Wartapalaindonesia.com, Timor Tengah Utara — Sejumlah anak muda yang tergabung dalam jaringan kolektif Muda Bersuara menanam 150 bibit bambu di Bukit Pakfatu, SP2 Dusun VII, Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. (30/01/2026).
Penanaman ini dilakukan sebagai upaya konservasi sumber mata air yang mengalami penurunan debit dalam beberapa tahun terakhir.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi lintas komunitas, yakni Lowewini, Tamolog, serta mahasiswa pecinta alam dari dua perguruan tinggi di Kupang. Program ini juga mendapat dukungan dari WeSpeakup.org sebagai penggagas jaringan Muda Bersuara.
Sebanyak 100 bibit bambu ditanam di kawasan tangkapan air Bukit Pakfatu. Sementara 50 bibit lainnya dibagikan kepada warga untuk dirawat secara mandiri. Area tersebut selama lebih dari satu dekade menjadi sumber air bagi lebih dari 300 kepala keluarga di kawasan transmigrasi SP2.
Namun, dua sumber mata air utama di wilayah itu, yakni Mata Air Pakfatu dan Mata Air Ninmaro, dilaporkan mulai mengering sejak sekitar 2010. Warga mengaitkan kondisi tersebut dengan pembukaan hutan untuk akses jalan dan aktivitas tambang mangan di bagian utara dan timur bukit.
Kepala Dusun VII, Fulgenias Naes, mengatakan sejak 2014 warga bergantung pada pasokan air tangki untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sudah sekitar 12 tahun kami membeli air tangki dengan harga sekitar Rp150.000 per tangki. Kami berharap mata air ini bisa kembali seperti dulu,” ujarnya.
Perwakilan Muda Bersuara, Godel Maulaku, mengatakan penanaman bambu merupakan bagian dari kampanye konservasi air bertajuk “Pak Bupati, Lebih Hemat Tanam Bambu daripada Bangun Bendungan”. Menurut dia, kampanye tersebut bukan bentuk penolakan pembangunan, melainkan tawaran alternatif yang dinilai lebih hemat dan berkelanjutan.
“Bambu dipilih karena efektif meningkatkan daya resap air hujan, menahan erosi, serta membantu menjaga ketersediaan air tanah, terutama saat musim kemarau,” kata Godel.
Ia menyebut satu rumpun bambu diperkirakan mampu menyimpan hingga 5.000 liter air di dalam tanah. Sistem akar serabut bambu juga dinilai membantu meningkatkan cadangan air tanah secara bertahap.
Godel menambahkan, sejumlah bendungan yang dibangun di sekitar wilayah tersebut tidak lagi berfungsi. Ia mencontohkan bendungan yang dibangun sekitar 12 tahun lalu, berjarak sekitar 500 meter dari Bukit Pakfatu, kini tidak lagi mengairi sawah di kawasan tersebut.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten TTU, Winda Siku. Ia menyambut baik inisiatif tersebut dan menilai pendekatan berbasis alam perlu terus didorong.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif anak-anak muda ini. Upaya konservasi seperti ini bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam penanganan krisis air,” ujarnya.
Warga Desa Ponu berharap penanaman bambu di Bukit Pakfatu dapat membantu memulihkan fungsi mata air sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan hutan dan sumber air.
Kontributor || Humas Jaringan Muda Bersuara
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)