Spesialisasi Gunung dan Rimba Metala FEB UMS 2025: Dari Arjuno Belajar Rendah Hati pada Alam

WartapalaIndonesia.com, FEATURE – Bayangkan menapaki jalur hutan dengan ransel belasan kilo di punggung. Tanah basah, akar-akar menjuntai, dan kabut pekat menutup pandangan hanya beberapa meter ke depan. Napas terengah, langkah terasa berat, tapi semangat tidak boleh padam. Pada saat itulah, pendakian bukan lagi soal fisik semata, melainkan tentang bagaimana kita merendahkan ego dan belajar menyatu dengan alam.

Atmosfer inilah yang dirasakan oleh anggota Metala FEB UMS (Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta) dalam Spesialisasi Gunung dan Rimba (GNR) 2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada 17–21 Agustus 2025 dengan misi mengeksplorasi Gunung Arjuno via Sumber Brantas, Jawa Timur.

Spesialisasi GNR merupakan salah satu dari empat bidang spesialisasi Metala FEB UMS tahun ini. Tujuannya bukan hanya menambah keterampilan teknis, tetapi juga menempa mental, solidaritas, serta kepedulian terhadap kelestarian hutan dan gunung.

Bagi Metala, GNR adalah pondasi dari seluruh keilmuan pecinta alam. Tidak heran jika materi ini ditekankan kuat dalam proses kaderisasi.

Ada 6 tujuan yang Menjadi Dasar Kegiatan

  1. Mengeksplorasi Gunung Arjuno via Sumber Brantas dan memahami ekosistem hutan pegunungan.
  2. Melatih menurunkan ego di hadapan alam.
  3. Melakukan pemetaan jalur pendakian.
  4. Mengasah kemampuan manajemen risiko dan keselamatan.
  5. Menempa fisik dan mental peserta.
  6. Meningkatkan pemahaman materi GNR secara mendalam.

“Sebagian besar kegiatan Diksar Metala ada di hutan. Itu sebabnya, GNR adalah pondasi penting. Ia bukan hanya soal teknik survival, tapi juga soal mentalitas: bagaimana tetap rendah hati, sabar, dan bijak saat berhadapan dengan alam,” jelas salah satu pengurus.

Peserta, Materi, dan Antusiasme, Spesialisasi GNR tahun ini diikuti oleh tiga peserta: Fahrel (Mejen), Fannesa (Ceting), dan Thalib (Kolor) dengan Ibad (Sentot) sebagai pendamping. Jumlah yang kecil justru membuat suasana semakin intens dan fokus.

Materi yang mereka pelajari cukup beragam, mulai dari IMPK, manajemen perjalanan, logistik dan packing, teknik survival, kesehatan dan keselamatan di hutan, hingga pemetaan jalur Gunung Arjuno via Sumber Brantas.

Respon peserta sangat positif. Sejak tahap pra hingga hari pelaksanaan, mereka menunjukkan antusiasme tinggi, disiplin, dan kesiapan mental. Pendamping menilai, meski sempat lelah dan diuji cuaca, para peserta tetap mampu menjaga semangat dan kebersamaan.

Ajarkan Aggota Menggenggam Tebing untuk Menaklukkan Diri, Metala FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta Menggelar Spesialisasi Rock Climbing

Momen Paling Berkesan: Menembus Kabut Welirang

Kisah paling membekas terjadi saat tim berusaha mencapai Puncak Welirang. Hanya sekitar 100 meter dari puncak, kabut tebal bercampur asap belerang tiba-tiba menghadang. Pandangan hanya 7–10 meter, napas terasa sesak, dan bahaya mengintai di setiap langkah.

Salah satu peserta sempat mengusulkan turun demi keselamatan. Namun, Thalib sebagai ketua tim mengambil keputusan bijak: menunggu 15 menit. Setelah itu, dengan pertimbangan matang, tim mencoba kembali menembus kabut.

“Di tengah kabut dan semburan belerang itu, kami berjalan beriringan, berlari kecil di jalur berbahaya, saling percaya, saling jaga. Dan akhirnya, bendera Metala berkibar di Puncak Welirang. Dua anggota bahkan menangis terharu karena sadar betul, situasi itu bisa saja merenggut nyawa,” kenang salah satu peserta.

Syukurlah, saat perjalanan turun, kabut perlahan menghilang dan cahaya matahari menggantikan. Semua kembali dengan selamat, membawa cerita berharga tentang arti kebersamaan dan keberanian.

Ketua Umum Metala FEB UMS, Arif Ginanjar Pratama, memberikan pesan reflektif yang menggugah: “Gunung mengajarkan kita untuk sabar, hutan mengajarkan kita untuk rendah hati. Dari Arjuno–Welirang, kita sadar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada otot atau fisik, tapi pada kebersamaan, kepercayaan, dan keberanian untuk terus melangkah meski dalam kabut”.

Harapan saya lanjut Arif, anggota Metala ke depan bisa tumbuh menjadi pribadi yang bukan hanya tangguh di lapangan, tapi juga bijak dalam menjaga alam dan memimpin dengan hati.

Spesialisasi Gunung dan Rimba Metala FEB UMS 2025 bukan hanya cerita tentang ransel, kompas, dan jalur pendakian. Ia adalah kisah tentang bagaimana manusia belajar menaklukkan ego, merawat kebersamaan, dan menemukan makna keberanian di hadapan alam.

Sementara Thalib dicatat perjalanannya menulis, “Di balik kabut Arjuno dan cadas Welirang, kami menemukan bukan hanya kekuatan otot, tapi juga kekuatan persaudaraan. Dan itulah yang akan membawa Metala, bahkan gerakan pecinta alam Indonesia, melangkah ke puncak yang lebih tinggi”. (aa).

Kontributor || Abdul Aziez, WI 200059
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.