Caption foto : Mapala Jabodetabeka kampanye di Car Free Day Bundaran HI DKI Jakarta. (WARTAPALA INDONESIA / Muhammad Andreza M)
WartapalaIndonesia.com, JAKARTA – Kampanye yang dilaksanakan Mapala Jabodetabeka di Car Free Day Bundaran HI DKI Jakarta, disambut baik warga yang mengikuti Car Free Day pada 21 Juli 2024.
Kampanye yang bertujuan mengingatkan masyarakat terhadap pemakaian sampah sekali pakai, dihadiri PKN, PKD dan utusan Mapala di Jabodetabeka.
Kordinator Lapangan Syahrul Syam, dalam orasinya menjelaskan, kampanye yang mereka gelar bertujuan mengedukasi masyarakat agar bijak dalam menggunakan plastik sekali pakai.
“Semoga langkah kecil yang kita ambil pada hari, ini bisa menjadi contoh besar bagi masa depan bumi,” kata Syahrul penuh semangat.
Di tengah kampanye, PKW Bogor Chairun mengenalkan ecobrick sebagai cara mengolah sampah agar sampah menghasilkan nilai jual dan estetika.
Melalui teknik ecobrick kata Chairun, sampah plastik yang sulit diurai sebagai daur ulang, bisa dimanfaatkan. Pengolahannya pun sangat sederhana.
“Semoga nanti, semakin banyak orang yang menyadari bahwa masalah sampah merupakan permasalahan global. Bukan hanya kalangan Mapala yang sadar akan esensinya, tetapi semua kalangan,” terang Chairun.
Senada, PKD Jabodetabeka Raihan Saesar Ramadhan mengatakan, kampanye ini dilaksanakan karena keresahan banyak orang akibat krisis iklim. Mulai dari cuaca panas yang tidak menentu, polusi udara, dan masih banyak orang yang menggunakan sampah plastik, namun tak digunakan dengan baik.
“Maka dari itu, kami dari Mapala Jabodetabeka menyuarakan agar semua elemen masyarakat sadar dan dapat bergerak bersama untuk menimalisir krisis iklim ini,” ajak Raihan.
Terhadap krisis ilklim, Kordinator Tim Delegasi Indah Puspita Sari menawarkan isu krisis iklim menjadi isu nasional di forum TWKM XXXIII Aceh. Kali ini melaksanakan kegiatan bersama Mapala di Jabodetabeka dalam upaya penyelesaian krisis iklim melalui kampanye untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga bumi pertiwi.
“Kita berharap, seluruh elemen masyarakat dapat mengurangi dampak yang akan terjadi akibat krisis iklim. Karena krisis Iklim ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” jelasnya.
PKN Mapala se-Indonesia Vivaldi Emri Nobel, berharap pemerintah dapat mengeluarkan relugasi yang mengatur pengolahan sampah untuk mengurangi penggunaan sampah plastik.
“Kita melihat dengan mata kepala, polusi udara di DKI Jakarta terlihat jelas. Situasi ini tentu tidak sehat bagi kehidupan warga Ibukota,” ujar Vivaldi.
Akibatnya lanjut Vivaldi, DKI Jakarta menjadi wilayah yang bisa dikatakan tidak layak untuk ditempati. Kepadatan ibu kota yang memunculkan permasalahan lingkungan dan polusi udara, tentu mengganggu psikologis warga.
Vivaldi turun menerangkan, krisis iklim sudah diangkat menjadi isu nasional oleh Mapala se-Iindonesia. Hal ini membuktikan jika kalangan Mapala memiliki kepedulian terhadap permasalah bangsa. (ma)
Kontributor || Muhammad Andreza M
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB000
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)