Relawan Gabungan Sulbar Menembus Desa Bela dan Kopeang

Caption foto: salah satu relawan saat memotong pohon tumbang menggunakan gergaji (WARTAPALA INDONESIA/Ratdita Angga Bumi, WI 190039) 

Wartapalaindonesia.com, SULBAR – Gempabumi 6.2 magnitudo yang terjadi beberapa waktu yang lalu mengguncang Sulawesi Barat, membuat 30 titik tanah longsor sehingga menutup ruas jalan utama dimana merupakan penghubung antara Dusun Ulu Taan dan Desa Bela serta Desa Kopeang di kecamatan Tappalang.

Pada peristiwa tersebut, medan yang terjal dan berbukitan menjadi penyebab masyarakat sangat semakin sulit untuk berinteraksi dengan dunia luar. Setelah pemantauan melalui udara oleh BNPB, maka sejumlah relawan dari berbagai lembaga Pecinta Alam maupun lembaga sosial bersinergi untuk membuka akses jalan.

Gabungan relawan dalam aksi kemanusiaan tersebut mulai dari relawan Pecinta Alam hingga komunitas-komunitas seperti Wanadri, Relawan Ojol Nusantara, PKD Mapala Unsulbar, HMM Unsulbar, Bangku Pelosok, akhirnya menembus titik-titik longsor yang ekstrim dengan membawa logistik.

Salah satu perwakilan Komunitas Bangku Pelosok, Bella, mengatakan Desa Bela yang bersebelahan Desa Kopeang, merupakan Desa terisolir di Sulawesi Barat. Masyarakat harus menempuh 12 km berjalan kaki menuju dusun Ulu Taan. Kemudian 2004 sampai dengan 2006, jalanan diperkeras dan bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.

“Warga desa Bela sangat butuh beras, karena mereka baru saja menanam padi dan tidak punya cadangan beras. Dorlog melalui udara adalah jalan yang tepat walaupun mahal, karena kondisi jalan masih rawan longsor dan membahayakan warga” ungkap Bella, (15/01/2021).

Dalam aksi ini, kemudian SAR Mapala Muhammadiyah (SARMMI), Crisis Response Indonesia (CRI) dan KPA Kaliavo Donggala, SAR Batara Guru, mendirikan Pos Kordinasi di dusun Ulu Taan. Dalam kesempatan ini Indonesian Offroad Federation (IOF) Pengda DIY turut membantu dalam pengangkutan logistik ke dusun Ulu Taan.

“Dusun ini hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda empat atau roda dua dengan spesifikasi khusus. Jalan yang tertutup longsor harus dibuka menggunakan cangkul, gergaji mesin, maupun parang, secara gotong royong oleh warga dan relawan,” kata Ahyar Stone dari SARMMI.

Tidak itu saja, gabungan relawan ini membagi tugas, Aranya Mahidhara, dan Bangku Pelosok melakukan pendekatan serta memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Bela tentang manejemen posko dan mengajak warga untuk membuka akses jalan yang tertutup longsor.

Edukasi secara sederhana yang dilakukan salah satu relawan dalam cepat tanggap penanggulangan bencana alam

“Kita juga melakukan edukasi sederhana kepada masyarakat Desa Bela tentang bagaimana menghadapi musibah bencana alam, dan bagaimana cara dalam pendirian posko darurat,” sambungnya.

Dalam pendistribusian bantuan gabungan relawan ini menggunakan helikopter, dan harus mendarat di desa Bela, lalu kemudian diterima oleh Kepala Desa, disalurkan ke setiap dusun secara terkoordinir dan adil.

“Akhirnya warga Bela dan relawan bergotong royong membuka titik-titik yang tertutup longsor. Helikopter yang mengangkut bahan pangan dapat mendarat di desa Bela sesuai yang diharapkan,” tutupnya.

Kontributor || Ratdita Angga Bumi, WI 190039

Editor || Soprian Ardianto, WI 200136

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.