Satu Abad Pecinta Alam Indonesia?

Oleh : Denni Hamdani
Himpala Itenas

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Satu Abad? memangnya nanti masih ada gitu Pecinta Alam (PA) di tanah air ini? Kalau mengacu pada sejarah, tentu berdirinya PPA (Perkoempoelan Petjinta Alam) Yogyakarta di tahun 1952 bisa dijadikan pijakan, walau ada juga yang mengacu pada kelahiran Wanadri dan Mapala UI di tahun 1964. Padahal dalam bentang waktu itu pun lahir IPKA Malang pada tahun 1954, serta Marabunta di Lereng Merbabu pada tahun 1963. So what gitu lho…

Lantas tak dapat dipungkiri lahirnya organisasi PA tak bisa lepas dari dinamika sejarah politik republik ini. Dari kejadian G 30 S PKI tahun 1965, di berbagai sekolah dan kampus muncul KAMI, KAPI dan KAPPI. Lahirnya EXTEMASZ di Bandung pada 1967 yang dimotori aktifis KAMI dan KAPI. Bahkan anak bau kencur setingkat SMP sudah menjadi motor penggeraknya.

Di era itu juga lahir Jana Buana IMT (Ikatan Mahasiswa Tjimahi) pada 1969. Jadi teringat Himapa, , bukan PA kampus, namun Himpunan Mahasiswa Paseh, Majalaya yang berseteru dengan Ikmabun alias Ikatan Mahasiswa Ibun, Majalaya). Ini menunjukkan begitu dinamisnya fenomena gerakan anak muda di tiap pelosok kampung saat itu.

Di sekolah tingkat SMA juga lahir yang namanya Kojarsena (Komando Pelajar Serba Guna), maklum saat itu operasi Dwikora dan Trikora membutuhkan sukarelawan yang siap diterjunkan di medan tempur. Dan tak dapat dipungkiri kehadiran PA intra SMA juga tak bisa lepas dari kiprah para aktifis Kojarsena.  

Di tatanan global, pasca perang Vietnam, hadir Flower Generation yang mendobrak tradisi dengan anti kemapanannya. Gelombang demostrasi anti perang para mahasiswa yang didukung kaum intelektual di luar pemerintahan telah melahirkan kesadaran akan perlunya upaya penyelamatan planet bumi ini, lahirlah Earth Day atau Hari Bumi pada April 1970, yaitu Hari Lingkungan Hidup versi rakyat sipil (bersamaan dengan hadirnya generasi Hippies dan Woodstock Nation di dunia musik rock saat itu). Tak mau kalah pamor, di tahun 1972 — lewat Deklarasi Stockholm — PBB mencanangkan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia.

Kedua momentum global yang membuat kesadaran baru, menjadikan Green Movement menjadi Green Party (Partai Hijau) di beberapa negara. Dari demo di jalanan menjadi kekuatan politik di parlemen. Lantas kita gimana?

Ketika muncul “Gerakan Tidak Mempercayai Kepemimpinan Nasional” alias Gerakan anti Soeharto pada 1978, di mana sebagian para aktifis juga barudak SMA, maka mendorong lahirnya PA intra SMA alias Sispala. Energi yang memuncak di saat itu disalurkan dengan naek gunung (Jadi inget alm. Soe Hoek Gie yang gugur di puncak Mahameru dengan bukunya Catatan Seorang Demostran). Nah, ketika para pendiri Sispala itu jadi mahasiswa, mereka pun menjadi pioneer berdirinya Mapala di berbagai kampus di era 1980-an.

Patut dicatat juga saat itu (Oktober 1980) lahirnya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) sebagai forum organisasi pegiat lingkungan hidup. Pada saat itu lahir UU Pokok Lingkungan Hidup No. 4 tahun 82 yang membuat kesadaran baru dalam sisi ekologis di tanah air. Maka ramailah acara menanam pohon untuk menyelamatkan hutan yang kian kritis. Lahir pula istilah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) menggantikan ORNOP (Organisasi Non Pemerintah) yang jadi terjemahan dari NGO (Non Govermental Organization).

