Ajarkan Aggota Menggenggam Tebing untuk Menaklukkan Diri, Metala FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta Menggelar Spesialisasi Rock Climbing

WartapalaIndonesia.com, FEATURE – Bayangkan berdiri di bawah Tebing Pegat yang menjulang puluhan meter. Tali terikat di harness, jari berdebu kapur, detak jantung beradu cepat dengan tiupan angin sore. Pada saat itu, bukan sekadar batu yang kita taklukkan, melainkan rasa takut dalam diri kita sendiri.

Begitulah atmosfer yang dirasakan oleh anggota Metala FEB UMS (Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta) dalam kegiatan Spesialisasi Rock Climbing (RC) 2025 yang berlangsung pada 13–17 Agustus 2025 di Tebing Pegat, Gamping, Sawo, Tulungagung, Jawa Timur.

Kegiatan ini bukan hanya rutinitas latihan teknis, melainkan bagian dari proses kaderisasi yang mendalam. RC menjadi salah satu dari empat bidang spesialisasi Metala FEB UMS tahun ini, dengan tujuan membentuk anggota yang berani, tangguh, serta mampu memimpin dalam setiap langkah kehidupan di alam bebas.

Ketua Umum Metala FEB UMS, Arif Ginanjar Pratama, menyampaikan pesan penuh refleksi. “Panjat tebing bukan tentang siapa yang paling cepat sampai puncak. Bagi kami, panjat tebing adalah perjalanan menaklukkan diri sendiri. Dari Tebing Pegat, kami belajar bahwa keberanian lahir dari kebersamaan, dan kebersamaan itulah yang akan menjaga organisasi ini tetap kokoh.”

Spesialisasi Rock Climbing Metala FEB UMS 2025 bukanlah sekadar cerita tentang tali, carabiner, dan tebing setinggi langit. Ia adalah cerita tentang keberanian melangkah meski takut, tentang keakraban yang lahir dari keringat dan tawa, serta tentang filosofi hidup yang diajarkan cadas Pegat.

“Di balik cadas Pegat, kita menemukan bukan hanya kekuatan otot, tapi kekuatan persaudaraan. Dan itulah yang akan membawa Metala, bahkan gerakan pecinta alam Indonesia, naik ke puncak yang lebih tinggi,” imbuhnya.

Harapan saya lanjut Arif, anggota Metala tidak hanya tumbuh menjadi pemanjat yang tangguh, tapi juga menjadi manusia yang peka, peduli, dan mampu menyalakan api semangat untuk generasi berikutnya.

Senada, seorang pengurus Metala FEB UMS menambahkan, RC bukan sekadar olahraga ekstrem. RC adalah ruang belajar tentang kehidupan.

“RC bukan sekadar teknik, tapi filosofi hidup. Kita belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada,” ungkap salah satu pengurus.

Panjat tebing menuntut strategi, disiplin, dan solidaritas. Setiap gerakan pemanjat bergantung pada kepercayaan penuh kepada belayer di bawah. Dari situlah lahir pelajaran berharga: keberanian adalah buah dari kepercayaan dan kebersamaan.

Peserta dan Materi
Spesialisasi tahun ini diikuti oleh tiga peserta: Liana Aprilia, Zidane, dan Muhamad Latif, dengan pendamping Fahri Hamam Syafii. Jumlah peserta yang tidak banyak justru membuat suasana lebih intens, intim, dan penuh fokus.

Materi yang diberikan meliputi leading, top rope, dan free climbing tiga fondasi penting yang wajib dikuasai setiap pemanjat. Tidak hanya soal teknik, tapi juga soal mental menghadapi rasa gentar di hadapan cadas yang kokoh.

Respon peserta? Sangat antusias. Meski awalnya sempat ada jarak, lambat laun mereka menemukan ritme kebersamaan.

“Tiga peserta yang awalnya jarang bicara, akhirnya bisa tertawa lepas bersama di kaki tebing. Itu artinya, tebing tidak hanya mengajari kita cara memanjat, tapi juga cara meruntuhkan tembok di antara hati manusia,” cerita salah satu panitia.

Spesialisasi Gunung dan Rimba Metala FEB UMS 2025: Dari Arjuno Belajar Rendah Hati pada Alam

Kolaborasi dan Solidaritas
Kegiatan ini tidak akan berjalan mulus tanpa dukungan banyak pihak. Metala FEB UMS menyampaikan terima kasih khusus kepada Mapala Himalaya UIN Tulungagung, yang turut membantu kelancaran pelaksanaan di lapangan.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa solidaritas antarorganisasi pecinta alam adalah fondasi penting untuk melahirkan generasi baru yang siap menjaga bumi.

RC dipandang sebagai regenerasi penting bagi anggota Metala. Ia bukan hanya keterampilan teknis, tapi juga bekal mental untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.

“Spesialisasi ini kami harap menjadi bekal agar adik-adik nantinya tidak hanya kuat di tebing, tapi juga kuat memimpin, kuat peduli, dan kuat menjaga alam,” jelas salah satu pengurus. (AS).

‎Kontributor || Abdul Aziez, WI 200059
Editor || Danang Arganata, WI 200050

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.