Menembus Jantung Borneo: Impa Akasia Berhasil Menggapai Gunung Bukit Raya, Top 7 Seven Summits of Indonesia

Oleh: Impa Akasia
Mapala Fakultas Hukum Universitas Jember

Wartapalaindonesia.com, FEATURE — Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impa) Akasia Fakultas Hukum Universitas Jember kembali mencatatkan prestasi membanggakan dengan berhasil mencapai Puncak Gunung Bukit Raya, Kalimantan Tengah, salah satu dari Seven Summits of Indonesia. Keberhasilan ini menjadi lanjutan misi besar organisasi setelah sebelumnya menaklukkan Puncak Rante Mario di Gunung Latimojong, Sulawesi, pada tahun 2023.

Pendakian Bukit Raya bukan sekadar pencapaian fisik, melainkan tonggak penting perjalanan Impa Akasia dalam menuntaskan misi Seven Summits of Indonesia. Dari tujuh puncak tertinggi di Indonesia, kini tersisa tiga yang belum dicapai, yakni Gunung Bukit Raya di Kalimantan, Gunung Binaiya di Maluku, dan Puncak Carstensz di Papua.

Pemilihan Bukit Raya sebagai target ekspedisi tahun ini dilakukan secara strategis. Selain memiliki akses yang relatif lebih memungkinkan, karakter medan Bukit Raya yang berat dan teknis dinilai ideal sebagai ajang pematangan kemampuan tim sebelum menghadapi dua puncak tersulit berikutnya, yakni Binaiya dan Carstensz. Pendakian ini sekaligus menjadi pembuktian kesiapan organisasi dalam melanjutkan misi besar.

Persiapan Panjang Sejak Oktober

Keberhasilan ekspedisi ini lahir dari proses panjang dan terencana. Sejak Oktober, Pengurus Impa Akasia telah membentuk Panitia Seven Summits of Indonesia yang bertanggung jawab menyusun konsep kegiatan, melakukan survei kebutuhan logistik, menyusun jadwal latihan, menyiapkan administrasi perizinan, hingga merancang mekanisme seleksi atlet.

Pembentukan panitia sejak dini memungkinkan seluruh tahapan persiapan berjalan matang, terstruktur, serta sesuai dengan standar keselamatan dan profesionalitas yang dijunjung organisasi.

Seleksi Ketat Atlet Ekspedisi

Impa Akasia menerapkan proses seleksi yang ketat untuk memastikan kesiapan setiap atlet ekspedisi. Seleksi dilakukan melalui tiga tahapan utama.

Tahap pertama adalah tes fisik yang meliputi lari, pengukuran stamina, kekuatan otot, dan ketahanan umum sebagai dasar kemampuan pendakian. Tahap kedua berupa uji materi yang mengukur pemahaman calon atlet terkait navigasi dasar, survival, manajemen risiko, pertolongan pertama, hingga etika pendakian dan konservasi lingkungan. Tahap terakhir adalah penetapan atlet terpilih, di mana hanya anggota yang memenuhi seluruh kriteria yang dinyatakan lolos.

Melalui proses ini, atlet yang terpilih diyakini memiliki kombinasi kemampuan teknis, mental yang tangguh, serta disiplin tinggi untuk menghadapi medan hutan hujan Kalimantan yang dikenal berat dan menantang.

Riset Lapangan dan Pembekalan

Atlet yang lolos seleksi tidak langsung diberangkatkan. Mereka terlebih dahulu dibebani tugas riset lapangan, mulai dari pengumpulan data sejarah Gunung Bukit Raya, karakter jalur pendakian, kondisi cuaca, hingga potensi risiko. Selain itu, atlet juga menyusun estimasi kegiatan yang mencakup durasi perjalanan, kebutuhan logistik, peralatan, konsumsi, serta skenario mitigasi.

Sebagai penguatan, atlet mendapatkan pembekalan tambahan dari senior dan instruktur, meliputi navigasi lanjutan, manajemen logistik ekspedisi, teknik pendakian hutan hujan, penanganan darurat, hingga dokumentasi ekspedisi. Pembekalan ini dirancang untuk memastikan kesiapan komprehensif menghadapi jalur panjang, licin, dan minim fasilitas—ciri khas Gunung Bukit Raya.

Bukit Raya, Puncak Tertinggi Kalimantan

Gunung Bukit Raya dengan ketinggian 2.278 mdpl terletak di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Sebagai puncak tertinggi di Kalimantan dan bagian dari Seven Summits of Indonesia, gunung ini dikenal dengan hutan hujan tropis yang rapat, jalur berlumpur dan licin, cuaca ekstrem yang sulit diprediksi, serta keterbatasan sinyal dan fasilitas pendukung. Kondisi tersebut menjadikan Bukit Raya lebih menyerupai ekspedisi ketimbang pendakian biasa.

Menapaki Jalur, Menjaga Adat dan Alam

Perjalanan ekspedisi Impa Akasia dilakukan secara bertahap dan terencana. Tim berangkat menuju Kalimantan Barat, melanjutkan perjalanan darat dan sungai hingga tiba di Desa Rantau Malam sebagai pintu masuk jalur pendakian. Setibanya di desa, tim melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, tokoh adat, dan pemandu lokal sebagai bentuk penghormatan terhadap aturan dan kearifan setempat.

Sebelum memasuki kawasan hutan, seluruh anggota mengikuti Ritual Adat Ngukuih Hajat yang dipimpin tokoh adat setempat. Ritual ini dilakukan untuk memohon izin kepada leluhur dan penjaga alam agar pendakian berjalan aman serta tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

Pendakian dilakukan dengan sistem camp, menyusuri hutan hujan tropis yang lebat hingga mencapai titik-titik peristirahatan yang telah ditentukan. Selama perjalanan, tim menerapkan prinsip konservasi dengan menjaga kebersihan jalur, tidak merusak vegetasi, serta mematuhi pantangan adat. Observasi lingkungan dan dokumentasi juga dilakukan sebagai bagian dari pencatatan kondisi ekosistem.

Puncak dan Refleksi

Pada 26 November 2025, tim Impa Akasia berhasil mencapai Puncak Gunung Bukit Raya. Di puncak, kegiatan pendokumentasian dan refleksi ekspedisi dilakukan sebagai penegasan komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Perjalanan turun dilaksanakan dengan tetap mengedepankan keselamatan dan etika pendakian.

Setelah kembali ke Desa Rantau Malam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penelitian terkait dampak Ritual Ngukuih Hajat dalam membentuk sikap dan perilaku pendaki, serta perannya dalam mendukung pelestarian lingkungan dan konservasi hutan. Atlet juga menyampaikan laporan singkat kepada masyarakat adat dan pemandu lokal sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial.

Penutup

Keberhasilan Impa Akasia menaklukkan Gunung Bukit Raya merupakan buah dari proses panjang, disiplin tinggi, dan dedikasi kolektif. Lebih dari sekadar capaian puncak, ekspedisi ini menjadi ruang pembelajaran, penguatan nilai konservasi berbasis kearifan lokal, serta pengingat bahwa setiap puncak dapat dicapai dengan persiapan yang matang dan sikap hormat terhadap alam.

Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.