Sharing Session #2 Mapala UMI: Belajar Analisa Risiko, Pulang dengan Kesadaran Baru

WartapalaIndonesia.com, FEATURE – Sore itu suasana sekretariat Mapala Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Kampus 2, Makassar, tampak berbeda dari biasanya. Kursi-kursi disusun, papan tulis terpasang, dan obrolan hangat mengisi ruangan. Di balik suasana sederhana itu, berlangsung sebuah agenda penting: Sharing Session (SS) #2 Mapala UMI dengan tema Analisa Risiko Berkegiatan di Alam Bebas. Sabtu (30/8/2025)

Acara ini dihadiri puluhan pegiat alam dari berbagai komunitas di Makassar. Tidak hanya anggota Mapala UMI, hadir pula mahasiswa pecinta alam lain, KPA, dan pencinta kegiatan outdoor yang ingin memperdalam wawasan tentang keselamatan.

Kehadiran mereka menunjukkan satu hal: alam bebas bukan hanya tempat rekreasi, tapi ruang belajar yang menuntut kesadaran penuh.

Menurut panitia, Sharing Session ini tidak sekadar ajang diskusi. Ia adalah wadah silaturahmi, tempat para pecinta alam bisa bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan memperbarui pemahaman soal bahaya dan risiko di alam bebas.

“Bagi sebagian orang, hutan, gunung, dan sungai hanyalah tempat hiburan. Tapi bagi kita, itu adalah medan yang harus dipahami dan dihormati. Kalau kita tidak siap, risiko bisa berbalik menjadi bencana,” ungkap salah seorang panitia saat membuka acara.

Narasumber Sharing Session kali ini adalah sosok istimewa: Ir. Mulyadi, anggota Mapala UMI angkatan ke-4 (1987). Latar belakangnya sangat relevan seorang rescuer tambang bawah tanah di PT Freeport Indonesia yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam urusan keselamatan kerja dan manajemen risiko.

Dengan gayanya yang lugas, Mulyadi tidak hanya membagikan teori, tetapi juga membawa peserta masuk ke dunia nyata penuh risiko.

“Keberanian itu bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski kita tahu risikonya, karena kita sudah menyiapkan mitigasi dengan baik,” ujarnya.

Materi utama Sharing Session #2 adalah Analisa Risiko, yang dibawa ke konteks kegiatan alam bebas. Mulyadi mengenalkan konsep HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) atau dalam istilah Indonesia dikenal juga sebagai IBPR (Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Pengendalian Risiko).

Tapi yang membuat sesi ini hidup bukanlah istilah teknisnya, melainkan cara materi itu dikaitkan langsung dengan pengalaman nyata. Peserta diajak membahas contoh konkret seperti risiko pendakian gunung saat cuaca ekstrem, penyusuran gua dengan aliran air deras, hingga ekspedisi panjang di hutan hujan tropis.

“Risiko itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk dikelola. Kalau kita bisa mengenali bahaya sejak awal, kita bisa pulang dengan selamat, dan itu adalah pencapaian terbesar,” tambah Mulyadi.

Diskusi berlangsung interaktif. Peserta silih berganti mengajukan pertanyaan, menceritakan pengalaman mereka, lalu membandingkannya dengan teori yang dibawakan.

“Yang membuat menarik, setiap cerita punya pelajaran. Misalnya ada yang cerita soal kehabisan logistik di hutan, atau hampir tersesat di jalur pendakian. Dari situ kami jadi belajar cara menilai risiko sebelum berangkat, bukan ketika masalah sudah terjadi,” ungkap Andi, salah satu peserta.

Keterbatasan waktu menjadi satu-satunya kendala. Banyak yang masih ingin berbagi pengalaman, tetapi sesi harus ditutup karena hari sudah beranjak malam.

Bagi peserta, momen paling berkesan bukan hanya ketika mendengar teori HIRADC, tapi ketika menyadari bahwa hampir semua pengalaman pahit mereka di alam sebenarnya bisa diminimalisir jika sejak awal dilakukan analisa risiko yang matang.

“Kadang kita terlalu percaya diri. Tapi dari diskusi ini, saya sadar bahwa percaya diri saja tidak cukup. Kita butuh persiapan, kita butuh ilmu,” kata salah satu peserta lain dengan nada reflektif.

Sharing Session #2 ini merupakan bagian dari seri kegiatan Sharing Session Mapala UMI yang rencananya akan terus berlanjut dengan tema-tema menarik lainnya. Panitia mengisyaratkan, Sharing Session #3 akan segera digelar dengan tema baru yang masih dirahasiakan, tapi dipastikan akan tetap relevan bagi pegiat alam bebas.

Sebelum acara ditutup, panitia menyampaikan pesan yang menohok sekaligus menyentuh. “Alam tidak butuh kita. Justru kita yang butuh alam. Karena itu, kegiatan ini bukan hanya soal teori, tapi tentang bagaimana kita menyelamatkan diri, menyelamatkan tim, dan memastikan semua bisa pulang dengan selamat. Tambah satu lagi: lestarikan alam dan isinya, cita-cita kita bersama.”

Sharing Session #2 Mapala UMI bukan hanya diskusi, melainkan refleksi kolektif. Dari ruang sekretariat sederhana di Makassar, lahir kesadaran baru bahwa risiko di alam bebas tidak bisa dianggap remeh. Ia harus dianalisis, dipetakan, dan dikelola.

Dengan narasumber berpengalaman, diskusi interaktif, dan antusiasme peserta, kegiatan ini membuktikan satu hal: cinta alam tidak cukup dengan keberanian, tapi harus dengan ilmu dan kesadaran.

Dan itulah yang dibawa pulang peserta malam itu sebuah pemahaman baru, bahwa perjalanan di alam bebas selalu harus berakhir dengan satu kata kunci: selamat. (*).

Kontributor || Abdul Aziez, WI 200059
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.