Wartapalaindonesia.com, BATU – Yayasan ular Indonesia ‘SIOUX’ menggelar pelatihan keterampilan menangani ular bertema Snake Handling Training (shading) and Basic Training Muscle (BTM) di Mako Gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (24 Maret 2018) hingga Minggu (25 Maret 2018).
“Safety first, dalam kegiatan menangani ular. Terimakasih atas antusias peserta yang sangat luar biasa,” ujar Lorensia, ketua pelaksana kegiatan dalam sambutan pembuka, di aula mako BPBD kota Batu, Sabtu (24 Maret 2018).
Menarik, kegiatan yang dihadiri lebih dari 30 peserta dari kalangan Organisasi Pencinta Alam (OPA) dan umum, dimanfaatkan SIOUX mendesimenasikan serta merubah paradigma masyarakat awam tentang ular. “Misi utama SIOUX adalah merubah stigma negatif masyarakat tentang ular,” ucap Aji Rahmat, satu dari empat pendiri SIOUX.
“Ular sebenarnya tidak menggangu dan takut akan keberadaan manusia, tetapi kebanyakan orang akan panik dan langsung membunuh apabila bertemu dengan ular. Tetap tenang dan waspada saat bertemu ular, perlu dipahami bahwa ular menyerang untuk membela diri, saat diganggu atau terkejut,” tambah Aji kepada WI, Minggu (25 Maret 2018).
Aspek biologi ular, teknik dasar identifikasi ular, penanganan gigitan ular, dan praktek teknik handling ular menjadi agenda materi shading, Sabtu (24 Maret 2018). Turut hadir pakar snake bite, Dr. dr. Tri Maharani, M.Si, Sp.EM seorang ahli penanganan gigitan ular berbisa Indonesia (RECS Indonesia) yang juga Advisor temporary of WHO for snake bite turut dihadirkan dalam penanganan gigitan ular.
Mencengangkan, dalam paparan materinya, Tri Maharani menyampaikan bahwa ternyata gigitan ular itu tidak bisa dilakukan reduksi dengan alat-alat sucking (hisap bisa), cross insisi (mengeluarkan darah), sekalipun dengan torniket (melakukan pengikatan).
“Karena menurut penelitian dari Shuterland pada tahun 1979 ‘bisa’ ular itu masuk ke dalam kelenjar getah bening (bukan darah) yang tidak bisa dikeluarkan, baik pada fase lokal maupun pada fase sistemik dengan alat-alat tadi,” ungkap Tri Maharani memaparkan.
Maka dia menganjurkan pertolongan pertama pada waktu fase sistemik dan fase lokal adalah dengan menggunakan imobilisasi, yaitu membuat tidak bergerak bagian yang tergigit ular. Dengan membuat bagian tubuh yang digigit tidak bergerak, pada fase lokal maka ‘bisa’ ular hanya ada di tempat gigitan saja.
“Jadi tidak perlu mengikat tubuh dengan erat, penyedotan maupun pengeluaran darah, cukup dilakukan posisi tidak bergerak sehingga ‘bisa’ ular tidak menyebar keseluruh tubuh dengan sebuah drainase yang awal dan tetap ada difase lokal,” imbuhnya.
Pada fase lokal, ‘bisa’ dapat keluar dengan sendirinya. Minimal observasi 24-48 jam. Jadi, kalau tergigit dalam rentang waktu 2-3 hari, racunnya sudah keluar sendiri. Untuk memastikan racun telah keluar dari dalam tubuh, Anda perlu memperhatikan gejala-gejalanya yang berbeda-beda untuk setiap jenis racun.
Ketika gigitan ular menjadi fase sistemik, obatnya hanya anti ‘bisa’ ular. Jadi hanya anti ‘bisa’ ular yang bisa mengeluarkan venom dari reseptornya, dan mengikat venom dengan reseptornya. Pada fase sistemik, gejala akan berbeda pada setiap jenis racun.
Untuk racun neurotoksin, gejalanya berupa rasa kantuk. Mata tak bisa dibuka karena terjadi kelumpuhan pada otot kelopak mata, sesak nafas, dan kelumpuhan pita suara. Pada racun hemotoksin, gejalanya berupa pendarahan, seperti mimisan, air mata darah, kencing darah, dan kotoran darah.
Kemudian, nekrotoksin punya gejala kencing kemerahan, dan kehitaman pada kulit dan jaringan. Sitotoksin berupa pembengkakan di tempat gigitan terjadi. Selain itu, miotoksin ditandai dengan rasa nyeri yang sangat berat pada otot.
Artinya, pada fase lokal kita bisa melakukan first aid dengan imobilisasi, kemudian pada fase sistemik dengan pemberian anti ‘bisa’ ular. Semua teori yang lain dengan penelitian Shuterland ini tidak rekomendasikan lagi oleh guide line WHO tahun 2016. “Anjuran saya sebagai advisor WHO adalah kita menggunakan guide line WHO tahun 2016, yakni menggunakan imobilisasi pada fase lokal dan anti venom pada fase sistemik,” tambah Tri.
Sedangkan Aji Rahmat yang juga sering terkena snake bite menambahkan perlunya kita meningkatkan imunitas tubuh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bisa menambah energi seperti madu, susu dan sate. “Hal itu untuk menambah stamina dan agar daya tahan tubuh kita lebih fit, sebab jika sistim imun kita lemah maka tubuh akan drop saat fase pasca tergigit ular,” jelasnya.
Basic Training Muscle (BTM) yang merupakan pengenalan menjadi relawan SIOUX dilaksanakan pada Minggu (25 Maret 2018). Pada sesi ini, peserta diberi wawasan tentang apa itu SIOUX ditambah dengan latihan herping ular, sweeping dan rescue ular.
Kontak Person :
- Aji Rahmat (Pendiri SIOUX) : 0817-6800-446
- Tri Maharani (Pakar Penanganan Gigitan Ular) : 0853-3403-0409
Kontributor : A. Phinandhita P.
Editor : Amita Pradana Putra
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)