PMPA Kompos Tuntut Ilmu Hingga Ikuti Meru Betiri Service Camp

Caption foto: Suasana MBSC ke-20 saat mendapatkan materi Ekologi. (WARTAPALA INDONESIA/ Irfan Zamorano)

Wartapalaindonesia.com, SURAKARTA – Meru Betiri Service Camp (MBSC), sebuah agenda yang diadakan rutin setiap tahun dan mengundang banyak antusiasme dari kalangan, baik mahasiswa pencinta alam, siswa pencinta alam, maupun kalangan umum.

Acara ini diselenggarakan oleh Taman Nasional Meru Betiri, BKSDA Jawa Timur dan WIPAB (Wahana Informasi Pencinta Alam se-eks karesidenan Besuki).

PMPA KOMPOS FP UNS mengirim dua delegasinya untuk turut serta menghadiri dan memeriahkan acara Meru Betiri Service Camp, yaitu Irfan Zamorano (K-574) dan Muhammad Hanif (K-575).

Acara ini digelar di Bandealit, Jawa Timur yang masih tergabung dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Acara begitu ramai dan meriah dengan dihadiri kurang lebih 64 peserta dari berbagai kalangan mahasiswa pencinta alam, siswa pencinta alam, dan kalangan umum dari beberapa provinsi diantaranya DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali.

Berlangsung selama lima hari, acara ini mengusung tema “Konservasi sejak dini, kini, dan nanti.”

Diawali dengan pembukaan acara yang berupa apel untuk semua peserta, panitia, dan pembina acara di Balai TNMB di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Seluruh peserta sudah hadir dan terlihat sangat bersemangat dan antusias menyambut berlangsungnya MBSC sendiri.

“Meru Betiri Service Camp yang ke-20 ini sebagai ajang mencetak kader konservasi yang baru guna meneruskan semangat konservasi yang mencintai alam dan sangat dibutuhkan di tengah kondisi alam saat ini,” ujar Maman Surahman selaku kepala Balai TNMB.

Setelah melalui apel pembukaan acara dan pemenuhan registrasi di Balai Taman Nasional Meru Betiri, selanjutnya seluruh peserta dan penyelenggara bergegas menuju ke Bandealit untuk melangsungkan acara MBSC ke-20.

MBSC ke-20 kali ini diisi dengan banyak materi, baik materi ruang maupun praktek di lapang. Beberapa materi yang diulas disana antara lain, kehutanan, ekologi, flora dan fauna di TNMB dan Indonesia, pengamatan dan recording jejak karnivor besar, analisisi air dan vegetasi, pengamatan burung, ekowisata dan pengamatan masyarakat, KSDHE, serta advokasi lingkungan dan jurnalistik.

Beberapa pemateri yang sangat berkompeten juga dihadirkan untuk mengisi kematerian sebagai fasilitator, seperti Wahyu Giri, Ihsannudin, Bopung, Heti Palestina Yunani, dan masih banyak lagi.

Hari kedua, setelah peserta saling bercengkerama di hari pertama kemudian langsung masuk ke materi ruang analisis air dan dilanjutkan ke materi ekologi. Materi ekologi sendiri berisi tentang pentingnya keberagaman dan keberagaman adalah kunci dari kelestarian ekosistem.

Setelah jeda siang hari, dilanjutkan materi pengamatan karnivor besar dan pengamatan burung, serta analisis vegetasi. Pengamatan karnivor besar serta burung, lebih ditekankan kepada bagaimana ciri-ciri yang diamati ketika dilakukan pengamatan, juga teknik-teknik yang dilakukan untuk pengamatan burung dan karnivor besar.

Terkhusus untuk karnivor besar materi pencatatan jejak (berupa feses, jejak dan cakaran) karnivor besar juga diulas. Pada materi analisis vegetasi juga mengulas tentang berbagai teknik yang digunakan juga pentingnya analisis vegetasi yang dilakukan. Selain materi di kelas, juga diselingi dengan permainan-permainan di luar kelas yang mengandung makna tentang materi yang diulas.

Dilanjutkan ke hari ketiga, peserta MBSC ke-20 melangsungkan praktek dari pengamatan burung dan analisis vegetasi.

Metode yang digunakan dari pengamatan burung menggunakan metode transeks line dan point count, sedangkan untuk analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode garis berpetak, juga mendokumentasikan bagian dari pohon yang belum diketahui jenisnya menggunakan foto dan herbarium untuk dianalisis.

Juga setelahnya, dilanjutkan praktek pengamatan dan recording jejak karnivor mamalia menggunakan plestercase untuk tapak jejak, dan plastik A3 serta spidol untuk menjiplak cakaran di pohon.

Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 WIB, peserta diperkenankan kembali untuk istirahat kemudian dilanjutkan materi ruang lagi mengenai advokasi lingkungan, global warming, hitung karbon serta pengamatan masyarakat.

