6. Syarat Menjadi Relawan Garis Depan

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Artikel ini merupakan isi bab pertama dari buku “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Bab pertama berjudul Gempa & Relawan. Berisi 6 artikel (nomor 1 hingga 6).

Buku ini ditulis oleh Ahyar Stone. (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Selamat membaca. (Redaksi).

a. Relawan Garis Depan
Belum ada definisi spesifik yang baku tentang relawan garis depan. Dalam buku ini relawan garis depan dimaknai sebagai, “Relawan yang mendatangi lokasi bencana yang sulit dimasuki untuk mendampingi korban bencana”.

Konsep dasar relawan garis depan yang terbaca dari makna di atas, merupakan pengembangan dari konsep baku SAR (Search And Rescue).

Bila SAR secara konvensional bermakna mencari (search) korban yang hilang atau diperkirakan hilang untuk diselamatkan (rescue), maka pada konsep relawan garis depan, maknanya berkembang menjadi relawan yang mendatangi lokasi bencana yang sulit dimasuki untuk mendampingi korban bencana.

Berpijak pada pengembangan makna di atas, maka pada konteks relawan garis depan di lokasi gempa, yang dicari (search) adalah lokasi gempa yang sulit dimasuki. Sedangkan yang diselamatkan (rescue), adalah semua orang yang berada di lokasi tersebut. Pola penyelamatan melalui pendampingan.

Lokasi gempa sulit dimasuki karena berbagai faktor. Misalnya disebabkan oleh lokasinya yang terpencil, terisolir, paling jauh atau karena berbahaya.

Di bahasan buku ini, lokasi gempa yang dimasuki relawan garis depan difokuskan pada desa kategori terpencil dan terisolir. Dua kategori ini juga kental dengan nuansa bahaya.

Lantaran yang diselamatkan bukan satu atau dua orang, melainkan warga desa tersebut, maka menyelamatkan di sini memiliki dimensi yang luas.

Menyelamatkan tak cuma menyangkut persoalan fisik yang berbentuk pertolongan medis, bantuan kebutuhan pangan, dan tindakan preventif untuk menyelamatkan warga dari gangguan hujan, dingin serta dari ancaman gempa susulan. Tetapi juga mencakup penanganan masalah sosial, religius dan psikologis warga. Seperti memulihkan kegiatan ibadahnya, menyelamatkan pendidikannya, memperbaiki jaringan air bersihnya dan masih banyak lagi.

Termasuk menjaga agar karakter positif warga tidak ikut rusak, karena gempa yang tidak ditangani dengan baik, berpotensi merusak karakter positif yang sudah dimiliki warga. Jangan sampai warga yang dulunya pekerja tangguh menjadi bermental pengemis. Warga yang dulunya hidup damai menjadi gampang bertikai. Warga yang dulunya akrab berubah saling curiga.

5. Ini Alasan Relawan Memilih Lokasi Posko Kemanusiaan

b. Pendampingan di Desa Terpencil dan Terisolir
Gempa — termasuk bencana alam lainnya — senantiasa melahirkan banyak masalah yang harus dituntaskan secepatnya dengan pendekatan multidisiplin ilmu, serta melibatkan banyak pihak yang saling bersinergi.

Aneka rupa masalah tersebut tak banyak dialami oleh korban gempa di perkotaan yang lebih dulu dibantu — dan jumlah bantuan yang didapat lebih banyak — karena mudah direspon oleh semua pihak. Tetapi lebih banyak dialami oleh korban gempa yang berada di lokasi yang sulit dimasuki, seperti desa terpencil dan terisolir.

Desa terpencil adalah desa yang sukar dimasuki karena kondisi alamnya. Sukar karena memang dari dulu kondisinya seperti itu. Misalnya letaknya di perbukitan. Atau di wilayah tertentu yang jauh dari mana-mana.

Desa terpencil memiliki banyak keterbatasan. Umpamanya terbatasnya tenaga kesehatan dan pendidikan. Stok pangan yang minim. Sulitnya akses komunikasi dan transportasi, serta sarana dan prasarana lain yang kurang memadai. Kondisi serba terbatas itu, bakal makin parah tatkala desa terpencil terkena gempa.

Sedangkan pengertian desa terisolir di sini adalah desa yang sukar dimasuki karena akses masuk ke sana terputus. Misalnya jalan tertutup longsor karena gempa. Warga desa bersangkutan menjadi sukar keluar dari desanya.

Lantaran mendadak terisolir, desa bersangkutan langsung mengalami banyak kekurangan, seperti kekurangan pangan, penerangan, bahan bakar, kesehatan, air bersih, komunikasi terputus dan sebagainya.

Bantuan yang masuk ke sana didrop menggunakan helikopter, atau dipanggul berjalan kaki menerobos medan longsor yang berbahaya.

