Terungkap di Seminar Mapawima, Pecinta Alam Merupakan Kelompok yang Potensial Jadi Relawan Garis Depan

Caption foto : Narasumber sedang menyampaikan materi seminar. (WARTAPALA INDONESIA / Mapawima).

WartapalaIndonesia.com, YOGYAKARTA – Pecinta alam merupakan kelompok yang potensial menjadi relawan garis depan. Tetapi masih banyak pecinta alam yang belum sadar akan potensi ini.

Penulis buku Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa, Ahyar Stone, menyampaikan pendapat tersebut di depan puluhan anggota pecinta alam se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengikuti seminar Cara menjadi Relawan Garis Depan.

Seminar yang berlangsung di Pendopo Agung Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, diselenggarakan Mapawima UWM. Pada Selasa, 21 Mei 2024.

Ahyar mengurai, sejauh ini belum ada definisi spesifik yang baku tentang relawan garis depan. Dalam buku yang ditulisnya, Ahyar memaknai relawan garis depan sebagai, “Relawan yang mendatangi lokasi bencana yang sulit dimasuki untuk mendampingi korban bencana”.

“Lokasi gempa sulit dimasuki karena berbagai faktor. Misalnya karena lokasinya yang terpencil, terisolir, paling jauh atau karena berbahaya” terangnya.

Lebih detil Ahyar mengungkap, pecinta alam punya pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang relevan terhadap situasi dan kondisi lokasi gempa yang sulit didatangi.

Pecinta alam juga memiliki kemampuan fisik dan kekuatan mental guna bertahan hidup (survive) di lokasi ekstrem yang asing bagi mereka.

“Semua hal itu dibutuhkan untuk melakukan pendampingan di desa terpencil dan terisolir yang jauh dari mana-mana. Termasuk jauh dari rasa nyaman,” imbuh Ahyar.

Tetapi kata Ahyar mengingatkan, masih banyak pecinta alam yang belum sadar potensi dirinya yang memiliki kapasitas menjadi relawan garis depan.

Ada beberapa penyebabnya. Salah satu, karena ilmu kerelawanan belum diajarkan sejak dini di organisasi pecinta alam.

“Sebaiknya kalangan pecinta alam mulai memasukan ilmu kerelawanan sebagai materi pendidikan dasar pecinta alam,” kata Ahyar.

 

Sementara itu, narasumber lain yakni Sekretaris Umum SARMMI (SAR Mapala Muhamamdiyah Indonesia) Ridwan Sidiq menjelaskan, buku yang ditulis Ahyar Stone, merupakan pengalaman relawan SARMMI mendampingi korban di sejumlah kejadian gempa.

SARMMI mendampingi korban gempa jelas Ridwan, dengan cara menyelenggarakan berbagai aktivitas kemanusiaan. Semua cara itu kemudian dibukukan agar kelompok lain turut mampu menjadi relawan garis depan.

“Ayo kita sama-sama menyiapkan diri menjadi relawan garis depan,” ajaknya.

Relawan garis depan menurut Ridwan, bukan hanya kelompoknya di SARMMI, tetapi semua relawan yang mendampingi korban di lokasi bencana yang terpencil dan terisolir. (**)

Kontributor || Danang Arganata, WI 200050
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.