WARTAPALA INDONESIA

SI KOBER 1, Menyingkap Agenda Terselubung Dibalik Pengamatan Lutung Jawa

Wartapalaindonesia.com, KONSERVASI – Siapa sangka agenda Sinau Konservasi Bareng (SI KOBER) yang digagas Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) wilayah Malang secara sederhana menyimpan sebuah agenda besar di dalamnya.

Untuk menelusurinya, Wartapala Indonesia (WI) sengaja mengikuti langsung jalannya kegiatan SI KOBER edisi perdana dari awal hingga akhir acara.

Kegiatan berlangsung di Javan Langur Center, Coban Talun, Batu mulai Sabtu (2 Juni 2018) hingga Minggu (3 Juni 2018). Dihadiri 50 peserta lintas komunitas Pencinta Alam se Malang Raya.

Peserta merupakan perwakilan dari MPA Jonggring Salaka, Summit Insyaf, Kehutanan UMM, Palapa 94, ET Voema, Stepas, MPA Reksa Buana, Sobat Bumi, UB Malang, Ganendra Giri, Ranti Pager Aji, Impala UB, S-Cibum, Mapalipma, Himakpa, Palasena dan freelance.

Mengusung tema “Pengamatan Lutung Jawa” tak berlebihan jika agenda ini menjadi nostalgia bagi pemerhati lingkungan dan pegiat alam.

Pasalnya Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) atau masyarakat sekitar menyebutnya Budeng, merupakan salah satu satwa asli (endemik) Indonesia yang sudah hampir terlupakan kabarnya.

Bagaimana bisa terlupakan? Opini kami menyebutkan karena bukan hanya Lutung Jawa saja yang saat ini butuh perhatian serius oleh aktivis pegiat alam.

Misdi staf Javan langur Center (JLC) Aspinall Foundation memaparkan bahwa Lutung Jawa terdiri atas dua subspesies, pertama Trachypithecus auratus auratus (Spangled Langur Ebony) penyebarannya mulai dari perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah terus ke timur hingga ujung timur Jawa Timur. Populasi di Pulau Bali dan Lombok masih dimasukkan dalam sub jenis ini.

Kedua Trachypithecus auratus mauritius (Jawa Barat Ebony Langur) tersebar di Jawa Barat bagian barat hingga ke Banten.

Lutung Jawa jantan dan betina dewasa umumnya mempunyai rambut tubuh berwarna hitam keputihan, pada Lutung betina berwarna putih kekuningan di sekitar kelaminnya. Sedangkan anak Lutung memiliki rambut tubuh warna jingga keemasan.

Ukuran tubuh rata-rata sekitar 46-75 cm diukur dari panjang kepala hingga tubuh, sedangkan panjang ekornya antara 61-82 cm.

Lutung Jawa tinggal dan hidup di hutan hujan pegunungan hingga hutan di pesisir pantai. Sebagai monyet pemakan daun, Lutung Jawa sangat tergantung pada keberadaan hutan campur atau hutan heterogen yang kaya akan beragam jenis tumbuhan.

Mengapa harus Lutung Jawa yang diamati? Salah satu alasannya karena populasi Lutung Jawa mengalami penurunan, dimana berdasarkan Daftar Merah (Redlist) International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) tahun 2008 masuk dalam status konservasi Terancam (vulnerable).

Ada tiga hal penyebab utama menurunnya populasi Lutung Jawa, pertama akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal oleh manusia. Kedua, alih fungsi hutan primer menjadi lahan pertanian, pemukiman penduduk dan pembukaan jalan. Ketiga, kerusakan hutan primer karena kebakaran hutan, pembalakan liar dan bencana alam.

Berdasarkan ASIAN PRIMATES JOURNAL, Volume 4 Number 1 2014 IUCN SSC Primate Specialist Group, saat ini sedikitnya 6 jenis primata di Pulau Jawa. 5 jenis diantaranya merupakan primata endemik Jawa, antara lain Lutung Jawa Timur, Lutung Jawa Barat, Owa Jawa, Rekrekan dan Kukang Jawa.

Walaupun status konservasi internasionalnya berbeda saat ini, namun 5 jenis primata endemik Jawa tersebut sama-sama terancam kepunahan dari habitat alaminya, (The Aspinall Foundation, akses 2018).

Sedangkan Lutung Jawa adalah jenis satwa dilindungi. Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup atau mati (Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 41 Ayat 2).

Materi Pembekalan Pengamatan Lutung Jawa, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Pada materi pembekalan pengamatan Lutung Jawa, peserta SI KOBER juga mendapat pembekalan materi tentang petunjuk pengamatan satwa di alam. Materi dipresentasikan oleh Rifki (petzl) asal Mapalipma.

