Wartapalaindonesia.com, ADVOKASI – Konflik Agraria masih menjadi momok bagi petani-petani kecil di Indonesia, khususnya para petani Berem dengan PT Seafer Kartika Tambak.
Konflik ini identik dengan sederet kasus kriminalisasi yang terus menghantui para petani dan pejuangnya. Di Jawa Timur saja, konflik agraria seakan menjadi pertunjukan yang tak pernah usai.
Mulai dari kasus pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu, perebutan hak atas tanah di desa Bongkoran-Banyuwangi, kasus tambang pasir di Lumajang dan Paseban-Jember, serta masih banyak deretan kasus lainnya. Jika dipetakan, hampir setiap daerah memiliki konflik agraria yang tampak seperti tak berkesudahan.
Dengan motif yang tak jauh berbeda, yaitu antara petani dengan korporasi, petani dengan pemerintah daerah, hingga petani dengan pemangku kawasan konservasi.
Konflik demi konflik mulai muncul ke permukaan. Dari yang awalnya petani diam dan bersabar, hingga akhirnya petani berontak dan melawan. Salah satunya adalah petani Berem yang memilih untuk melawan, meski keadaan semakin mencekam.
Aksi solidaritas untuk petani berem pada Selasa (20/2/2018) di Alun-alun Kabupaten Jember merupakan bentuk nyata dari perlawanan petani terhadap kesewenang-wenangan PT Seafer Kartika Tambak.
Petani Berem sudah mengalami konflik dengan PT selama 33 tahun. Selama ini, petani yang tinggal di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kab. Jember masih dapat melakukan aktifitas bertani di lahan yang seharusnya milik petani Berem.
Selama ini, meski sering mendapat intimidasi dari pihak korporasi, namun masyarakat sekitar masih tetap bersabar.
Puncaknya, pada tahun 2017 petani Berem dibuat tak bisa beraktifitas oleh PT, dengan dibangunnya dermaga di lahan petani.
Hal tersebut tentu saja mempengaruhi aktifitas bertani maupun mencari ikan oleh para nelayan sekitar. Karena tanah yang ditempati bangunan milik PT Seafer Kartika Tambak adalah lahan bercocok tanam bagi petani.
Selain itu, limbah pakan yang dibuang secara langsung oleh PT ke laut sangat merugikan nelayan. Dampaknya, kini nelayan harus pergi jauh ke tengah laut untuk mencari ikan, karena ikan ditempat biasa mereka berlayar harus terusir oleh limbah pakan.
Hal ini tentu saja semakin menambah tinggi biaya dan modal bagi nelyan sekitar, yang mayoritas adalah nelayan kecil. Kondisi inilah yang mendorong petani Berem dan sekitarnya untuk melakukan perlawanan kepada PT.
Salah satu bentuk perlawanannya adalah dengan menggelar aksi solidaritas untuk petani berem pada Selasa kemarin.
Acara yang digagas oleh Aliansi Peduli Tani Jember (API TANI) ini berupa marathon pembacaan puisi dan panggung seruan solidaritas untuk Petani Berem.
Bertajuk “Kabut Pekat di Wajah Petani”, acara ini berlangsung selama sekitar 14 Jam, mulai dari pukul 08.00-22.00 WIB.
Meski hujan sempat mengguyur, namun semangat tak nampak sedikitpun pudar dari wajah-wajah mereka.
Dukungan pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, petani, hingga berbagai latar belakang organisasi. Banyaknya dukungan terlihat dari beragamnya pertunjukan yang ditampilkan.
Mulai dari pembacaan puisi, teatrikal puisi, musikalisasi puisi, nyanyian kemanusiaan, diskusi, hingga orasi. Semuanya dilakukan dengan sangat totalitas, hingga tak jarang penonton terdiam dan tersentuh.
“Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mendapatkan lebih banyak dukungan, mempererat rasa solidaritas, dan mengedukasi masyarakat tentang urgent-nya konflik agraria di tanah berem,” ujar ketua API TANI Jember.
Aksi solidaritas ini sengaja digelar karena tidak adanya respons dari pemerintah Kabupaten Jember terhadap aksi API TANI Jember sebelumnya. Sempat dua kali aksi dilakukan oleh API TANI Jember.
Pertama, aksi dilakukan didepan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jember dan yang kedua, aksi dilakukan didepan kantor Bupati Jember.
Semoga dengan adanya aksi-aksi ini, pemerintah bisa melihat peliknya konflik agraria ditanah Berem. Jangan sampai aktifitas investasi yang seharusnya dapat mensejahterkan rakyat, malah semakin memiskinkan rakyat.
Kontributor : Cahaya Malam
Editor : Idfiandini Darayani
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)
1 Comment