Penelitian Harimau Jawa di TN Meru Betiri 1993 Antara Kamera Trap vs Amatan Manual

Kaos eksklusif Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia “Menjemput Harimau Jawa”. (WARTAPALA INDONESIA/ Didik Raharyono)

Wartapalaindonesia.com, OPINI – Harimau Jawa (Panthera tigris sundaica) punah -menjadi opini dunia- tetapi saya yakin ada individu tersisa. Bukti eksistensi berupa rambut berhasil kami identifikasi. Penemuan niche Harimau Jawa tidak lepas dari peran pemburu lokal sebagai pemandu penelitian.

Sepuluh tahun lalu WWF meneliti Harimau Jawa di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) menggunakan Kamera Trap sistem injak -alat tercanggih masa itu. Selama setahun 10 Kamera Trap dipasang di areal seluas 52.000 ha dan tidak menghasilkan foto Harimau Jawa. Karena TNMB dianggap ‘habitat terakhir’ Harimau Jawa, maka opini punah mengemuka.

Sejak itu tidak pernah dilakukan pemantauan ulang menggunakan Kamera Trap. Penelitian manual Jagawana hanya jika ada laporan perjumpaan. Anehnya informasi perjumpaan dari masyarakat lokal selalu diabaikan kalangan akademisi.

Klaim bahwa masyarakat lokal tidak bisa membedakan Macan Loreng dengan Macan Tutul selalu dikedepankan. Justru hasil amatan masyarakat lokal mempunyai keakuratan tinggi dibandingkan 10 Kamera Trap.

Padahal pemburu lokal selama puluhan tahun berinteraksi di hutan TNMB -habitat Harimau Jawa. Sehingga menghasilkan penuturan berbagai jenis macan loreng : Gembong, Lareng dan Sruni.

Nama Gembong bagi macan loreng bertubuh besar bersurai lebat, Lareng bertubuh ramping dan panjang sedang Sruni berwarna kemerahan agak gelap.

Adapun Macan Tutul (Panthera pardus) dikenal tiga macam : Benguk, Ceplok dan Kembang (bukan Kumbang). Masing-masing jenis penyebutan mempunyai perbedaan harga di pasar gelap.

Berdasarkan kenyataan di atas, Agustus 1997 dilakukan ekspedisi Harimau Jawa di TNMB -diprakarsai Mitra Meru Betiri (MMB). Bulan Nopember 1997 BKSDA Jatim II menindaklanjuti penelitian sebelumnya didukung MMB dan Pemburu Lokal sebagai pemandu.

Hasilnya meyakinkan bahwa Harimau Jawa di TNMB masih eksis. Penguat keberadaan Harimau Jawa : cakaran setinggi 230 cm, jarak kuku 4 cm di pohon berdiameter 130 cm. Berbeda dengan cakaran Macan Tutul yang maksimal setinggi 150 cm dan jarak goresan kuku 2,5 cm.

Temuan terpenting Ekspedisi 1997 berupa rambut -terselip di kulit kayu- pada bekas goresan kuku. Oleh PHPA (sekarang PKA) diperiksakan ke laboratorium Forensik Satwa di Amerika. Selama 2 tahun baru ‘terbetik’ kabar tidak ada rambut yang mengindikasikan Felicidae.

Beberapa sampel diperiksakan ke UI bagian Program Biodiversity oleh KAPPALA Indonesia dan sampai sekarang tidak membuahkan laporan apapun.

Melihat kenyataan tersebut, akhirnya saya mengamati rambut temuan menggunakan mikroskup cahaya. Hasilnya : ada persamaan tipe medula dan sisik rambut temuan dari TNMB dengan rambut Harimau Sumatera dan berbeda dengan rambut Macan Tutul.

Penggalangan bantuan guna mencermati rambut temuan tidak mengusik lembaga dana konservasi di negeri ini. Mereka terlalu yakin Harimau Jawa punah sehingga menganggap tidak perlu diadakan Peninjauan Kembali.

Bahkan banyak lembaga dana selalu menuntut kami menunjukkan foto terbaru. Padahal untuk mendapat foto harus diketahui habitat Harimau Jawa.

Untuk mengetahui habitat harimau harus diadakan pencermatan bekas aktivitas dan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tetapi kami berusaha mandiri untuk menemukan bekas aktivitas Harimau Jawa. Hasil temuan kami selalu diremehkan, walaupun diameter jejak 15 cm (plaster cast) dan feses berdiameter 3 cm mirip struktur dan komposisi feses Harimau Sumatera.

