemukiman penduduk dan bisa dikatakan setiap Rukun Tetangga (RT) setidaknya memiliki satu bangunan sekolah.

Pendidikan selalu menjadi topik yang krusial untuk dibicarakan. Sebab suatu cakupan wilayah akan dikatakan maju apabila memiliki tingkat pendidikan yang layak pula.

Berbicara mengenai pendidikan di pelosok pesisir yang memiliki akses yang sulit, mungkin mayoritas orang akan berpandangan bahwa orang yang tinggal di pulau terluar memiliki semangat belajar yang rendah.

Namun persepsi tersebut tidaklah selalu benar ketika kita melihat kondisi pendidikan di pelosok pesisir Pulau Sepanjang khususnya di desa Sepanjang.

Foto : IMPALA UB, Salah satu RA (Sederajat TK) di dusun Cemara desa Sepanjang

Banyaknya anak usia sekolah secara tidak langsung menyebabkan kebutuhan akan pendidikan yang tinggi pula.

Dalam memenuhi kebutuhan pendidikan tersebut maka dibangun sarana dan prasarana pendidikan yang terdapat di desa ini yang meliputi sepuluh RA, empat SD, tiga MI, satu SMP, satu SMPI, dan dua MA yang tersebar di desa Sepanjang.

Meski sarana pendidikan yang terbilang cukup, namun di beberapa sekolah masih memiliki fasilitas penunjang yang terbatas.

Sebagai contoh ruang kelas yang kurang memadai dari segi jumlah dan kondisi bangunan, ruang perpustakaan yang seadanya dan bahkan tergabung dengan ruang guru, mata pelajaran yang kurang beragam, tenaga pengajar yang terbatas dan guru yang bestatus negeri masih minim, dan kendala lainnya.

Foto : IMPALA UB, Ruang kelas di SDN Sepanjang 1

Salah satunya terdapat di SDN 1 Sepanjang yang masih memiliki bangunan sekolah yang jauh dari kata layak terlihat dari atap yang rawan roboh, lantai yang belum berubin untuk beberapa kelas, sekat antar kelas yang belum permanen, dan pastinya belum memiliki fasilitas perpustakaan yang menunjang.

Selain itu, ada beberapa mata pelajaran yang sengaja tidak diajarkan untuk anak Pulau Sepanjang yaitu Bahasa Inggris dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) akibat ketersediaan SDM yang terbatas.

Dari segi tenaga pengajar masih banyak yang berstatus Guru Tidak Tetap (GTT) dan hanya satu sampai dua orang yang sudah berstatus negeri untuk setiap sekolah.

Meski tidak berpengaruh langsung terhadap kualitas pendidikan namun tetap saja menjadi salah satu indikator penunjang pendidikan yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Foto : IMPALA UB, Kecerian saat bakti sosial Brawijaya Sepanjang Island Research di SDN VI Sepanjang

Mengkritik soal kualitas pendidikan di bumi pertiwi ini pasti tidak akan ada habisnya. Terlebih untuk pendidikan di kota yang sudah bisa dikatakan sangat layak sekalipun.

Selalu pemerintah yang menjadi sasaran utama ketika kualitas pendidikan di negeri ini dikritik rendah. Namun cobalah lihat pendidikan di Pulau Sepanjang khususnya di desa Sepanjang.

Meski ditengah keterbatasan dalam mendapatkan pendidikan yang layak, selalu terdapat semangat yang luar biasa dari anak-anak di daerah ini. Sekalipun jarak yang harus ditempuh jauh, tidak pernah ada alasan untuk memadamkan semangat luar biasa dalam menggapai cita-cita.

Jadi, mulailah belajar bersyukur atas pendidikan yang telah kita dapat sejauh ini.

Penulis : Nian Nur Wahyudi (Impala UB)

Editor : Alton Phinandhita Prianto

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan