SOP Dalam Diklatsar Pecinta Alam, Menjadi Penghalang atau Pelindung?

Oleh : M. Althaf Kiram
Anggota Hiwapatala Aceh & UKM SAR Universitas Malikussaleh

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Diklatsar (pendidikan dan pelatihan dasar) bagi pecinta alam merupakan peristiwa penting bagi pengembangan karakter dan spiritualitas calon anggota.

Namun, tanpa prosedur operasi standar (SOP/Standard Operating Procedure) yang diterapkan secara jelas dan konsisten, pelaksanaan Diklatsar dapat menjadi kegiatan yang rentan terhadap penyimpangan, baik dari sudut pandang keselamatan maupun etika.

Di lapangan, sering terjadi kecurangan atau penyimpangan jika SOP tidak diterapkan. Panitia dapat mengambil tindakan sewenang-wenang terhadap peserta, seperti memberikan hukuman fisik atau psikologis berlebihan yang sebenarnya tidak dimaksudkan dalam program pelatihan.

Sebaliknya, tanpa SOP, peserta Diklatsar bisa saja bertindak sewenang-wenang terhadap panitia, mengabaikan instruksi, atau tidak menghormati proses pelatihan.  

SOP berfungsi sebagai panduan yang mengatur interaksi antara panitia dan peserta, juga memastikan kedua belah pihak menjalankan tugasnya secara profesional dan bertanggung jawab.

Sejarah penerapan SOP pada kegiatan outdoor seperti Diklatsar atau pelatihan lainnya yang serupa, lahir dari perlunya pengaturan dan standarisasi prosedur, agar kegiatan dapat terlaksana dengan lancar, aman dan terarah.

SOP pertama kali diperkenalkan di lingkungan militer. Kemudian diadopsi di berbagai bidang lain, termasuk di kegiatan pecinta alam.

SOP dimaksudkan untuk mengelola risiko yang mungkin timbul selama suatu kegiatan. Memastikan bahwa semua pihak yang terlibat menyadari peran dan tanggung jawabnya, serta meminimalkan potensi konflik dan kesalahpahaman.

Sebagai bagian dari pendidikan dan pelatihan pecinta alam, SOP sangat penting, karena kegiatan ini sering dilakukan di luar ruangan seperti rimba raya yang penuh tantangan dan risiko.

Tanpa SOP yang ketat, pelatihan dapat dengan mudah keluar dari jalur yang semestinya, menimbulkan bahaya bagi panitia maupun peserta, seperti potensi kerusakan terhadap fisik maupun psikologis.

SOP mencakup berbagai aspek mulai dari prosedur keselamatan di lapangan, prosedur interaksi antara peserta dan panitia, prosedur penanganan darurat jika terjadi insiden, dan batasan dalam aktivitas fisik maupun psikologi.

Penerapan SOP secara konsisten memastikan bahwa seluruh program pelatihan, dan pelatihan tidak hanya menjadi ajang pengujian fisik dan mental, namun juga sebagai sarana pendidikan yang menghormati hak asasi manusia dan konservasi.

SOP memungkinkan semua pihak memiliki koneksi yang jelas dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan memastikan bahwa semua pihak terlibat dan mengetahui peran dan tanggung jawabnya. (ak).

Foto || Mapala UMSB
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB 

Daftar Pustaka :

  1. Doe, John. Panduan Keselamatan Alam Terbuka: SOP dan Implementasinya. Jakarta: Pustaka Alam, 2021.
  2. Majalah Pecinta Alam. Pentingnya SOP dalam Kegiatan Alam. Edisi Januari 2023.
  3. Smith, Jane. Outdoor Leadership: Safety and Procedures. London: Adventure Press, 2019.

 

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.