Menurut Rifki (petzl) hal yang harus diperhatikan saat pengamatan adalah persiapan, yakni perlengkapan pengamatan yang terdiri dari teropong (binocular), buku pengenalan jenis satwa (field guide) dan buku catatan lapangan.

Selanjutnya hendaknya peserta tidak mengenakan pakaian berwarna cerah atau mencolok, sebab hal tersebut akan membuat satwa takut akan kehadiran manusia. Namun juga perlu memperhatikan pakaian yang sesuai standart kegiatan di alam.

Selain itu penting bagi peserta pengamatan untuk tidak berisik atau membuat suara gaduh. Peserta juga dihimbau melakukan pengamatan dalam kelompok-kelopok kecil.

Pada kegiatan pengamatan Lutung Jawa SI KOBER, Minggu (3 Juni 2018), pengamatan dilakukan mulai pukul 06.00 WIB dimana waktu tersebut merupakan waktu dimulainya aktifitas satwa.

Lutung Jawa sendiri aktif pada siang hari (bersifat diurnal) dan lebih banyak beraktifitas harian di pepohonan (bersifat arboreal) walaupun ada beberapa yang turun ke tanah.

Pembagian Kelompok Pengamatan Lutung Jawa, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Peserta pengamatan dibagi menjadi empat kelompok kecil dengan satu kelompok terdiri dari lima orang peserta pengamatan dan dua orang mentor. Selanjutnya kelompok kecil tersebut akan diarahkan menuju spot pengamatan yang sudah ditentukan.

Setelah melakukan persiapan dengan didahului stretching, peserta berjalan melintasi hutan produksi di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo (Tahura R. Soerjo). Kawasan Tahura R. Soerjo berada di dalam kompleks gunung Arjuno, Welirang dan Anjasmoro.

Nama R. Soerjo sendiri diambil dari nama Gubernur pertama Jawa Timur sekaligus seorang pahlawan nasional Indonesia. Bernama asli Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo kelahiran Magetan, 9 Juli 1898 dan meninggal di Ngawi, 10 September 1948 diusia 50 tahun.

Hutan Produksi Tahura R. Soerjo, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Lima belas menit berjalan kaki melintasi presisinya tatanan hutan produksi, peserta akan menemui titik point persimpangan yang menjadi pintu masuk utama pengamatan Lutung Jawa. Pada titik ini, peserta dibagi menuju empat spot utama.

Di titik ini panitia memberikan briefing singkat mengenai pengisian tabel pengamatan. Peserta juga dihimbau untuk menyiapkan perlengkapan pengamatan. Selain binocular, kertas berfungsi sebagai tabel pengamatan turut dipersiapkan. Di titik ini pula kami melihat mulai banyaknya papan himbauan atas dilarangnya perburuan liar.

Briefing Tabel pengamatan, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia
Tabel Pengamatan, SI KOBER FK3I Jatim. Briefing Tabel pengamatan, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Dalam pengamatan Lutung Jawa, kami menggunakan dua metode pengamatan yakni metode jalur (transect) dan konsentrasi (concentration). Dalam metode transect, kami mengamati satwa sepanjang jalur pengamatan satwa, hanya saja kami tidak membatasi sampai mana panjang jalur pengamatannya.

Kami sendiri mendapat kesempatan untuk bergabung dengan kelompok empat, dimana kelompok ini terdiri dari rekan-rekan dari Impala UB, Mapalipma, Ranti Pager Aji (RPA) dan beberapa anggota Sispala.

Melintas aliran air, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Lebat dan sejuknya hutan mulai terasa pada perjalanan kali ini. Trek licin khas hutan tropis ditambah beberapa kali melalui aliran air yang jernih mulai memberi keseruan tersendiri bagi kami. Sebagian dari kami harus merapat dengan tanah kala langkah meretas jalan setapak yang curam tak lagi terkendali.

Sekitar dua puluh menit berjalan, kami mengaplikasikan pengamatan menggunakan metode jalur (transect), hingga kami mendengar suara Lutung Jawa. Terdengar sangat jelas, hingga memaksa kaki kami berhenti menjejak untuk memberi kesempatan indra pengelihatan dibantu binocular melakukan tugasnya.

Mengamati keberadaan Lutung Jawa, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Sepuluh menit mengamati sekitar dan sumber suara, kami belum juga berhasil menemukan sosok dari sumber suara. Wuk.. Wuk.. Wuk.. suara Lutung Jawa kembali terdengar bersautan dengan kicauan burung, hanya kini terdengar semakin menjauh.

Tim kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, dan  kembali mengaplikasikan pengamatan menggunakan metode jalur (transect). Kaki kami menyusuri trek dengan kerapatan vegetasi yang semakin lebat. Sepanjang perjalanan, kami ditemani alunan suara aliran air yang berlari jernih mengalir meneduhkan jiwa.

