Jember Tolak Tambang Emas, Bagaimana Dengan Aktivitas Pertambangan Lainnya?

Caption foto: Pertambangan gunung Puger (Januari, 2017). (WARTAPALA INDONESIA/ Nurlela Fatmawati)

Wartapalaindonesia.com, JEMBER – Beberapa waktu lalu Ibu Bupati Jember mendapat sorotan dan apresiasi dari banyak pihak, utamanya para pemerhati lingkungan. Apresiasi ini diberikan setelah Ia memutuskan untuk menolak adanya aktivitas pertambangan emas di Kecamatan Silo.

Menurutnya, aktivitas pertambangan emas di Kecamatan Silo dapat menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan. Terlebih, Kabupaten Jember telah dikenal sebagai penghasil berbagai jenis komoditas pertanian. Seperti tembakau, kopi, coklat, hortikultura dan lainnya.

Tentu saja, menurut saya keputusan tersebut adalah keputusan yang tepat. Bagaimanapun, komoditas pertanian adalah usaha milik rakyat yang dikelola oleh rakyat,dan sudah berhasil menghidupi rakyat Jember dengan baik.

Meski begitu, bukan berarti Jember terbebas dari ancaman Industri ekstraktif!

Ya, meski selama ini jarang ter-ekspose, namun usaha ekstraktif di Jember juga turut mengalami peningkatan. Ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Rere, selaku Direktur Walhi Jatim pada acara Jambore Perempuan Tolak Tambang bulan Februari lalu. Read: https://wartapalaindonesia.com/jambore-perempuan-tolak-tambang-bukti-perlawanan-tak-pernah-padam/?fbclid=IwAR232Xk17rBFLqHnID7-aGd-FmFNbZjLq7LftF4MeHn_DKa8tJks3FJNre4

Menurut Rere, usaha pada bidang industri ekstraktif di Jawa Timur mengalami peningkatan yang luar biasa besar. Berdasarkan dari data yang didapatkan oleh Walhi Jatim, peningkatan industri ekstraktif di Jawa Timur mengalami peningkatan hingga 500% dalam 5 tahun terakhir (2012-2018).

Sejalan dengan data mengejutkan tersebut, sebenarnya usaha ekstraktif di Jember juga mengalami peningkatan. Tentu bukan pertambangan emas, tapi pertambangan gunung kapur dan pertambangan gumuk.

Anda tahu Gumuk? Kalau belum tahu, baca dulu yuk kisah MAPENSA yang bertekad untuk melestarikan ekosistem gumuk Jember di https://wartapalaindonesia.com/mapensa-sisakan-kami-satu-gumuk-untuk-anak-cucu/

Gumuk merupakan sisa aliran debris flow yang mengalir turbulen dan diendapkan secara en masse freezing di bagian hulu dan terus-menerus sampai hyperconcetrated-flow dan dilute stream-flow. Oleh sebab itulah, salah satu komponen pembentuk gumuk inididominasi oleh komponen berukuran kerakal sampai bongkahan raksasa.

Komponen penyusun gumuk inilah yang umumnya ditambang oleh masyarakat sekitar. Meski hasil galian dari perut gumuk ini memiliki nilai ekonomis jangka pendek yang cukup mahal, namun penambangan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif. Seperti hilangnya fungsi ekologis gumuk sebagai benteng alami Jember dari bencana alam, fungsi ekonomis yang berkelanjutan, fungsi sosial, dan fungsi estetiknya.

Selain penambangan gumuk, Jember juga memiliki usaha pertambangan gunung kapur. Pertambangan yang dilakukan di gunung Sadeng, Kecamatan Puger-Jember tersebut menghasilkan batu kapur yang dimanfaatkan sebagai bahan baku Industri. Seperti bahan baku industri Oksidasi untuk memproduksi Ethilene, Kapur Tohor (CaO) serta bahan baku industri Kimia untuk memproduksi pupuk, Bubuk Pembersih, Insektisida, Fungisida, Bahan Pengisi Pakan Ternak, Cat, Semen, dan lainnya.

Ya, gunung Kapuryang terletak di Kecamatan Puger-Jember ini memang sedang menjadi trending topik beberapa hari ini. Sebab, usaha penambangan yang telah berjalan sejak tahun 1998-an itu baru saja menelan korban pada hari Senin (25/3) lalu.

Berdasarkan apa yang di release oleh faktualnews.co, longsornya gunung kapur yang terletak disebelah pabrik semen Puger, Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger-Jember itu terjadi pada hari Senin, 25 Maret 2019 sekitar pukul 07.45 WIB.

Korban yang tertimpa oleh material batuan kapur ini berjumlah tiga orang. Dari ketiga korban tersebut, dua orang sudah dilarikan ke rumah sakit sekitar. Sedangkan satu korban yang lainnya masih tertimbun material longsor.

Detik-detik longsornya Gunung Sadeng yang terjadi secara tiba-tiba ini sempat terekam oleh handphone warga, yang kemudian dengan cepat tersebar ke dunia maya. Berdasarkan video tersebut, banyak yang menganggap bahwa longsor ini disebabkan oleh hujan yang mengguyur selama beberapa hari terakhir.

Namun, apakah benar longsor diakibatkan oleh hujan yang memang sudah sewajarnya datang di musim penghujan? Atau memang sudah seharusnya kita sadar tentang resiko apa yang harus diterima ketika nekat merusak lingkungan?

Kontributor || Nurlela Fatmawati

Editor || Puspita Ningtyas Anggraini

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: