WartapalaIndonesia.com, PONTIANAK – Dalam rangka memperingati Milad ke-27 Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Pontianak (Mata UMP) sekaligus menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia, mata-UMP melaksanakan kegiatan bertajuk “Pendidikan Lingkungan di Sekolah Dasar Perbatasan”. Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Pada 12–15 Agustus 2025 di
Kegiatan ini berorientasi pada pendidikan ekologi sejak usia dini dengan sasaran anak-anak PAUD dan sekolah dasar di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.
Berdasarkan koordinasi awal dengan guru setempat, Mata-UMP menyerahkan sejumlah bahan ajar, antara lain 430 buku bacaan, 15 file PDF pegangan guru, 22 kotak krayon, serta 22 rangkap Alat Permainan Edukatif (APE).
Bantuan ini disalurkan ke tiga lembaga pendidikan dasar: PAUD Ibnu Sina Desa Simpang Empat (Kecamatan Tangaran), PAUD Nurul Ulum Desa Sebubus, dan SDN 21 Merbau Desa Sebubus (Kecamatan Paloh).
Tidak berhenti pada distribusi logistik, Mata-UMP juga menghadirkan metode interaktif melalui media “Pohon Harapan untuk Lingkungan”. Anak-anak diajak berdialog ringan seputar pengetahuan alam sekitar dan secara khusus dikenalkan pada penyu, reptil laut yang dilindungi negara dan banyak ditemukan di wilayah pesisir Sambas.
Melalui permainan, tanya jawab, dan penulisan cita-cita pada “daun” pohon harapan, siswa diajak merenungkan peran mereka sebagai generasi masa depan yang menjaga keberlanjutan lingkungan.
Konservasi Penyu Pokmaswas Kambau Borneo
Usai mendatangi sekolah, tim Mata UMP melanjutkan kunjungan ke Kawasan Konservasi Penyu Pokmaswas Kambau Borneo di Pantai Tanjung Api, Desa Sebubus.
Lokasi itu dapat ditempuh sekitar 30–40 menit perjalanan dari SDN 21 Merbau menggunakan kendaraan bermotor, dilanjutkan dengan penyeberangan kapal kecil.
Kunjungan tersebut menjadi sarana pengayaan pengetahuan berbasis pengalaman langsung (experiential learning). Melalui wawancara, pengamatan, dan dokumentasi, Tim Mata UMP memperoleh pemahaman mendalam mengenai ekosistem pesisir, siklus hidup penyu, serta tantangan ekologis yang dihadapi.
Penyu di Tanjung Api biasanya naik ke daratan menjelang senja pada musim bertelur (Juni–Oktober). Dalam satu malam, seekor induk dapat mengubur 50–100 butir telur di pasir.
Untuk menjaga keberlangsungan spesies, anggota Pokmaswas Kambau Borneo rutin melakukan patroli, memindahkan telur ke tempat penetasan yang aman, hingga melepas tukik ke laut setelah cukup kuat.
Namun, konservasi ini tidak bebas tantangan. Selain perburuan telur yang masih marak karena alasan ekonomi dan gizi, ancaman serius lain datang dari sampah laut.
Tim Mata UMP mendapati botol kemasan dari berbagai merek luar negeri yang terdampar di sepanjang pantai. Fenomena ini menunjukkan adanya arus lintas batas sampah laut (marine debris) dari negara tetangga, mempertegas bahwa isu lingkungan tidak mengenal batas administratif negara. (SH).
Kontributor || Siti Halijah
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)