Di beberapa kejadian gempa, ada relawan garis depan masuk ke desa terpencil atau terisolir — yang karena faktor tertentu — hanya memiliki tujuan tunggal, misalnya menyalurkan bantuan pangan atau memberikan bantuan medis saja.

Setelah selesai, mereka pulang. Jadi mereka cuma sebentar berada di desa tersebut. Tidak sempat melakukan pendampingan.

Di buku ini, yang dibahas adalah relawan garis depan yang melakukan pendampingan. Pendampingan dapat dilakukan bila relawan garis depan bertahan di desa terpencil dan terisolir relatif lama. Misalnya seminggu, dua minggu, bahkan hingga sebulan.

Pendampingan adalah interaksi langsung antara relawan garis depan dengan warga desa bersangkutan. Tujuannya agar warga mampu menolong dirinya sendiri sehingga kehidupan mereka dapat segera pulih.

Pola atau cara pendampingan adalah melalui penyelenggaraan kegiatan kemanusiaan yang relevan dengan kebutuhan di desa tersebut.

Agar pendampingan berjalan maksimal, relawan garis depan mendirikan posko kemanusiaan di desa terpencil dan terisolir yang menjadi korban gempa. Lalu membaur bersama warganya.

Persoalan kemanusiaan di lokasi gempa yang terpencil dan terisolir, tentu kompleks. Tetapi dengan berada di sana, relawan garis depan akan lebih cepat mengurai setiap masalah yang mendera warga. Lantas mencari solusi praktisnya. Kemudian mengajak warga yang didampingi untuk sama-sama mengerjakannya.

Mengajak — bukan menyuruh — warga agar proaktif mengentaskan masalah mereka, bukan perkara mudah. Terkadang dibutuhkan pendekatan tertentu.

c. Syarat Menjadi Relawan Garis Depan
Syarat menjadi relawan garis depan di lokasi gempa terpencil dan terisolir, tidak terlampau sulit. Syaratnya sama seperti menjadi relawan pada umumnya, yaitu memiliki satu atau dua kecakapan yang dibutuhkan untuk mendampingi korban gempa.

Umpamanya memiliki kemampuan SAR. Memiliki kecakapan manajerial untuk mengelola posko kemanusiaan. Memiliki keterampilan di bidang jurnalistik.

Memiliki kemampuan mengedukasi warga tentang gempa. Mahir memberi motivasi agar warga senantiasa optimis sehingga cepat bangkit. Paham ncara melakukan psikososial. Memiliki kecakapan di bidang medis. Mampu menyelenggarakan pendidikan darurat di situasi serba terbatas.

Bila Anda tak punya kriteria di atas, Anda masih dapat menjadi relawan garis depan kalau bisa masak di dapur umum. Mengerti cara melakukan asesmen atau pendataan. Paham teknis memilah-memilah bantuan, lalu mengemasnya dan mendistribusikan ke warga. Tahu cara mendirikan hunian darurat. Mau mengajar ngaji dan sebagainya.

Singkatnya, apapun kecakapan dan keterampilan yang dimiliki seseorang, ada gunanya tatkala mendampingi warga di desa terpencil dan terisolir.

Syarat berikutnya untuk menjadi relawan garis depan adalah memiliki tipikal yang “tidak biasa”. Kualifikasi semacam ini tentu normal, karena lokasi yang “tidak biasa” pasti memerlukan sosok yang “tidak biasa” pula.

Menjadi relawan garis depan, berarti siap tinggal bersama warga yang didampingi. Berada di tengah warga, relawan garis depan akan minum air yang sama, mandi di tempat yang sama, serta sama-sama merasakan gempa susulan di tempat yang sama dengan warga. Pendeknya, apa-apa yang dirasakan warga yang didampingi, itu pula yang dirasakan relawan garis depan.

Oleh sebab itu seorang relawan garis depan dituntut aktif, kreatif dan sanggup bekerja sendirian. Siap bekerja kapan saja, termasuk di tengah malam yang diguyur hujan deras. Siap siaga 24 jam. Tak ada hari libur.

Seorang relawan garis depan harus menjadi pemecah masalah dan pelaksana solusi. Bukan penambah masalah bagi rekan-rekannya.

Selain itu, seorang relawan garis depan wajib mempunyai segudang keberanian, yaitu berani capek, berani lapar, berani tidak mengeluh, berani tidak mandi berhari-hari, berani jalan kaki saat hujan, berani hidup tanpa listrik dan tanpa koneksi internet, serta berani malu alias tidak jaim (jaga image).

Memilih menjadi relawan garis depan memang keputusan yang tidak mainmain. Itulah sebabnya tak banyak orang tertarik menjadi relawan garis depan. Kebanyakan orang lebih suka menjadi relawan di lokasi nyaman yang gampang “terlihat”. (as).

Foto || SARMMI
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.