Semarang Darurat Mangrove

Caption foto: Pesisir pantai di Semarang (sumber foto: https://lindungihutan.com/rawatmangunharjo). (WARTAPALA INDONESIA/ Aulia Fatra Kamalin)

Wartapalaindonesia.com, SEMARANG – Semarang merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia, khususnya provinsi Jawa Tengah. Selain terkenal dengan lunpianya, Semarang juga terkenal sebagai kota yang sering banjir ketika rob atau ombak besar menerjang.

Salah satunya yaitu Semarang bagian barat di kecamatan Tugu, di kelurahan Mangkang Kulon, Mangkang Wetan dan Mangunharjo. Ketiga wilayah tersebut merupakan pesisir pantai.

Kawasan pesisir pantai merupakan daerah terjadinya interaksi diantara tiga unsur alam yaitu daratan, perairan dan udara. Pesisir merupakan pertemuan antara darat dan laut. Ke arah darat meliputi bagian darat dan masih terpengaruh sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin.

Namun sayangnya laut tidak selalu bersahabat dengan mereka. Ombak yang semakin hari semakin tinggi dan membuat wilayah pesisir mengalami abrasi sehingga menghantui masyarakat sekitar dan membuat mereka resah.

Selain karena terjangan rob, pembuangan sampah dan limbah sembarangan juga menyumbang tingkat abrasi yang tinggi. Juga membuat tingkat penyerapan air tanah menjadi minim. Sehingga air tanah menjadi hal yang susah untuk didapatkan.

Sururi (50) adalah salah satu penggagas penanaman mangrove dari Mangunharjo, pada awalnya ia merasa kesulitan menggerakkan warga sekitar untuk ikut menanam mangrove.Karena menuding kalau penanaman mangrove hanya dapat dinikmati dirinya sendiri.

Namun itu tidak terbukti ungkapnya. Ia membuktikan bahwa usahanya tidak sia-sia.

Awal mula penanaman mangrove ini didasari karena perasaan khawatir akan kondisi kampungnya yang mengalami kerusakan parah. Pasalnya, maraknya budidaya udang ditambah dengan pembuangan limbah dari pabrik kayu lapis, membuat berkilo-kilo sampah memenuhi pantai di belakang rumahnya

Karena ke khawatiranya kehilangan tempat tinggal maka ia memutuskan untuk mulai menanam mangrove. Ironisnya warga sekitar kurang memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan, dan tantangan terbesarnya sat itu adalah kurangnya respon dari pemerintah kota dalam menggalakan penanaman mangrove.

Mangrove sendiri merupakan tanaman pendukung jenis ekosistem pantai, muara sungai dan delta pada daerah tropis dan sub tropis. Salah satu ciri tanaman mangrove adalah akar yang muncul ke permukaan.

Penampakan mangrove seperti hamparan semak belukar yang memisahkan daratan dengan laut sehingga mangrove dapat dikatakan ekosistem peralihan antara darat dan laut.

Mangrove memiliki manfaat dan peranan beraneka ragam, baik dari aspek fisik, ekologis dan sosial ekonomi.

Dari aspek fisik memiliki peran yang banyak diantaranya adalah menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai , mencegah terjadinya erosi laut, sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan wilayah dan masih banyak lagi.

Secara sosial ekonomi, mangrove banyak dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk arang dan kayu bakar, bahan bangunan, obat-obatan, pertanian, potensi produk olahan makanan wisata dan lain sebagainya.

Hal ini telah terbukti dengan pemanfaatan tanaman mangrove oleh warga sekitar yang banyak dibuat menjadi aneka sirup, makanan bahkan juga menjadi kain batik yang dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp.100.000-Rp.300.000. Bahkan kain batik ini tidak hanya dijual di dalam negeri namun sudah ke luar negeri.

Tanaman mangrove-lah yang membawa ekonomi warga sekitar menjadi lebih baik dari 15 tahun yang lalu (dikutip dari Yuda Saputra, Semarangpos 2017).

Selain itu tanaman mangrove juga sebagai tempat untuk berkembang biak berbagai macam hewan, sebagai rumah bagi mereka. Abarasi yang dikhawatirkan semakin parah juga dapat ditanggulangi dengan penanaman mangrove ini.

Manfaat dari mangrove ini telah membawa masyarakat setempat mendapat kehidupan yang lebih baik. Karena telah merasakan manfaat dari tanaman mangrove tersebut, secara langsung warga lambat laun mulai ikut dalam penanaman mangrove.

Secara tidak sadar pula mereka telah berupaya untuk mengurangi dampat terjangan rob dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir pantai sebagai alat pemecah ombak alami. Sehingga mengurangi dampak abrasi yang terjadi di kawasan tersebut.

Lama kelamaan sudah banyak pihak yang ikut andil dalam penanaman mangrove di Mangunharjo, Mangkang Kulon dan Mangkang Wetan ini.

Tidak hanya dari pihak pemerintah dan warga sekitar yang sudah mulai menaruh perhatian namun juga banyak dari kalangan aktivis lingkungan penggiat alam.

Termasuk organisasi kepencintaan alam yang berada di Semarang dan sekitarnya serta pihak-pihak lain yang turut mengambil peran dalam penanggulangan rob dan abrasi di Semarang dengan penanaman mangrove ini.

Namun terkadang saat terjangan rob atau gelombang besar menghantam tak sedikit membuat tanaman mangrove mengalami kerusakan, bahkan ikut hanyut ke tengah laut.

Seperti pada 22 Desember 2018 lalu saat terjadi tsunami di Banten, juga berdampak gelombang besar di pantai Mangunharjo yang kurang lebih 40.000 tanaman mangrove hilang dan mati.

Selain itu juga terkadang terdapat hama yang menyerang tanaman mangrove di kawasan ini. Karena hal tersebut tidak hanya penanaman yang dibutuhkan namun juga perawatan berkala. Seperti pembersihan atau pemberantasan dari hama dan melakukan tambal sulam terhadap tanaman yang rusak, hilang atau mati. (Sururi, wawancara 18 Juli 2019).

Namun terkadang kita lupa dengan perawatan tanaman-tanaman mangrove ini. Padahal menurut Sururi perawatan adalah hal yang terpenting.

Ia dan kelompok taninya sering merasa kewelahan saat melakukan perawatan tanaman-tanaman mangrove ini. Karena memang sangat jarang relawan yang ikut melakukan perawatan.

Ia berharap para relawan tidak hanya ikut melakukan penanaman namun juga ikut merawat. Ia juga berharap di tahun 2020 ini Semarang memiliki hutan mangrove-nya sendiri sehingga dapat memaksimalkan fungsinya dan dapat dijadikan sebagai ekowisata yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Kita sebagai generasi muda penerus bangsa hendaknya peduli dengan lingkungan sekitar kita. Dimulai dari hal terkecil yang bisa kita lakukan seperti bijak dalam membuang sampah.

Selain itu kita bisa menjadi penggerak penanaman mangrove atau tanaman lain yang dapat mengurangi dampak pemanasan global seperti erosi dan abrasi.

Juga upaya melakukan perawatan terhadap tanaman yang telah ditanam sehingga dapat bermanfaat secara maksimal. Karena sekarang banyak yang menjadi relawan penanaman namun melupakan perawatannya. Akibatnya banyak tanaman yang mungkin mati karena tidak terawat sehingga tujuan penanaman tidak tercapai secara maksimal.

Kalo bukan kita siapa lagi, kalo bukan sekarang kapan lagi? Apakah kita tega memberi warisan kepada anak cucu kita hanya kerusakan di bumi dan mereka tidak bisa merasakan keindahannya? Ini perlu renungan dan tindakan kita bersama.

(Artikel sudah diterbitkan sebelumnya di laman web mawapala.org dengan judul : “Mangrove untuk Semarang”)

Kontributor || Aulia Fatra Kamalin

Editor || Agung Wahyu Utomo, WI 170015

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: