Siapa Bilang Harimau Jawa Sudah Punah?

Wartapalaindonesia.com, JEMBER – “Apakah benar Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) sudah punah?” Itu adalah kalimat yang sering terngiang dikepala kita, para anggota Mapala atau pegiat lingkungan di wilayah Jember dan sekitarnya.

Meski telah banyak dipublikasikan bahwa Harimau Jawa sudah punah, namun kami masih percaya, meyakini, dan berharap “Icon” Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) itu masih ada, nun jauh di dalam hutan-hutan Jawa.

Besarnya kepedulian terhadap Harimau Jawa ini dibuktikan dengan sering diadakannya berbagai kegiatan penelitian, seminar, diskusi, hingga bincang-bincang non-formal.

Salah satunya seperti Sharing Session yang kami lakukan malam kemarin, pada hari kamis 26 mei 2016, pukul 19.00, bertempat di Klasik Cafe, Jember.

Tema diskusi kita kali ini adalah, “Peranan Kita Dalam Konservasi Harimau Jawa”.

Acara ini didatangi oleh Kepala BKSDA, perwakilan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), para pegiat lingkungan hingga anggota Mapala Jember dan sekitarnya.

Acara yang di dukung oleh Komunitas Peduli Karnivor Jawa (PKJ), MAHAPENA FE UNEJ, Cozmeed, Warna Tour n Travel, dan KAPPALA ini begitu menarik perhatian peserta diskusi.

Hal ini tampak dari para peseerta yang antusias bertanya, memberi masukan, saran, bahkan kritik dalam kegiatan sharing session ini. Hal ini juga menunjukkan bahwa masih begitu banyak orang yang peduli dengan keberadaan si Javan Tiger ini.

Begitu pula dengan saya, yang begitu akrab dengan Taman Nasional yang dijuluki sebagai “Home Of Biodiversity” itu pun masih sering mendapat informasi bahwa harimau jawa masih ada di dalam hutan Meru Betiri dari masyarakat sekitar kawasan.

Mereka bukan hanya percaya kalau Karnivor besar ini sebenarnya masih ada, tetapi juga meyakininya.

Selama perjalanan riset Skripsi saya tentang Rafflesia zollingeriana Kds. disana, bahkan ada narasumber yang mengatakan belum lama ini sempat menyaksikan si Kucing besar ini sedang memangsa banteng, di dekat savana feeding ground-Pringtali.

Sayangnya, pengakuan masyarakat sekitar kawasan itu masih belum ada bukti visual, sehingga belum bisa di uji keabsahannya.

Lalu jika masyarakat sekitar kawasan hutan begitu yakin kalau si Loreng ini belum punah, bagaimana dengan kita para akademisi? Apa yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa kita sumbangkan untuk kelestarian si Javan Tiger ini?

Ya. Tentu saja bagi seorang akademisi, jika kita mempercayai keberadaan Harimau Jawa ditanah yang kita pijak ini, tentu harus berani membuktikannya. Itu lah ketetapan hati kedua orang pioneer penelitian Karnivor Besar ini.

Mereka adalah bpk. Wahyu Giri, dosen Fakultas pertanian-Universitas Moch Sroedji Jember, yang akrab di sapa “Cak giri” dan mas Didik Raharyono, seorang ahli Harimau Jawa sekaligus Direktur “Peduli Karnivor Jawa” (PKJ).

Dalam diskusi itu, diberi pengantar pengetahuan dasar tentang beberapa hal, seperti Mengapa mengkonservasi harimau jawa?

Pentingnya melindungi hutan jawa, Bagaimana perlindungan plasma nutfah? dan Pentingnya penyelamatan jenis tersisa.

Namun yang paling menarik adalah pada topik diskusi, yaitu: Siapa Bilang Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) Sudah Punah?

Kalimat itu bukan hanya sekedar pembelaan terhadap keyakinan kami. Tetapi dibuktikan juga dengan berbagai bukti visual dari berbagai wilayah di tanah Jawa.

Secara teoritis, kepunahan suatu spesies harus melewati penelitian, dan pengamatan intensif. Salah satu metode perhitungan yang cukup mudah adalah perhitungan secara Matematis.

Matematika “punah”nya spesies harus melewati 2x umur rata2 hidup di alam, dari perjumpaan terakhir.

Seperti harimau jawa yang terkhir ditamukan oleh Steidensticker pada th 1973, dan diperkirakan masih tersisa sekitar 3-4 spesies di dalam satu kawasan.