Bersamaan dengan populasi manusia yang kian meningkat, lahir pula FISKA (Forum Informasi Studi Kependudukan) yang kini entah gimana nasibnya? Padahal secara politis saat itu merupakan mitra dari kementrian KLH (Kependudukan dan Lingkungan Hidup) yang digawangi Emil Salim yang pada waktu itu menjabat Menteri  Lingkungan Hidup.

Eh ada yang lupa, pada tahun 1977 dunia petualangan tanah air diramaikan dengan lahirnya para pemanjat legendaris dengan bendera SKYGERS yang dimotori Harry Soeliztiarto. Begitu pun dunia arung jeram menjadi mainan keren saat itu, walau sebagian memakai perahu mamooth pontoon alias perahu pendaratan pasukan amphibi seperti saat farewell party Citarum sebelum digenangi menjadi waduk Saguling. Gegeloan itu adalah pengarungan di malam hari yang dilakukan barudak WITS (Wild Trip Services). Tentu tak lupa hormat terpanjat pada alm Bah Ukok dari Wanadri yang menjadi pionir dalam Citarum Rally saat itu.

Dunia PA kian berkibar bersamaan dengan agenda rutin Gladian Pecinta Alam yang digelar pertama kali tahun 1970 di Citatah. Momentum Gladian Nasional IV, tahun 1974 di Ujung Pandang melahirkan “Kode Etik PA se-Indonesia”. Sampai terakhir Gladnas XIII digelar di NTB pada 2009. Setelah itu di kalangan Mapala digelar secara rutin yang namanya TWKM (Temu Wicara Kenal Medan) yang tentu diharapkan masih bisa berkibar mengingat PA intra kampus menyandang tugas yang lebih strategis bagi masa depan negara ini.

Secara perundangan pada tahun 1985 lahir UU keormasan di mana organisasi massa dikategorikan dalam 3 bidang, yaitu Profesi, Minat dan Hobby. Upaya ini merupakan penyeragaman bentuk yang nyata-nyata ditentang kalangan organisasi PA. Sehingga keterlibatan organisasi PA dalam politik praktis tak pernah terjadi dan tak menggiringnya menjadi bagian dari KNPI.

Jangan dilupakan juga era 90-an hadir mainan baru yaitu caving dan potholing yang digawangi teman-teman dari Garba Bhumi dan Hikespi (Speleologi). Lalu anak-anak  tebing membuat FPTI, dan anak-anak air membuat FAJI. Disinilah mulai rada rame dunia persilatan. Hijrahnya para amatiran menjadi profesional. Tersegmentasilah menjadi anak-anak Demo (yang berorientasi pada kondisi kerusakan lingkungan). Ada juga anak-anak Papan 12 m-an yang menjadi rame setelah hadirnya climbing wall. Lalu tentu ada anak-anak outbound yang membuat paket-paket  instan untuk jadi petualang.

Re-orientasi bukan dis-orientasi, PA sebagai wadah yang melahirkan integrated personality (generalis) menjadi para spesialis yang jago hanya di satu bidang. PA tak lagi hanya jadi terminal untuk melangkah ke depan, tapi bagi sebagian orang menjadi gantungan hidup.

Itulah sekedar kilas balik historis, agar untuk melangkah ke depan jelas pijakannya. Kini kita dihadapkan pada sikon yang berbeda dengan para pendahulu kita. Tantangan dan peluang eksistensi PA ke depan tak bisa diharapkan dari para inohong PA yang telah membuat legenda-nya sendiri. Paradigma saat ini adalah mengukur dari para player-nya sendiri yaitu anak zaman now.  Kita hanya berupaya membuat guide line ke depan agar di era bonus demografi tahun 2020-2030, barudak (anak-anak)  Sispala dan Mapala bisa berdiri tegak paling depan. Pada era itu yang hanya tinggal beberapa tahun  lagi, anak-anak  PA akan menjadi motor penggerak dari gerbong besar 70% penduduk negeri ini yang berisi angkatan kerja terbanyak di dunia.

