Pulau Sempu : Menjadi Cagar Alam pun Tetap Bernilai Ekonomi

Pulau Sempu, Cagar Alam seluas 877 ha terletak di Dusun Sendang Biru, Desa Tambak Rejo Kecamatan Sumbermanijng Wetan, Kabupaten Malang. (01/11). OPINI. WARTAPALAINDONESIA/ Ihsannudin

Wartapalaindonesia.com, OPINI – Presiden Jokowi dalam suatu kesempatan mengemukakan target 20 ribu wisatawan guna mendorong percepatan ekonomi nasional.

Hal ini mendorong respon pihak-pihak yang ada dibawahnya dengan menyusun dan berbenah. Agar sumberdaya di sektor/wilayah kendalinya mampu memberikan ataupun memfasilitasi atraksi Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW).

Sebagaimana diketahui bahwa tipe ODTW terdiri atas natural dengan atraksi keindahan dan pengalaman alam, kultural menawarkan keunikan dan pengalaman budaya serta sintetik dengan wahana buatan yang mendatangkan kesenangan.

Namun demikian diantara ketiga tipe ODTW kultural menempati 60% dan disusul ODTW natural 35% dan sisanya 5% ODTW sintetik.

Entah terkait dengan pernyataan presiden itu atau dorongan lain, sempat terjadi hingar bingar desakan penurunan status Pulau Sempu di wilayah Malang selatan dari Cagar Alam (CA) menjadi Taman Wisata Alam (TWA) yang menghadirkan pro dan kontra.

Meskipun BKSDA Jawa Timur telah memastikan Pulau Sempu tetap menjadi CA melalui Surat Edaran Kepala BKSDA Jawa Timur Nomor SE.02/K.2/BIDTEK.2/KSA/9/2017.

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa sebagai CA Pulau Sempu digunakan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan masyarakat, penyerapan/penyimpanan karbon dan pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk kepentingan budidaya.

Pulau seluas 877 ha tersebut terletak di Dusun Sendang Biru, Desa Tambak Rejo Kecamatan Sumbermanijng Wetan, Kabupaten Malang.

Memiliki panorama indah serta kekayaan sumberdaya hayati yang unik dan mempesona.

Memiliki urgensi botanis dan hidrologis dan potensi flora semacam bendo, gintungan serta fauna seperti lutung jawa, rangkok, penyu hijau dan lainnya.

Ditetapkan sebagai CA sejak 15 Maret 1928 melalui Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie Nomor 69 dan Nomor 46 Tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe.

Bila dikaji, konsekuensi perubahan dari CA menjadi TWA, merujuk UU 5/1990, selain dapat digunakan untuk penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya juga ada tambahan unsur budaya dan wisata alam.

Bagi pihak kontra TWA, dikhawatirkan ini akan mengganggu ekosistem. Meskipun menjadi pertanyaan tatkala catatan BKSDA Jawa Timur justru menyebut ada pengunjung untuk kepentingan rekreasi 1.033 orang pada 2012.

Dan keperluan lain-lain (tidak disebut masuk kategori penelitian, rekreasi, pedidikan dan berkemah) sebanyak 22.836 orang pada 2014.

Bila memang argumen ekonomi menjadi alasan utama menjadi TWA, maka ada beberapa faktor terkait ekonomi yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, nilai ekonomi tak nampak (invisible economic value) yang berpotensi hilang atau berkurang akibat penurunan kualitas ekosistem.

Semakin banyak manusia hadir tanpa pengendalian jumlah dan perilaku konservasi,  akan mengancam stabilitas ekosistem.

Mengingat beberapa satwa seperti penyu yang singgah untuk bertelur di pulau Sempu memerlukan ketenangan.

Belum lagi kerugian ekonomi kebencanaan, akibat menurunnya fungsi ekologi dalam mereduksi dan mencegah bencana seperti gelombang tsunami.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah terkait nilai pendidikan dan pengetahuan yang berpotensi hilang atau terdegradasi.

Berbagai macam obyek pendidikan dan penelitian akan berkurang atau bahkan hilang, sehingga tidak dapat lagi melakukan kajian komprehensif.

Kedua, keberlanjutan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang (sustainability development). Kehidupan alam liar akan berpengaruh besar pada keseimbangan ekologi.

Dalam konteks pembangunan sebagaimana dinyatakan Ife dan Tesoriero, kehidupan alam liar dan keberadaan flora dan fauna yang nyaris punah memiliki peran besar dalam pembangunan berkelanjutan.

Termasuk juga keberadaan kehidupan alam liar akan sangat berpengaruh pada kehidupan ekonomi.

Jelaslah, bahwa sebenarnya Cagar Alam yang lebih ketat mengedepankan konservasi juga pada dasarnya memiliki nilai ekonomi sangat besar.

Menyikapi hal tersebut, selayaknya perspektif Green melalui empat prinsipnya perlu dijadikan pertimbangan dalam pembangunan termasuk sektor ekonomi.

Pertama, holisme; yaitu secara filosofis perlu meluruskan bahwa pembangunan ekonomi bukan hanya mengutamakan kepentingan manusia (atroposentris) namun juga tetap memperhatikan menghormati kepentingan alam (ekosentris).

Kedua, keberlanjutan; artinya bahwa suatu upaya pembangunan tidak menjadikan intervensi tanpa batas dan aplikasi teknologi yang bebas, namun harus tetap memperhatikan faktor konservasi.

Ketiga, keanekaragaman; bahwasannya tidak semua berorientasi murni ekonomi namun juga menghargai keinginan lain seperti upaya konservasi dan kepentingan lokal.

Keempat, keseimbangan maknanya bahwa ketika menjadikan TWA mengakibatkan ekosistem menjadi pincang, maka selayaknya itu tidak dilakukan.

Logika mudahnya, sebenarnya dengan menjadi CA juga tetap dapat memberikan nilai ekonomi dalam cash money.

Pelaksanaan pendidikan dan penelitian yang dilakukan tetap dapat diberlakukan biaya dengan membuat regulasi yang tepat dan cermat. Dan pastinya mutlak mengutamakan kaidah konservasi!

Penulis : Ihsannudin, Dosen Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura, Kader Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Anggota Survival Skills Indonesia (SSI) Chapter Jawa Timur.

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Tentang Penulis

Ihsannudin, Dosen Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura, Kader Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Anggota Survival Skills Indonesia (SSI) Chapter Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Positive SSL