Hingga mendengar kembali suara Lutung Jawa di dekat aliran air yang cukup besar. Kami berhenti dan sepakat untuk mengaplikasikan pengamatan metode konsentrasi (concentration). Sekitar enam puluh menit kami mengamati sekitar, namun sosok pemilik suara tak kunjung menampakkan dirinya.

Menyintas lebatnya hutan R. Soerjo, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Mentari mulai menelisip dirapatnya daun pepohonan, menyengat kulit. Tim memutuskan sudahi pengamatan dan kembali menuju meeting point. Di sana kami akan saling berbagi dengan hasil pengamatan kelompok lain.

Dari hasil pengamatan, dengan jujur semua kelompok tidak mendapati sosok Lutung Jawa. Namun kami sepakat bahwa keberadaan Lutung Jawa masih ada, kami membuktikan melalui tanda adanya suara Lutung Jawa.

Sedangkan dari hasil diskusi, kami mengevaluasi hasil pengamatan mengapa kami tidak mendapati sosok Lutung Jawa. Pertama, karena beberapa dari kami mengenakan pakaian yang mencolok. Kedua, kami melakukan pengamatan kurang senyap. Dan terakhir, dalam pengamatan mutlak harus menguasai aspek morfologi satwa liar, aspek ekologis, dan aspek ethologis (perilaku hewan).

Presentasi dan diskusi hasil pengamatan Lutung Jawa, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Diskusi tidak berhenti sampai disini, menyambung acara selanjutnya, panitia dengan apik memberikan pandangannya mengenai kegiatan pengamatan kali ini.

Salah satunya Bayu Sapto Nugroho, Ketua Pelaksana SI KOBER Satu menyebutkan bahwa, “pengamatan ini merupakan langkah awal aksi kami untuk menggugah kembali semangat berkonservasi.”

“Karena yang pertama, maka kami akan melihat antusias peserta,” imbuh mahasiswa Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang kelahiran Lampung yang juga tergabung sebagai anggota Mapala Ganendra Giri.

Setali tiga uang, Lila Puspitaningrum, Kordinator Wilayah Malang Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Timur memaparkan bahwa SI KOBER digelar untuk mewadahi sinau atau belajar bareng konservasi. “Ya ini latgabnya konservasi,” ujar darah 22 tahun asli Ngawi itu.

Output kegiatan ini ada dua. Pertama, untuk individu dimana kita belajar tentang pengamatan satwa sesuai etika konservasi, bukan hanya untuk bertemu saja, jadi jangan kecewa jika hari ini belum bertemu lutung,” tandasnya.

“Kedua, menyampaikan bahwa banyak materi konservasi yang bisa dipelajari dan dilakukan secara sederhana, salah satunya SI KOBER,” imbuh mahasiswi jurusan BK Universitas Negeri Malang angkatan 2014 yang juga tergabung sebagai anggota MPA Jonggring Salaka (JS) tersebut.

Lila Puspitaningrum ajak peserta SI KOBER peduli lingkungan sekitar, SI KOBER, FK3I Jatim, Foto Wartapala Indonesia

Disela diskusi, Lila mengajak peserta untuk mendiskusikan permasalahan lingkungan terkini di daerah masing-masing. Para peserta sangat antusias berdiskusi tentang permasalahan lingkungan mulai dari dampak berkurangnya sumber mata air di daerah kota Batu, efek tumbuh suburnya salvinia di Ranupani Lumajang, hingga kasus pengelolaan kawasan Cagar Alam di Pulau Sempu, kabupaten Malang Selatan.

Dan diakhir diskusi, Lila menjelaskan apa itu advokasi. Dalam penjelasan sederhananya, advokasi itu diibaratkan seperti upaya seorang anak meminta sesuatu hal yang diinginkan kepada orang tuanya, mau dengan cara merayu, meminta langsung ataupun lainnya.

Tos sebagai penyemangat komitmen, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Diharapkan SI KOBER ini akan selalu ada dan menjadi salah satu cara untuk semakin menyadarkan masyarakat khususnya pegiat alam akan pentingnya sadar konservasi serta belajar melakukan advokasi. Dan jiwa konservasi bisa diawali dengan membuang sampah pada tempatnya.

Pengabadian foto bersama menjadi hal wajib sebelum peserta kembali ke tanah air sekitar, dimana lingkungan terdekat akan menjadi tempat paling realistis dalam memperjuangkan konservasi. Semoga.

Foto bersama peserta SI KOBER satu, SI KOBER FK3I Jatim. Foto Wartapala Indonesia

Kontributor || Alton Phinandhita

Editor || Amita Pradana Putra

bagikan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: