Oleh : M. Zihadil Akbar
Anggota Madapala UAD Yogyakarta
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Tidak dapat dipungkiri beberapa tahun terakhir kegiatan mendaki gunung mengalami lonjakan jumlah peminat yang signifikan. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat hingga Agustus 2025, sekitar 1,1 juta pendaki — baik dari dalam negeri maupun luar negeri — telah menjelajahi gunung-gunung di Indonesia yang dikelola oleh Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA).
Namun melonjaknya jumlah pendaki di Indonesia berbarengan juga dengan banyaknya kasus-kasus kecelakaan yang terjadi di gunung. Banyak kita jumpai kasus-kasus kecelakaan di gunung, seperti sakit, hilang, tersesat, hipotermia, terjatuh, dan lainnya hingga berujung pada kematian. Mengapa hal ini kerap terjadi?
Harus diakui, keindahan alam Indonesia sangat menarik untuk dijelajahi. Konten-konten keindahan alam Indonesia, terutama gunung menarik perhatian banyak mata yang melihatnya.
Sayangnya, banyak orang yang mendaki gunung tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup, melainkan hanya berdasar pada keinginan. Keinginan mendaki karena tergiur dengan hal-hal indah di layar, tanpa memperhatikan bahaya yang bisa terjadi di gunung.
Terlebih, sekarang sedang ramai pendakian tektok. Mendaki tektok dianggap lebih aman dan minim risiko dengan durasi yang lebih singkat. Padahal, sama saja. Jika tidak dibekali dengan pengetahuan, mendaki tektok justru lebih berisiko.
Kawan, alam terbuka tak hanya mengandung keindahan, tetapi juga bahaya. Dan ketika kita secara sadar memilih untuk memasukinya, kita menempatkan diri dalam risiko.
Di situlah pentingnya pengetahuan. Penting untuk dipahami bahwa pengetahuan bukan untuk menghilangkan risiko. Risiko akan selalu ada. Namun, ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, diri kita sudah dibekali dengan pengetahuan untuk menghadapinya.
Ilmu-ilmu seperti manajemen perjalanan, survival, navigasi darat, serta pertolongan pertama pada gawat darurat membekali kita agar lebih siap dalam berkegiatan. Semua ditujukan untuk keselamatan diri.
Ketika hendak mendaki sebuah gunung, kita perlu memastikan apa saja yang perlu dipersiapkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan, juga bahaya apa saja yang bisa terjadi, termasuk penyakit-penyakit yang kerap terjadi di ketinggian.
Mengapa hal itu perlu kita lakukan? Karena naik gunung bukan hanya perihal keluar masuk hutan, mencapai puncak, dan selebrasi. Selalu ada bahaya yang mengintai. Oleh karena itu, penting untuk tetap mengutamakan keselamatan diri.
Mirisnya di Indonesia adalah ketika terjadi kasus kecelakaan di gunung, orang-orang cenderung gampang menghakimi orang lain. Berbagai umpatan dan spekulasi dilontarkan.
Orang-orang yang dianggap “fomo” justru ditertawakan, bukan diedukasi. Sejatinya, “fomo” itu nggak apa-apa, asal dibekali pengetahuan.
Mereka yang sekarang dikenal karena kepiawaiannya bisa saja dulunya berawal dari “fomo”.
Dan rasanya kita semua pernah berada di fase itu.
Sebagai orang-orang yang mempunyai kesenangan yang sama sudah seharusnya kita saling merangkul, bukan saling menjatuhkan.
Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah kita perlu mengetahui daerah atau tempat yang akan kita tuju. Dalam hal ini kaitannya dengan kegiatan alam bebas atau mendaki adalah bahwa kita harus menghormati dan memperhatikan segala bentuk peraturan dan larangan yang ada di desa yang kita lewati, kunjungi, atau singgahi.
Semua pantangan dan larangan tersebut harus kita hormati, meskipun dalam bertentangan dengan hati kecil dan akal kita.
Mendaki tektok ataupun bermalam tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika mendaki tanpa persiapan matang yang justru membahayakan keselamatan diri.
Poin-nya adalah mengharapkan view bagus, cuaca cerah, mencapai puncak, atau pengalaman menyenangkan di gunung itu sah-sah saja, asalkan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Terlebih ketika keselamatan diri tidak diprioritaskan sejak awal. Ingat, mencapai puncak dan mendapat view bagus itu bonus. Tujuan utamanya tetap kembali pulang dengan selamat.
Gunung tidak pernah memanggil, kitalah yang mendekatkan diri. Pada setiap langkah yang kita tempuh, selalu ada yang menanti kita untuk pulang, bukan berpulang. (MZ).
Foto || Madapala UAD
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)