Caption foto: Suasana saat diskusi di Kedai Kayu Pontianak. (WARTAPALA INDONESIA/ Alfikri)
Wartapalaindonesia.com, PONTIANAK – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (BEM Fahutan Untan), Sylva Indonesia PC Untan menyelenggarakan kegiatan Mimbar Rimbawan.
Kegiatan ini sebagai forum diskusi yang membahas tentang peranan Mahasiswa dan Aktivis lingkungan hidup dalam menghadapi keadaan yang sedang terjadi pada Lingkungan dan Hutan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kedai Kayu Coffee Break Pontianak (21/12/2020) pukul 20.00 WIB. Menghadirkan tiga narasumber dari masing-masing bidang dan latar belakang Organisasi, yaitu Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Barat (Walhi Kal-Bar), Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Tanjungpura (Mapala Untan), dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (BEM Fisip Untan).
Meski kegiatan ini bersifat umum dan terbuka, panitia pelaksana tetap membatasi jumlah peserta kegiatan dan menjaga jarak aman sesuai dengan protokol kesehatan.
Pembukaan kegiatan secara langsung disambut oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Sylva Indonesia PC Untan, Jero Haryono.
Saat memulai kegiatan, Ia menyampaikan latar belakang kegiatan yang dilaksanakan oleh anggotanya tersebut. Jero juga menyampaikan beberapa hal penting yang harus diperhatikan terkait masalah lingkungan hidup dan kondisi yang terjadi terhadap hutan Indonesia, terutama terhadap hutan yang ada di Kalimantan Barat.
Menurutnya ada banyak hal dan aspek yang saling keterkaitan ketika kita membahas tentang masalah lingkungan hidup dan kehutanan, baik secara Sosial budaya, Ekonomi, dan Ekologi.
“Peran aktivis lingkungan sangat penting untuk merangkul masyarakat. Terutama saling bekerja sama untuk menjaga hutan dan ekosistem di dalamnya, karena berprinsip pada hubungan antara Manusia dan Sang pencipta, Manusia dan Manusia, serta Manusia dan Alam,” jelas Adam, Walhi Kalimantan Barat.
Lanjut Adam, hal tersebut merupakan alasan mengapa kita sebagai manusia adalah aktor utama yang menentukan keberlanjutan kehidupan di muka bumi ini.
“Sebab alam yang telah diciptakan ini adalah untuk kebaikan seluruh makhluk yang ada di dalamnya,” tambahnya pada sesi pembahasan pendapat narasumber.
Terdapat sangat banyak pembahasan pada diskusi tersebut yang dipaparkan oleh setiap narasumber. Diantaranya peranan Mahasiswa dan Aktivis lingkungan hidup menghadapi keadaan lingkungan dan hutan Indonesia yang semakin hari semakin berkurang.
Hal tersebut dikarenakan alih fungsi lahan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Dimana mereka mengeksploitasi sumber daya alam dengan semaunya demi meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Tanpa memperhatikan aspek sosial budaya masyarakat dan ekologi yang justru lebih banyak dirugikan. Bahkan dampak negatif dari kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia mengakibatkan perubahan iklim global.
Pemerintah Daerah dan Pusat juga sangat berperan penting. Sebagai pembuat kebijakan yang semestinya menjadi gerbang utama dalam memberikan izin pengelolaan hutan. Juga memantau kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan yang diberikan izin untuk mengelola sumber daya alam.
Sehingga apabila terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan sumber daya alam, maka pemerintah perlu mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang melanggar ketentuan yang berlaku pada undang-undang pengelolaan alam dan ekosistemnya.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa perlunya hubungan antara pihak Aktivis lingkungan, Mahasiswa, Pemerintah, serta Masyarakat untuk bekerja sama dalam memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan dan hutan Indonesia. Dimana lingkungan dan hutan sebagai aset sumber daya alam yang tiada ternilai harganya.
Sebab dalam keseharian, kebutuhan yang kita gunakan merupakan hasil dari sumber daya alam, terutama hutan. Mulai dari kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan, bahkan hingga kebutuhan sekunder banyak yang dihasilkan dari sumber daya alam.
Maka dari itu, sebagai umat manusia yang diberikan akal dan pikiran oleh sang pencipta. Kita harus bersikap bijaksana dalam memelihara lingkungan dan hutan serta memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan. Justru bukan untuk merusak demi uang dan kekayaan pribadi.
Kontributor || Alfikri, WI 200102
Editor || Dewi Ayuningtyas, WI 190042
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)