Materi advokasi lingkungan memberikan peserta informasi bahwa selain tindakan nyata berupa menanam pohon, juga diperlukan keadvokasian untuk mempertahankan pohon supaya tidak ditumbangkan. Secara istilah tersirat mungkin seperti bagaimana kita menjadi “wali” dari lingkungan, dan mewakili suara dari lingkungan yang harus juga dipertahankan.

Dilanjutkan kematerian global warming, dimana global warming diulas secara mendalam apa saja sebab dan akibatnya di kehidupan, serta hitung karbon yang erat kaitannya dengan pelepasan dan penyerapan karbon di siklus karbon dan berperan dalam terbentuknya pemanasan global.

Materi hitung karbon mengulas tentang perlunya pengitungan karbon untuk menimbang berapa jumlah karbon yang kita keluarkan ke alam dan harus kita ganti dengan oksigen dengan berapa pohon yang harus kita tanam untuk menyerap karbon.

Adapula materi pengamatan masyarakat yang mana erat hubungannya dengan pembentukan ekowisata, dimana kita harus memahami terlebih dahulu seluk beluk serta potensi daerah setempat khususnya mengenai lingkungannya, manusianya dan budayanya. Kegiatan hari ketiga selesai dan peserta diperkenankan beristirahat guna melanjutkan kegiatan esok paginya.

Hari keempat, dilanjutkan mengulas materi ekowisata dan interpretasi, jurnalisme lingkungan. Jurnalisme lingkungan lebih menekankan kepada bahwa segala aktivitas kita ketika berkegiatan perlu untuk didokumentasikan guna menjadi sebuah arsip penting dan kelak dapat digunakan menjadi berbagai macam hal yang penting dan berprospek.

Materi ekowisata dan interpretasi memaparkan pemaparan ekowisata secara umum, juga hal-hal dan langkah apa saja yang perlu diperhatikan untuk mengusahakan sebuah lokasi menjadi sebuah tempat ekowisata yang meskipun sudah menjadi tempat wisata tetapi tetap menjunjung konservasi lingkungan dan kebudayaan setempat.

Selanjutnya pemaparan hasil analisis vegetasi dan pengamatan burung serta rekam jejak karnivor.

Sebelumnya, baik kegiatan analisis vegetasi, pengamatan burung dan rekam jejak karnivor telah dibagi kelompok terlebih dahulu antar peserta, sehingga pemaparan hasil pun juga dilakukan perkelompok. Setelahnya, diadakan juga pemaparan praktek advokasi lingkungan berupa pembuatan poster yang memuat isu-isu lingkungan di daerah sekitar domisili peserta, yang mana poster juga adalah salah satu sarana advokasi lingkungan.

Peserta masing-masing kelompok juga memaparkan posternya masing-masing sembari mengangkat dukungan dari seluruh peserta dan panitia untuk membantu menangani isu-isu di daerah masing-masing.

Menginjak malam, masuk ke acara pemaparan apa itu FK3I yang mana FK3I adalah forum untuk kader konservasi yang telah melalui MBSC kali ini untuk menjadi bagian dari FK3I di daerah masing-masing, juga pemaparan mengenai WIPAB sendiri yang merupakan sebuah wadah dari para pencinta alam se-eks karesidenan Besuki.

“Harapannya para kader yang telah sukses melalui MBSC ke-20 ini dapat menjadi kader konservasi yang berperan aktif ketika kembali ke daerah masing-masing,” tutur Cak Blendez selaku ketua WIPAB.

Peserta kemudian diperkenankan beristirahat untuk melangsungkan upacara penutupan esok paginya setelah packing dan sarapan. Keesokan paginya, upacara berlangsung sangat khidmat mengingat hari itu juga hari terakhir peserta berada di TNMB dan telah melalui berbagai macam proses di MBSC ke-20 kali ini.

Upacara selesai kemudian seluruh peserta dan panitia bergegas kembali menuju Balai Taman Nasional Meru Betiri untuk pembagian sertifikat dan kartu kader konservasi untuk peserta, sekaligus sebagai penutup dari acara MBSC ke-20.

Peserta lalu diperkenankan pulang ke daerah masing-masing setelah memperoleh sertifikat dan kartu kader, untuk selanjutnya melanjutkan perjuangan mereka di daerah domisili masing-masing.

Salam Lestari!

Salam Konservasi!

MBSC… Masih ada!

Mengenal lebih lanjut PMPA Kompos, bisa melalui:

Facebook: PMPA KOMPOS

Instagram: pmpakompos

Email: pmpakomposfpuns@gmail.com

Web: kompos.fp.uns.ac.id

Cp: Azzam Khairulloh (087824880799)

Kontributor || Irfan Zamorano (K-574)

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: