Oleh : Wandi Wahyudi
Dewan Pengawas Anggota (DPA) Mata Alam Bandung
Editor Wartapala, WI 200223
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Di tengah meningkatnya krisis iklim, eksploitasi sumber daya alam, dan ketimpangan sosial, tanggung jawab generasi muda terhadap keberlanjutan kehidupan semakin penting. Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), sebagai entitas yang tumbuh di persinggungan antara dunia akademik dan alam bebas, seharusnya tidak hanya menjadi penjaga rimba dan pendaki gunung.
Mapala harus menjelma menjadi ruang pengasuhan kesadaran sosial dan ekologis. Dalam sejarahnya, Mapala lahir dari semangat keberanian, independensi, dan cinta tanah air. Namun belakangan, sebagian organisasi Mapala terjebak dalam praktik eksklusivisme dan rutinitas seremonial tanpa penguatan nilai-nilai substantif.
Padahal, sebagaimana diungkap oleh Sterling (2010), pendidikan lingkungan yang bermakna tidak cukup hanya dengan aktivitas luar ruang, tetapi harus menumbuhkan transformative learning, yakni perubahan cara berpikir dan bertindak terhadap realitas lingkungan dan sosial, yang berakar pada keberpihakan terhadap keadilan dan keberlanjutan.
Contoh kasus, misal, konflik yang terjadi antara masyarakat adat Samin dan petani lokal dengan PT. Semen Indonesia di kawasan Gunung Kendeng, Jawa Tengah. Pegunungan bukan sekadar lanskap alami, melainkan ruang hidup masyarakat adat Samin dan petani lokal yang menggantungkan hidup pada mata air dan ladang kapur. Ketika rencana pendirian pabrik semen mengguncang kawasan ini, masyarakat Kendeng berdiri menolak, bahkan menyemen kaki mereka sendiri sebagai simbol perlawanan.
Konflik tersebut seharusnya menjadi peringatan keras bagi mahasiswa, khususnya Mapala. Dengan resources yang dimiliki Mapala, baik keilmuan maupun jejaring organisasi, Mapala dapat mengambil peran secara advokatif. Namun sayang, dukungan yang dilakukan masih bersifat sporadis.
Kita perlu pola pendidikan Mapala yang berbasis pada tiga dimensi: konteks, empati, dan transformasi. Pertama, pendidikan berbasis konteks berarti pelatihan tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial-lingkungan tempat kegiatan dilakukan. Misalnya, ekspedisi gunung harus mengungkap juga konflik tenurial, degradasi hutan, atau nasib masyarakat adat di sekitarnya.
Kedua, pola pendidikan harus membangun empati, yaitu kemampuan anggota untuk melihat alam bukan sekadar objek petualangan, tetapi ruang hidup bersama makhluk lain, termasuk manusia. Di sinilah pentingnya integrasi pendidikan sosial, seperti studi dampak tambang, krisis air, hingga kebijakan konservasi.
Ketiga, pendidikan Mapala harus bersifat transformasional. Seperti dikemukakan oleh Mezirow (1997) dalam teori transformative learning, pengalaman lapangan harus diolah menjadi kesadaran baru yang mengubah cara berpikir, merasa, dan bertindak. Anggota Mapala tidak cukup hanya “tahu”, mereka harus “tergerak” untuk berpihak.
Organisasi Mapala yang progresif semestinya menyusun kurikulum kaderisasi yang meliputi: studi keadilan ekologis, pelatihan advokasi lingkungan, kerja bersama komunitas lokal, hingga refleksi kritis pasca ekspedisi. Ini sejalan dengan gagasan civic ecology (Krasny & Tidball, 2015), bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan komunitas.
Mapala, dengan keistimewaannya sebagai organisasi berbasis ruang dan pengalaman langsung, memiliki potensi besar menjadi pusat pendidikan alternatif yang hidup dan membumi. Sudah saatnya Mapala melampaui glorifikasi fisik dan maskulinitas semu, atau bahkan loyalitas semu menuju pendidikan yang membentuk agen perubahan sosial dan ekologis.
“Pendidikan sejati adalah yang membebaskan, yakni pendidikan yang membentuk kesadaran kritis terhadap ketidakadilan struktural”. – Paulo Freire
Sudah saatnya Mapala bertransformasi dari organisasi kegiatan menjadi komunitas gerakan. Aktivitas eksplorasi alam harus diikuti dengan pembacaan sosial-politik ruang, dan pemahaman atas konflik agraria. Ekspedisi harus membuka ruang dialog dengan komunitas adat, petani, dan penjaga ekosistem lokal.
Jika Mapala tidak ingin kehilangan pijakan dan orientasi di tengah krisis multidimensi hari ini, maka ia harus menjadi “rumah” bagi tumbuh kembangnya kesadaran. Rumah yang tidak hanya mencetak pendaki tangguh, tetapi juga warga negara yang peduli, terdidik, dan berani berpihak kepada bumi dan rakyatnya. (WW)
Foto || Ikram, WI 200152
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Sumber Pustaka:
Krasny, M. E., & Tidball, K. G. (2015). Civic ecology: Adaptation and transformation from the ground up. MIT Press.
Mezirow, J. (1997). Transformative learning: Theory to practice. New Directions for Adult and Continuing Education, 1997(74), 5–12.
Sterling, S. (2010). Transformative learning and sustainability: Sketching the conceptual ground. Learning and Teaching in Higher Education, (5), 17–33.
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)