Namun bagi Jawa Barat dengan penduduk saat ini 45 juta, bonus demografi nanti artinya akan terjadi lonjakan penduduk yang tentu secara tata ruang, semakin banyak manusia, maka harusnya semakin banyak hutan, karena akan membutuhkan semakin banyak air.

Jadi kalau rakyat Jabar mau selamat, maka barudak PA-lah salah satu yang harus berperan mengatasi degradasi lingkungan dan kerusakan alam akibat eksploitasi yang kian tak terkendali. Itulah yang harus jadi warisan buat anak cucu kita. Kalau alam sudah rusak, apalagi yang akan kita cintai.

Positioning barudak PA, baik secara individu yang harus selalu menjalani paradigm shifting, membangun pengetahuan, sikap dan tindakan dengan dasar nasionalisme dan wawasan kebangsaan membuatnya tak perlu diragukan lagi dalam soal “Bela Negara”. Posisi di masyarakat pun akan membuat sistem raising social awareness, karena soal militansi dan solidaritas sudah ditanamkan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan kekuatan potensi yang tidak terukur untuk menginvestasikan amal kebajikan, maka peranan bagi negara juga diperlukan untuk mengawal bahkan merevisi kebijakan yg dirasa tidak berpihak pada rakyat jelata.

Khususon untuk Jabar yang memiliki 368 PTS dan 11 PTN, kondisi saat ini belum memberikan konstribusi optimal untuk solusi (dan koreksi) pembangunan, dikarenakan masih lemahnya sinergitas di antara mereka. Nah kalangan Mapala bisa menjadi pemicu (trigger) hadirnya tatanan penguatan baru di tengah ego sektoral dan fanatisme almamater yang kian jomplang di dunia kampus. Egaliter menjadi barang langka di tengah dunia hedonisme mahasiswa.

Makanya tak aneh kalau saat ini upaya penghancuran generasi ini sudah dimulai sejak dini, sejak anak SMP sudah gencar dihajar narkoba. Lalu upaya-upaya sistemis juga dikembangbiakan lewat racun media, menjadi generasi lebay bin alay. Lantas lewat LGBT dikampanyekan same sex marriage. Itu semua hakekatnya adalah lawan yang nyata, agar anak muda kita hancur berantakan.

Kini setelah disahkannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada 2015 lalu (tadinya tahun 2020), ini menunjukkan upaya penjegalan terhadap bonus demografi kita, agar anak bangsa ini tak menjadi leading sector. Sehingga dengan kapasitas SDM saat ini, kita kelimpungan, karena baik dari sisi Hard Skill, Interpersonal skill, Attitude dan lain-lain, kita masih keteteran.

Mengejar peranan untuk menjadi garda terdepan bangsa ini adalah menjadi kiprah pendidikan yang ada di dunia PA. Kalau kalian gagal, bersiaplah hanya jadi generasi bengong yang cuma jadi penonton. Itulah perlunya re-desain pendidikan PA Indonesia, agar mampu menjawab tantangan yang nyata-nyata menghadang di depan mata.

Satu abad PA Indonesia, semoga tak sekedar utopia. Memang masih panjang cerita perjuangan kita, mencari jati diri (esensi dan eksistensi) PA Indonesia, tak perlu dengan imitasi dan duplikasi dari luar, karena hakekatnya sudah hadir dalam kearifan lokal Nusantara untuk menjadi benteng pertahanan terakhir.

Peranan apa nanti di saat satu abad PA Indonesia? Tergantung apa yang dilakukan PA hari ini. Dan akan kalian saksikan aku masih tetap setia, dan kalian anak-anakuku akan berdiri tegar bagai karang di tengah lautan! (dh).

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.