Caption foto : Workshop diikuti pelajar, akademisi dan praktisi yang datang dari berbagai kota di Indonesia. (WARTAPALA INDONESIA / AJ. Purwanto).
WartapalaIndonesia.com, BANYUWANGI –Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman (PU CKPP) Kabupaten Banyuwangi menggelar workshop, pada Minggu (30/06/2024).
Workshop yang merupakan salah satu mata acara Festival Arsitektur Nusantara (FAN) 2024, berlangsung di aula Agrowisata Tamansuruh (AWT.) mengangkat tema “Pengolahan Air dalam Eco Arsitektur”.
Kegiatan ini dirangkai setelah acara seminar arsitektur yang digelar pada Sabtu (29/06/2024).
Untuk diketahui, FAN 2024 digelar di wilayah dataran tinggi tepatnya di kawasan Agrowisata Tamansuruh (AWT) Banyuwangi, dari tanggal 26-7 Juli 2024.
AWT yang terletak di lereng Gunung Ijen ini menyuguhkan pemandangan pegunungan Ijen. AWT mengusung konsep Desa Osing. Nuansa khas otentisitas budaya Osing sangat terasa. Gugusan Rumah Osing yang dikelilingi taman bunga menghiasi kawasan tersebut.
Seminar menghadirkan pembicara Prof. Dr. – Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng. (Dekan Sekolah Vokasi UGM). Dia juga Kepala Sekolah Sungai dan yang mematenkan Karya Gama Rain Filter sebagai alat penyaring air hujan menjadi air bersih.
Hadir juga Tirza Surya, M. Sc yang menjelaskan sebuah proses Gama Rain Filter yang merapikan sistem TRAP (Tampung, Resapan, Alirkan, dan Pelihara).
Kemudian Dosen dan Peneliti Lab. Sains Arsitek dan Teknologi Dept. Arsitektur, FTSP. Kebumian, ITS (Fx. Teddy Badai Samodra, ST., MT., Ph.D. D.).
Workshop diikuti oleh pelajar, akademisi, praktisi yang datang dari berbagai kota di Indonesia.
Untuk pameran arsitektur diikuti desain arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
“Bagaimana nantinya peserta dari workshop ini bisa menghasilkan karya yang ikonik yakni melibatkan air sebagai bagian yang tak terpisahkan dari desain-desain arsitekturnya,” kata Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman-DIY, Sri Wahyuningsih.
Karena lanjutnya, kita tahu bahwa kita bisa bertahan hidup, air menjadi kebutuhan yang paling mendasar, dan isu-isu ini diangkat berdasarkan isu krisis udara global. Jadi harus adaptasi dan peka dengan isu-isu terkini.
Peran air dan arsitektur ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam semesta selaras budaya.
Arsitek Muda Yu Sing memberikan Pemaparan secara detail dalam slide Photo karya-karyanya, bahwa negara luar seperti Singapura saja sungai yang di beton di naturalisasi kan, secara alamiah terwujudlah kembali keseimbangan agar tidak menyebabkan bencana.
Yu sing dengan karya-karya eko arsitektur, yang selalu memberi ruang untuk air beradaptasi dengan air. Hidupkan nuansa alam dan memanfaatkan yang ada untuk menjadikan sebuah arsitektur natural.
Maka dari itu masyarakat perlu bersiap mengenai hal ini untuk menghadapi kemungkinan terjadinya krisis air di masa depan. Karena negeri tercinta ini mempunyai dua musim (kemarau dan hujan).
Hujan inilah yang harus bener-bener di kelola dengan sebaik-baiknya dan secara sengaja dikembalikan ke dalam tanah untuk mengembalikan yang selama ini kita ambil. Berhenti dan mengurangi eksploitasi air tanah, karena saat ini Kita hanyalah sewa dari Anak Keturunan Kita. (ajp)
Kontributor || AJ. Purwanto
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)