Apabila di hitung 2X umur rata-ratanya, yaitu 25 tahun, maka baru dapat resmi dinyatakan punah pada tahun 2023 nanti.

Namun bukan hanya itu, dalam masa “tunggu” ini, harus disertai dengan penelitian yang intensif, sehingga dapat dibuktikan pertanggung jawaban dan validatas datanya.

Selama ini, dalam masa “tunggu” tersebut, belum ada penelitian yang benar-benar intensif dari pemerintah untuk membuktikan ke-tidak beradaan si Loreng ini.

Memang sempat pernah dilakukan penelitian oleh WWF pada tahun 1994 di Taman Nasional Meru Betiri dengan metode pemantauan menggunakan  camera trap “Sistem injak”.

Cara kerja camera trap tersebut, apabila terinjak oleh satwa dengan berat >3 kg, maka akan terambil gambar satwa yang ada di depannya.

Namun hal itu sangat tidak efektif, karena hanya akan sedikit sekali kemungkinan ia menginjak pijakan kamera tsb.

Selain itu, jumlah camera nya juga sangat sedikit, sehingga belulm dapat meng-cover seluruh kawasan Taman Nasional Meru Betiri yang luasannya mencapai 58.000 Ha.

Lalu bagaimana dengan hutan belantara lain yang masih ada di pulau jawa?? Apakah tidak mungkin si Loreng itu ada di kawasan hutan Jawa yang lainnya? Bukankah pernyataan punah oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) itu terlihat sangat tergesa-gesa??

Lalu bagaimana dengan para pemerhati lingkungan? pernah adakah penelitian yang mereka lakukan untuk membela si “penguasa hutan” itu?

Ya, tentu saja kami tak akan tinggal diam, kata pioneer Tim peneliti Harimau Jawa itu. Ekspedisi awal yang juga melibatkan berbagai kalangan pemerhati lingkunga itu dilakukan pada saat kegiatan “Pendidikan Lingkungan Untuk Kelompok Pecinta Alam Indonesia & Ekspedisi Meru Betiri  tahun 1997″.

Dalam perjalanannya, berbagai macam kegiatan penelitian dan pencarian bukti keberadaan Harimau Jawa selalu dibantu oleh teman-teman pencinta alam, pegiat alam, Kappala, dan FK3I Jawa Timur.

Selama masa pengamatan yang begitu panjang ini, sudah banyak ditemukan bukti visual bekas aktivitas si Loreng ini, seperti jejak tapak kaki, cakaran di pohon, feses, hingga kulitnya.

Bahkan pada tahun 2009, Pak Didik juga sempat mendapatkan sampel kulit harimau loreng yang dibunuh dari Jawa Timur, namun untuk membuktikan keabsahannya, masih perlu dilakukan analisis lebih lanjut ke tingkat DNA.

Selain bukti visual, peneliti juga mencari informasi lain ke masyarakat sekitar kawasan hutan di Jawa, seperti dua video kesaksian masyarakat sekitar kawasan yang sempat menjumpai harimau dengan deskripsi yang begitu mirip dengan Harimau jawa.

Video itu diputar pada malam sharing diskusi kemarin, dan mengundang perhatian lebih mendalam para peserta diskusi akan pentingnya sosialisasi dan pemahaman kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan.

Lalu, jika sudah begitu banyak bukti didapatkan untuk membuktikan bahwa Harimau Jawa Belum Punah, apa yang bisa kita lakukan mas? Tanya salah seorang peserta diskusi.

Konsep pendeteksian karnivor besar itu cukup banyak, diantaranya adalah:

  1. Ada kesaksian dari orang yang sempat bertemu dengan Harimau Jawa.
  2. Adanya sumber informasi, seperti penduduk yang masuk hutan, warga pemikat burung, pendengar, masyarakat di sekitar hutan, bahkan seperti pawang macan, penjaga hutan, dll.
  3. Survey lokasi.
  4. Pemantauan aktivitas/keberadaan Karnivor Besar,
  5. Manajemen habitat, yang membutuhkan kolaborasi semua elemen masyarakat dan pihak pengelola kawan hutan seperti Raung, Alas Purwo, Meru Betiri, dan BKSDA.

“Karena banyak diantara kita adalah Pencinta Alam, dan Pegiat Alam yang sering main ke dalam hutan, maka lakukan aksi nyata kepedulian kita. Tak harus besar dan sulit,” pesan Mas Didik.

“Ada banyak langkah kecil yang memberikan sumbangan besar, seperti penyadar-tahuan dalam lingkup organisasi kita sendiri dalam kehidupan sehari-hari, dan menambahkan 1 kg gypsum di tiap ransel kita ketika akan masuk hutan, untuk mencetak jejak yang sekiranya mirip dengan Jejak Karnivora Besar,” lanjutnya.

“Selain itu, cobalah bersosialisasi dengan masyarakat di pinggiran hutan, mengenal budaya lokal mereka, yang hal itu  juga sudah sesuai dengan kode etik pencinta alam yang sering kita dengung-dengungkan,” pesan Mas Didik Raharyono kepada kami (orang yang mengaku sebagai Pencinta Alam) malam itu.

“Jika Harimau Jawa baru dapat dikatakan punah pada tahun 2023 nanti, itu adalah waktu yang lama untuk menunggu. Akan menjadi waktu yang sangat singkat apabila kita bersama-sama dan berkoordiansi untuk membuktikan keyakinan kita bahwa, Panthera tigris sondaica Masih Ada”. Itu adalah kalimat motivasi untuk kita, agar mau kembali menjadi makhluk tuhan yang berselaras dengan alam.

Laporan : Nurlela Fatmawati

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Dok

Jejak Harimau Jawa, ATAS.CETAK JEJAK (PSPC), BAWAH FESES.
Jejak Harimau Jawa, ATAS.CETAK JEJAK (PSPC), BAWAH FESES.

Harimau Jawa 1 Harimau Jawa 2 Harimau Jawa 3

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

6 Comments

  • rayhan , November 15, 2016 @ 2:44 am

    kemarin pas gunung kelud mau meletus , ada macan gembong ( harimau jawa) yg turun n mangsa sapi warga di desa sumberpetung kecamatan ngancar kabupaten kediri..

    • tangbin , Desember 29, 2016 @ 1:34 pm

      Emang iy bro lokasi nya dimananya

  • Subagio Kusumasubrata , Desember 22, 2016 @ 4:33 pm

    Pengalaman saya melacak harimau Bali 1978, berita dari katanya yang meyakinkan tapi kurang layak dipercaya selalu tidak pernah habis. Begitupula waktu itu dikatakan harimau bali masih eksis di hutan jembrana. Tapi tak pernah terbukti hanya sebatas bekas cakaran di pohon. Jika memang Harimau Jawa masih ada…. sebaiknya dipastikan dengan segera melindunginya dengan sistem semi cavtive insitu seperti yang dlakukan di Rusia terhadap Harimau Siberia.

    Tantangan keberadaan harimau sangat berat. Selain kanibal (jantannya saling bunuh) keberadaan macan tutul sebagai kompetiter tangguh dalam berebut mangsa jadi kendala bagi eksistensi Harimau. Keberadaan macantutul di pulau jawa yang misterius (Setiap satwa yang ada di pulau jawa ada di SUmatera dan Kalimantan, Macan tutul ada di daratan asia tak ada di Sumatera dan kalimantan…, tapi ada si p.Jawa) anomali asal muasalnya jadi penyebab yang menyulitkan Harimau Jawa untuk eksis.

    Macan tutul mungkin raja hutan yang sebenarnya dibuktikan dengan penyebaran dari ujung utara Asia sampai Afrika. Harimau hanya di Asia. Singa hanya di Afrika. Singa di India nyaris punah terdesak oleh macan tutul dan Harimau.

  • Ardhan Ernanda Setyabudi , April 24, 2018 @ 8:09 pm

    tolong untuk di selidiki untuk daerah gunung lawu beberapa pendaki pernah melihat bahkan peenah mendengat aungan kucing besat

  • pendi , Mei 27, 2018 @ 1:23 pm

    semoga harimau jawa segera di temukan dan berkembang biak di habitat aslinya.

  • Fatoni , Agustus 21, 2020 @ 10:26 am

    Sekedar berbagi kisah ,
    Sekitar tahun 2018 siang itu saya dan teman saya melakukan perjalanan menuju sebuah goa di alas purwo tanpa di sadari saya melihat sang loreng jawa (macan jawa bukan macan tutul)siang itu dengan jelas di sebuah sungai dia sedang minum air sungai itu ,saya dan teman saya jimbe merasa ketakutan pada waktu itu kami berdua diam dan tidak berani menatap mata harimau tersebut tak lama berselang harimau tersebut berlari masuk ke rimbun semak saya yakin bahwa itu hari mau jawa bukan macan tutul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.