Para Pembuka Jalur Rintisan

Oleh : Zaeni M
Mapala UPN Veteran Yogyakarta


Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF –
Para pendaki gunung lawasan sudah terbiasa untuk membuka jalur gunung. Berbekal peta kompas, golok tebas dan bekal seonggok makanan, mereka mulai menyusun skenario operasi.

Cadangan makanan ditimbun di jalur-jalur. Pergerakan semakin melemah ketika didapati pohon-pohon tinggi besar kering dan tumbang. Pohon-pohon tumbang ini tak terbaca di peta. Bisa 2-3 jam untuk menerobosnya.

Jika kemalaman, membangun FC (Flying Camp) dan medan miring. Hammock (tidur gantung) menjadi pilihan.

Lelah menggantikan malam yang tak gemintang. Denguran nafas menakuti babi hutan yang melintas. Pisau pinggang tak boleh jauh dari jangkauan.

Udara dingin menyergap disubuh hari. Nisting yang sengaja ditendang lalu teriakan kencang ketua regu, “Jam 06.30 siap pergerakan!”

Operasi pembukaan jalur, selain urusan kontur dan medan tempur, yang tak kalah penting adalah kedisplinan untuk segera bangun, kecepatan packing, makan dan bergerak.

Tim basecamp menjaga gawang, tak boleh pergi melancong ke rumah tetangga. Apalagi ngobrol dengan anak gadis pak Kades. Ini namanya mencuri start. He.. he..

Tim base camp terhubung dengan HT, marker (tanda jalur) dan doa-doa tentunya.

Jika terjadi kedaruratan. Maka tim base camp, mengambil skenario 2 dan 3. Tarik mundur, drop logistik dan atau rescue.

Membuka jalur rintisan baru, saat ini tak bisa suka-suka. Banyak gunung yang sekarang berstatus TN (Taman Nasional). Salah-salah mengayunkan golok bisa masuk penjara.

Harus ada alasan sangat kuat, “Kenapa membuka jalur?”

Di Mapala UPN “Veteran” Yogyakarta. Setelah menempuh pendidikan lanjut, maka masa pendidikan akan dirampungkan dengan masa pengembaraan.

Anak-anak muda harus mengembara, menuju gunung, mencari tempat-tempat sunyi. Berbekal sarung warisan bapak dan sekepal gula jawa mereka berangkat. Untuk berguru pada gunung dan mengalahkan diri sendiri.

Nasibmu kini dilahirkan di jaman sekarang. Untuk membuka jalur mesti mengurus perizinan yang birokratif. Banyak gunung ditutup di bulan-bulan tertentu.

Dipresentasi pengembaraan, tim mesti beradu argumen dengan audience. Kenapa membuka jalur?

Mesti ada muatan tambahan yang menyertai perjalanan (ekspedisi kecil) ini. Misal ; pengamatan vegetasi, pengamatan jejak binatang dan sebagainya.

Tidak bisa berangkat jika pembukaan jalur, hanya urusan prestisius dan urusan ambil nomor saja. Tanpa memberikan manfaat bagi alam dan masyarakat.

Buka tutup jalur itu sudah prosedur. Meminimalkan melukai pohon itu bentuk penghormatan. Mendorong dan menyibak itu sudah cukup.

Pangkasan di bagian sepertiga ke atas bagian pohon, akan menyuburkan tanaman. Layaknya petani yang memangkas untuk berharap tumbuhnya cabang baru.

Mendaki gunung dengan santun, dengan penuh penghormatan. (z)

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 A

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.