Yayik MTV, Sang Legenda Hidup Yang Tidak Tergantikan

Sosok Yayik MTV, dalam facebook Donny Kusumah Hadi Nata. (WARTAPALA INDONESIA/ Bob Abdullah)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Pada 28 Mei 1956 lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Yayik Muhammad Tri Varianto (MTV). Sosok yang sangat berpengaruh terhadap berdirinya sebuah Organisasi Pecinta Alam (OPA) Gabungan Remaja Pemuda Seni dan Camping (GRANICA) Situbondo.Merupakan salah satudari delapan orang yang menjadi perintis awal mula berdirinya GRANICA.

Yayik dikenal sebagai sosok yang suka berpetualang baik dikalangan keluarganya maupun teman-temannya. Bahkan sejak saat duduk dibangku Sekolah Dasar (SD), Yayik sering mengikuti kakak kandungnya berpetualang ke alam bebas bersama teman-temankakanya tersebut.

“Dulu itu berbeda dengan sekarang, dulu saya cukup ke belakang rumah saja sudah masuk ke dalam hutan bersama kakak kandung saya,” kata Yayik saat ditanya tentang hobi berpetualangnya tersebut.

Sejak hampir menginjak usia 23 tahun, Yayik sudah memulai petualangannya seorang diri. Karena pada saat itu Yayik masih belum memiliki teman untuk diajak berpetualang bersama. Tahun 1979 itulah awal mula seorang pria kelahiran Kabupaten Situbondo ini memulai petualangannya sendiri, tanpa teman dan pengetahuan tentang daerah yang didatanginya.

Gunung Ringgit atau yang biasa disebut Gunung So’onan (dalam bahasa Madura) oleh masyarakat daerah sekitar, adalah Gunung pertama yang menjadi awal kisah petualangan dari Yayik seorang diri. Gunung yang berada di Desa Pecaron, Kecamatan Pasir Putih, Kabupaten Situbondo ini merupakan Gunung dengan ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan terkenal akan medannya yang sangat terjal dan ekstrim.

“Dulu di Gunung So’onan masih sepi dan belum ada tangga ataupun tali-temali untuk membantu kita mencapai puncaknya,” tuturnya seakan mengenang awal petualangannya.

Selama 2 tahun lebih pria tamatan SMA Swasta di Kabupaten Jember ini melakukan perjalanannya seorang diri ke berbagai Gunung. Selain Gunung Ringgit, yaitu Gunung Bromo dan Gunung Ijen menjadi beberapa sasaran petualangannya.

“Gunung seperti Bromo dan Ijen dulu belum menjadi tempat wisata seperti sekarang, transportasi kesana masih susah. Saya butuh berjalan tiga hari untuk mendaki ke Ijen,” kenang Yayik saat bercerita.

Pada tahun 1981 akhirnya Yayik berjumpa dengan seseorang yang juga suka berpetualang, Opek namanya. Bersama dengan Opek dan 6 kawan lainnya yang merupakan anak seni tari, Yayik mengajak mendirikan Organisasi dan menuangkan idenya untuk menggabungkan hobi petualangnya dengan seni tari kawannya tersebut.

Tepat pada 27 Desember 1981 resmi disepakati berdirilah Organisasi tersebut dengan nama Gabungan Remaja Pemuda Seni dan Camping (GRANICA), dan Yayik MTV sebagai Ketua Umum pertamanya.

Sejak itu Yayik memimpin GRANICA dengan baik, dia dikenal sebagai sosok yang cerdas, kreatif, dan berani sebagai Ketua Umum, yang dianggap tepat untuk terus mengembangkan Organisasi itu.

Selama 5 tahun berjalan pencapaiannya cukup signifikan, anggota terus bertambah, petualangan dan seni terus hidup berkegiatan, walau pada 1986 akhirnya seni tidak lagi berjalan karena minat yang berkurang.

Yayik tidak lagi sendirian, dia terus mengembangkan petualangannya ke berbagai Gunung, Hutan, dan Pantai yang belum pernah dijajakinya bersama para anggota lainnya.

Gito Susanto adalah salah satu anggota periode pertama sejak resmi berdirinya GRANICA, dan sering melakukan petualangannya dengan membawa nama GRANICA. Tidak jarang Gito bersama Yayik melakukan petualangannya, dan juga merupakan Ketua Umum kedua sejak 1995 sampai 2006.

“Mas Yayik itu merupakan sosok yang gila dan berani, dia tidak tergantikan dan sangat penting bagi GRANICA. Jika tidak ada Yayik MTV, maka tidak akan ada GRANICA,” tuturnya saat ditanya tentang sosok seorang Yayik.

Pada tahun 1982, Yayik berhasil melakukan pendakian Gunung Argopuro sampai puncaknya selama 4 hari bersama 3 sahabatnya di GRANICA. Dilanjutnya dengan membuka jalur susur hutan Bondowoso-Kendit-Situbondo (Bokensit) untuk pertamakalinya bersama 2 sahabatnya di GRANICA selama 5 hari ditahun yang sama, yang akhirnya menjadi jalur petualangan alam bebas baru bagi para penggiat alam bebas lainnya.

Tahun 1983, Yayik kembali berhasil melakukan pendakian Gunung Semeru dan Gunung Raung sampai puncaknya bersama para anggota GRANICA lainnya.

Tidak cukup berhenti sampai disana bagi seorang Yayik untuk membuat gebrakan, lagi-lagi dia membuat para sahabatnya mengakui kegilaannya pada tahun berikutnya, yakni 1984.

Dia berhasil membuka jalur susur pantai dari perbatasan Kabupaten Situbondo-Banyuwangi sampai perbatasan Kabupaten Situbondo-Probolinggo hanya berdua saja dan ditempuh 7 hari 6 malam. Dan jalur itu tidak pernah ada yang mampu melaluinya lagi setelah itu, hanyalah seorang Yayik yang mampu dan berhasil melakukannya.

Yayik terus berpetualang dan memimpin GRANICA sampai 1995. Walau sudah tidak lagi melakukan petualangan yang baru setelah itu, tapi dia masih membuat para anggota lainnya yang membuat petualangan baru untuk mengembangkan Organisasinya.

Dan sampai saat ini GRANICA Situbondo terus hidup berkat peninggalan pemikiran dan kegigihannya, dialah Sang legenda hidup yang tidak tergantikan dan tidak mungkin dilupakan.

Kontributor : Bob Abdullah

Editor : Alton Phinandhita

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan