Ramon Y. Tungka Belajar dari Alam

Caption foto: Ramon membuat api saat berkegiatan di alam (foto oleh: @eigeradventure). (WARTAPALA INDONESIA/ Nindya Seva Kusmaningsih)

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Melalui sharing session yang dipersembahkan oleh Eiger Adventure di Indofest Surabaya 2019 (9/11), pemilik nama lengkap Ramon Yusuf Tungka ini berbagi cerita tentang berkegiatan di alam. Dengan dimoderatori oleh Galih Donikara, sharing ini berjalan dengan apik dan menarik.

Ramon juga telah mengikuti Mountain Jungle Course (MJC) yang diadakan oleh Eiger Adventure pada tahun 2017 di Gunung Moreno Makassar, Sulawesi Selatan. Tiada hentinya, ia terus belajar dari alam.

Menurut pria yang tumbuh besar di Surabaya ini, bahwa dengan berkegiatan alam akan membuatnya lebih menjadi manusia. Karena sejatinya manusia ini sangatlah kecil, sehingga harus menaruh hormat kepada sang pemilik alam yang sesungguhnya.

Tak hanya menjadi peserta MJC, dia juga pernah mengikuti beberapa ekspedisi yang diadakan oleh Eiger. Diantaranya, ekspedisi Kilimanjaro tahun 2018, ekspedisi 28 Gunung dan kini dia tengah mengikuti ekspedisi ke Amerika Selatan.

“Keberhasilan dari sebuah ekspedisi adalah 90 persen dari perencanaan, perlengkapan dan perbekalan, lalu 10 persennya baru eksekusi,” tuturnya.

Bukan hal yang mudah untuk bisa melakukan ekspedisi. Dia mempersiapkan semuanya selama setahun sebelum ekspedisi berjalan.

Yang dia tekankan adalah berlatih dan berlatih. Mempersiapkan kedisiplinan, latihan fisik, latihan packing dan menyiapkan diri untuk terjadinya perbedaan iklim.

“Naik gunung adalah bagian dari pendidikan karakter. Percuma mendatangi banyak tempat tapi tidak memberikan manfaat untuk tempat yang kamu datangi,” jelas pria kelahiran Surabaya ini.

Menurut Ramon, alam ini mengandung dan mengundang bahaya. Untuk itu apabila berkegiatan di alam harus disiplin, harus mengikuti peraturan yang ada, harus safety.

“Apabila mendaki gunung usahakan tetap registrasi, usahakan memakai sepatu jangan memakai sandal. Karena sejatinya sandal diciptakan untuk di pantai dan sepatu diciptakan untuk di gunung,” pesan sosok ayah dari Ganesa.

Hakikat berkegiatan di alam sendiri bagi pria kelahiran 2 Juni ini tujuannya untuk belajar. Alam itu ibadah, sesuatu yang sakral. Jadi, kita tidak bisa sembarangan ketika berkegiatan di alam. Ketika di alam kita jadi lebih respect sama waktu, barang yang kita punya, teman dan sang pemilik alam.

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Editor || A. Phinandhita P, WI 150001

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: