TW-TWKM 28 Dibuka, Advokasi Apa yang akan Dilakukan oleh Mapala?

Wartapalaindonesia.com, BANTAENG – Temu Wicara TWKM 28 memasuki hari pertama, hujan opini kritis konservasi advokasi warnai sharing session sebelum sidang TW. Tercatat sebanyak 254 perwakilan instansi datang sebagai peserta Temu Wicara TWKM 28 Sulsel kali ini.

Tarian Gadrang Pulo dari sanggar a’bulo sibatang menyambut peserta TW. Bertempat di Gedung Balai Kartini Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan, kegiatan dibuka pukul 10.00 WITA pada Selasa, 18 Oktober 2016.

Mengambil tema besar TW-TWKM, Peran dan eksistensi Mahasiswa Pencinta Alam dalam pelestarian Kawasan Karst. Membuat sharing session berlangsung menarik, di mana pembukaan sharing session dipaparkan oleh Hj. Ully Hary Rusadi atau yang akrab disapa Bunda Ully dari Yayasan Garuda Nusantara.

Aktivis lingkungan dan kepemudaan kelahiran Garut, 04 Januari 1952 tersebut membawakan tema sharing session dengan judul Ekspedisi Penyelamatan mata air.

Ekspedisi penyelamatan mata air terdiri dari 3 program penting yakni, pembersihan wilayah mata air, penanaman pohon, dan baksos budaya masyarakat lokal.

Kunjungi FB : TWKM 28 Sulsel dan FB : Mapala UMI Makassar

Sharing yang dilakukan oleh Bunda Ully lebih banyak memberi motivasi kepada Pencinta Alam bahwa, “Berjuang untuk lingkungan, tidak boleh putus asa, tidak hanya cukup satu dua tahun saja, sebab ini harus menjadi panggilan jiwa dan tanggung jawab kita bersama untuk bela negara.”

Sedangkan kejahatan lingkungan baginya meupakan suatu perbuatan yang sangat luar biasa merugikan kita semua. Penyanyi dan pencipta lagu hutan rumah kita tersebut juga tak lupa mengajarkan kepada peserta TW-TWKM 28 untuk bersama-sama membaca mantera atau yel-yel masyarakat adat saat penanaman pohon, “he ria rio ria rio.”

“Selaraskan ucapan dan tindakan,” menjadi pesan paling menyentuh dihadapan peserta TW-TWKM 28.

Pukul 12.50 WITA, sharing session dilanjutkan bersama Mustari Tepu sebagai perwakilan BKSDAH. Putra asli Bantaeng yang hobi hiking, rafting dan fotografy ini membawakan judul sharing, “Ancaman dan kondisi lingkungan hidup serta pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.”

Pemaparan dilakukan dengan cukup menarik di mana peserta disuguhkan data-data dan fakta tentang kondisi lingkungan hidup di tanah air.

Staf Pusat Pengendalian Ecoregion Sulawesi dan Maluku ini juga menjelaskan bahwa, “Pulau Indonesia memiliki 17.504 pulau besar dan pulau kecil, dan 4 ekosistem penting juga situs lahan basah terbesar di dunia.”

Kegiatan sharing session dilanjutkan oleh Nur Hidayati selaku Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Membawakan tema mengenai advokasi penyelamatan kawasan karst dan peran mahasiswa pencinta alam, wanita kelahiran Surabaya 14 Agustus ini langsung mengutip sebuah pendapat.

“Bumi bukan warisan dari generasi terdahulu, akan tetapi diwariskan generasi masa depan, sehingga kita harus bertanggung jawab menjaganya untuk tetap lestari.”

Memaparkan data tentang komponen utama kars atau kapur gamping, kars terbesar ada di dunia ada di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Selatan. Sedangkan ekosistem mangrove dan kars merupakan ekosistem esensial, yakni ekosistem yang penting dalam ekosistem makhluk hidup.

Sedangkan peran Mahasiswa Pencinta Alam sangatlah penting, di mana konservasi dan advokasi sangat bisa dilakukan oleh Anggota Mapala. Mempengaruhi orang agar melakukan perubahan untuk kepentingan publik merupakan advokasi. Dalam bahasa sederhana, Nur Hidayati memberikan analogi sederhana.

“Kita semua sebenarnya pernah dan sering melakukan advokasi, seperti kita meminta uang kepada ibu, maka apa yang kita lakukan itu mirip dengan advokasi.”

Setelah pemaparan oleh pembicara berakhir, selanjutnya dibuka sesi tanya jawab. Antusias peserta sharing sangat luar biasa, pertanyaan kritis dan kesimpulan solutif dapat ditarik dari sesi tanya jawab.

Pertama, menampung pernyataan penanya. “Pemerintah pasti akan mendengar aspirasi dari Mahasiswa Pencinta Alam apabila mau bergerak untuk perbaikan lingkungan,” jawab Mustari Tepu sebagai perwakilan BKSDAH.

“Apa yang bisa kita kerjasamakan dengan Pemerintah? pengaturan Pemerintah itu baik namun terkadang ada oknum yang menyalah gunakan. Kita sebagai Pencinta Alam dapat mencanangkan advokasi,” tambah Nur Hidayati.

“Butuh memetakan aktor-aktornya dalam pemerintahan, sehingga evaluasi kita tidak salah alamat, dan pertemuan Mahasiswa Pencinta Alam merupakan salah satu solusi strategis, di mana gema aspirasi suaranya akan sampai ke Menteri Lingkungan Hidup jika terkondisi.”

“Masih banyak masalah lingkungan yang terjadi pada tahun 2016, kita sudah punya wawasan, kita sudah punya keterampilan, saatnya kita tentukan sikap dan berikan rekomendasi-rekomendasi.”

Sebagai penutup tanya jawab, Nur Hidayati bertanya kepada peserta sharing session. “Advokasi apa yang akan teman-teman lakukan setelah pertemuan ini?”

Laporan : A. Phinandhita P.

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.