Kenapa harus sosok foto yang dijadikan bukti eksistensi Harimau Jawa? Apakah bekas aktivitas yang ditinggalkannya tidak bisa diidentifikasi? Bukankah untuk menyakini keberadaan Dinosaurus -punah ribuan tahun yang lalu- hanya berdasarkan rekonstruksi tulang belulangnya.

Berbeda dengan Harimau Jawa -meski dianggap punah- masih banyak dibunuh sampai 1998. Dan jiwa kita tidak tergerak guna menyelamatkan habitat individu Harimau Jawa tersisa.

Sepertinya ilmuwan Indonesia takut menerima kenyataan masih eksis-nya Harimau Jawa. Sebab konsekuensinya menuntut pola pengelolaan habitat di Jawa secara benar dan seluruh dunia akan mengawasi.

Hal ini tentu menambah beban moral kalangan ilmuwan Indonesia, sebab sekarang ratusan satwa endemik Indonesia terancam punah. Terlebih apabila Harimau Jawa muncul dari kepunahan, tentulah mempertaruhkan kridibilitas ilmuwan hidupan liar Indonesia. Sekali lagi kita lebih enjoi dengan predikat punah bagi Harimau Jawa.

Sanubari saya terusik guna menguatkan bukti-bukti perjumpaan Harimau Jawa secara ilmiah dari penuturan pemburu lokal. Sejak usaha pembuktian keberadaan Harimau Jawa oleh MMB 1997 sampai pembuktian oleh Javan Tiger Focus Groups (JTFG) 2001, saya selalu terlibat. Pengalaman tersebut menjadi buku bertajuk Berkawan Harimau Bersama Alam (terbit Februari 2002).

Berkat bantuan Zoo de Doue Prancis lewat JTFG, maka analisis rambut temuan menggunakan Scaning Electron Microscop (SEM) bisa dilakukan. Sebagai pembanding digunakan rambut Harimau Jawa opsetan milik Musium Zoologi LIPI.

Dengan analisis SEM diketahui bahwa rambut dari TNMB sebagai rambut Harimau Jawa. Penelitian rambut dilakukan oleh Tim JTFG dari Agustus 2001 – Januari 2002 di LIPI (menghasilkan 3 sarjana Biologi : 2 dari UNPAD dan 1 dari UGM).

Identifikasi menggunakan SEM berhasil mengetahui persamaan tipe dan pola rambut sekujur tubuh harimau -kecuali rambut kumis. Medula rambut Harimau Jawa bertipe Intermediet berpola Reguler dan sisiknya bertipe Corona serrata berpola Irreguler wave.

Sedangkan medula rambut Macan Tutul bertipe Discontinuous berpola Cresentic dan sisiknya bertipe Corona serrata berpola Irreguler wave. Jadi sampai Nopember 1997 Harimau Jawa masih eksis di TNMB, meskipun selama satu dasawarsa diklaim punah.

Analisis rambut menggunakan SEM merupakan gebrakan baru bagi konservasi Harimau Jawa -suatu hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Jika mantan Kepala TNMB Ir. Indra Arinal di Kompas (19/08/1999) pernah berkata bahwa di Tanah Air sulit untuk menemukan ahlinya – sekarang sudah kami jawab.

Masihkah kita berkiblat pada metode Kamera Trap sistem injak dan mengabaikan metode Manual dipandu pemburu lokal dalam meneliti Harimau Jawa? Ataukah kita masih menuntut kesahihan identifikasi rambut menggunakan SEM?

Tanpa melakukan aksi nyata : melindungi dan menyelamatkan TNMB serta kawasan hutan alami tersisa di Jawa dari segala bentuk alih fungsi yang jelas-jelas mengancam kelestarian plasma nutfah di habitat Harimau Jawa. Atau kita takut menerima kehadiran Harimau Jawa.

Penulis : Didik Raharyono

Editor : Alton Phinandhita

Tentang Penulis : Didik Raharyono, S.Si. adalah seorang Wildlife Biologist. Saat ini Penulis bekerja di Pusat Penyelamatan Satwa Liar Jogja. d/a : PPS Jogja. Dusun Paingan. Desa Sendangsari. Kec. Pengasih. Kulonprogo. Jogjakarta. Telp. 0274.4773457

bagikan

Tinggalkan Balasan