Peran Media Sosial Dalam Dunia Pendakian

Caption foto: Penerapan materi Membaca Peta dan Kompas oleh komunitas on-line. (WARTAPALA INDONESIA/ Ratdita Anggabumi T.)

Wartapalaindonesia.com, BOGOR – Saat ini aktivitas pendakian gunung telah menjadi tren yang digandrungi banyak orang, termasuk muda dan mudi. Para pendaki menggunakan sarana internet dan media sosial dalam mendapatkan informasi tentang kegiatan alam bebas secara on-line.

Kemudahan ini dimanfaatkan pendaki era milenial untuk mendapatkan konten-konten tentang ilmu pendakian atau sekedar mencari teman perjalanan.

Novianto, salah seorang pendaki senior di Jakarta mengungkapkan, “tahun 80-an pendakian belum booming. Kami mencari informasi yang dimiliki oleh organisasi-organisasi pecinta alam. Biasanya mereka punya data lengkap tentang lokasi yang akan kita kunjungi.”

“Saat ini dengan bantuan internet, pendaki bisa lebih matang dalam merencanakan petualangannya. Informasi sudah sangat mudah, apalagi sekarang banyak grup-grup on-line pendaki gunung,” ujar pria yang pernah menjadi bagian dari tim SAR di gunung Salak, Jawa Barat tahun 1986 silam.

“Kenyataannya saat ini banyak pendaki yang tersesat dan kecelakaan hingga meninggal dunia. Hal ini karena persiapan teknis dan pengetahuan yang minim,” tuturnya saat ditemui Wartapala.

Saat mengadakan penelusuran di media sosial, banyak ditemukan influencer dan grup-grup komunitas pendaki on-line yang memberikan konten-konten positif tentang edukasi mengenai standar keamanan dan prosedur pendakian.

Adapula influencer yang aktif dalam menyebarkan konten-konten tentang kelestarian alam. Namun ditemukan pula beberapa inluencer dan grup pendaki on-line yang mempengaruhi follower serta member dengan cara yang unik.

Dalam menggaet pendaki millennial, salah seorang influencer yang juga mengelola satu akun petualangan mengutarakan, “saya biasa posting video dan photo-photo ekstrim yang bisa memacu adrenalin. Bisa juga dengan posting photo sensual pendaki cantik dan pendaki ganteng dengan latar belakang puncak gunung.”

“Harus pakai caption yang menarik, lucu dan menggoda, kalau ingin dapat ribuan follower atau likes,” ujarnya sambil berpesan agar tidak mencantumkan namanya.

Sedangkan menurut Hendri Agustin penulis buku dengan judul Panduan Teknis Pendakian Gunung berpendapat, “pada saat ini pendaki muda lebih sering memanfaatkan media sosial. Jarang yang mendapat bekal pendidikan dan latihan dasar gunung dan hutan.”

“Oleh karenanya para Influencer dan komunitas online, sebaiknya lebih bijak dalam menyebar konten-konten. Materi tentang teknis dan standar safety harus diutamakan,” lanjutnya.

Dia menambahkan, “Media Sosial harus menjadi sarana untuk saling mengingatkan, perihal keamanan dan kelestarian alam, termasuk memberikan konten-konten yang menghormati kearifan lokal dalam kegiatan di alam bebas.”

“Harapan saya, Influencer dan grup komunitas online, tidak gagal dalam memberi pencerdasan kepada followers maupun membernya baik secara on-line maupun off-line,” tutup Hendri Agustin saat ditemui di Mega Mendung, Bogor.

Kontributor || Ratdita Anggabumi T., WI 190039

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: