Oleh : Muhammad Azra Azzahiri
Founder Komunitas “Ayo Berdampak”
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Hari ini, 5 Juni adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia, seharusnya ini menjadi momentum untuk merayakan keberhasilan kita dalam menjaga dan merawat bumi.
Tetapi nyatanya, hari ini justru indonesia yang sangat kita sayangi sedang dikoyak alamnya. Di tanah air kita yang sangat kaya raya, surga ekologis di setiap sudut terus menerus dikorbankan demi investasi, tambang, dan angka pertumbuhan ekonomi yang “menipu”.
Raja Ampat, Pulau Gag, Halmahera, Kolaka, dan banyak daerah lain yang seharusnya sangat kita jaga karena kekayaan alamnya yang lestari, justru dilucuti oleh mesin industri yang haus sumber daya. Pemerintah menyebut ini “Transisi energi”. Dunia menyebut “Masa depan energi hijau tanpa karbon”. Tetapi masyarakat lokal menyebutnya penjajahan.
Saat di luar sana dengan bangga memakai barang dan fasilitas yang katanya “energi hijau”, masyarakat lokal menderita karena membayar itu semua dengan kehilangan tanah, udara sehat dan air yang menjadi sumber mata pencaharian mereka. Mereka kehilangan hidup, dan lebih menyakitkannya pemerintah melegalkan ketidakadilan itu.
Lalu kita Mahasiswa Pencinta Alam, di mana kita berdiri? Apakah kita akan tetap menjadi penikmat keindahan alam tanpa keberanian untuk menjaganya? Apakah kita hanya menyimpan foto keindahan alam di media sosial tapi tidak menyimpan kemarahan ketika alam dikoyak, masyarakat dijajah, pemerintah diam?
Kita tidak bisa hanya menjadi komunitas petualang. Kita harus jadi komunitas perlawanan. Hari ini adalah panggilan untuk membentuk barisan, menyusun kekuatan, dan merancang strategi jangka panjang demi menyelamatkan ruang hidup seluruh makhluk. Pengorganisiran harus dimulai. Konsolidasi harus dibangun. Gerakan harus disatukan.
Kita seharusnya menjadi jembatan antara masyarakat adat dengan ruang ruang akademik. Kita harus terus hadir di tengah masyarakat yang sedang mempertaruhkan hidupnya demi hutan, demi laut dan demi tanah mereka.
Kita harus memperjuangkan dampak, bukan sekedar perubahan kebijakan. Tapi perubahan kesadaran, dan sistem. Kita harus mengusahakan Indonesia yang adil bagi manusia dan bagi alam. Keadilan ekologis harus diperjuangkan, agar itu nyata adanya bukan sekedar kata dalam pidato pidato.
Memperjuangkan ini bukan hanya untuk mereka yang sedang berjuang di hari ini, tapi ini untuk generasi yang akan datang. Kita sedang mempertahankan kehidupan, harapan, dan memastikan bahwa kelak semua orang masih bisa mengenal apa itu sungai yang jernih, apa itu udara bersih, dan hutan yang asri.
Kita masih punya pilihan,
Pilihan untuk berpihak.
Pilihan untuk bersuara.
Pilihan untuk tinggal diam.
Semua Mahasiswa Pencinta Alam di seluruh kampus masih punya pilihan. Sekarang atau tidak pernah sama sekali. (*).
Foto || Wartapala
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)