WartapalaIndonesia.com, CIREBON – UKM Mapalangit Biru STID Al Biruni Cirebon menggelar kegiatan sharing session bertema kerelawanan bencana yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Pada Kamis, 22 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung di STID Al Biruni Cirebon ini menghadirkan dua narasumber, yakni Salman “Nesting” dan Jamal “Hendel”. Keduanya baru saja pulang ke Cirebon usai menjadi relawan pendamping penyintas bencana di Sumatra selama kurang lebih lima bulan.
Dalam sesi tersebut, para peserta diajak memahami dunia kerelawanan secara lebih mendalam, mulai dari definisi penyintas bencana hingga tahapan penanganan kebencanaan di Indonesia.
Nesting menjelaskan bahwa masyarakat sering kali keliru menyamakan istilah korban dan penyintas. Menurutnya, penyintas adalah seseorang yang berhasil bertahan hidup serta mampu bangkit dari situasi bencana. Sedangkan korban merujuk kepada mereka yang telah gugur akibat peristiwa tersebut.
Selain itu, pemaparan juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menjelaskan bahwa bencana terbagi menjadi tiga kategori utama, yaitu bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial.
Bencana alam meliputi peristiwa akibat pergeseran lempeng bumi maupun kondisi cuaca ekstrem. Sementara bencana non-alam terjadi akibat kegagalan teknologi maupun pengetahuan. Adapun bencana sosial mencakup konflik sosial, wabah, dan berbagai gangguan sosial lainnya.
Hendel menambahkan dalam penanganan bencana terdapat beberapa tahapan penting yang harus dipahami relawan, yakni tanggap darurat, pemulihan, evaluasi, dan mitigasi. Menurutnya, setiap relawan memiliki fokus program masing-masing sehingga keterlibatan di lapangan harus berjalan terarah sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
Dalam sesi diskusi juga dibahas mengenai status kebencanaan. Bencana daerah merupakan peristiwa yang dampaknya masih dapat ditangani oleh pemerintah daerah setempat. Sedangkan apabila dampaknya meluas dan melebihi kapasitas pemerintah daerah maupun provinsi, maka statusnya dapat ditingkatkan menjadi bencana nasional.
Kedua narasumber menegaskan bahwa status bencana turut memengaruhi fasilitas dan dukungan bagi para relawan yang bertugas di lapangan.
Tidak hanya itu, peserta juga diberikan gambaran mengenai pentingnya organisasi dan sistem kerja relawan. Nesting menjelaskan relawan harus memiliki wadah organisasi seperti satuan tugas (satgas) agar fokus dan misi kemanusiaan tetap terarah.
Dalam satgas tersebut diperlukan organigram yang jelas, mulai dari tim perencana, tim daya dukung, kesekretariatan, hingga tim advance. Kesekretariatan sendiri terdiri dari pos induk, pos transit, dan pos masyarakat yang menjadi pusat koordinasi relawan di lapangan.
Ketua UKM Mapalangit Biru STID Al Biruni, Kharis “Prusik”, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membangun wawasan kemanusiaan anggota Mapalangit Biru.
“Relawan bukan hanya soal turun ke lapangan, tetapi juga tentang kesiapan mental, ilmu, serta kemampuan bekerja dalam sistem. Sharing session ini menjadi bekal penting bagi anggota agar memahami bagaimana peran relawan dijalankan secara profesional dan manusiawi,” ujarnya.
Nesting juga berharap pengalaman yang dibagikannya dapat menjadi motivasi bagi anggota muda untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan. “
Menjadi relawan membuat kita belajar banyak hal tentang empati, solidaritas, dan bagaimana hadir untuk masyarakat di masa sulit,” tuturnya.
Senada dengan itu, Hendel mengatakan bahwa kerja relawan bukan sekadar membantu saat bencana terjadi, tetapi juga mendampingi masyarakat agar mampu bangkit setelah bencana berlalu.
“Pendampingan penyintas membutuhkan kesabaran dan konsistensi karena proses pemulihan tidak selesai dalam waktu singkat,” katanya.
Sementara itu, Syifa “Suket” selaku angkatan atas menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, sharing session ini membuka perspektif baru bagi anggota muda mengenai pentingnya kesiapan organisasi dalam dunia kerelawanan.
“Kegiatan seperti ini penting agar anggota tidak hanya memahami teori kebencanaan, tetapi juga mengerti bagaimana sistem kerja relawan di lapangan serta pentingnya solidaritas dalam satu tim,” ungkapnya.
Kegiatan sharing session ini ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber. Melalui kegiatan tersebut, UKM Mapalangit Biru STID Al Biruni berharap mampu menumbuhkan semangat kemanusiaan serta kesiapsiagaan bencana di kalangan mahasiswa. (*)
Kontributor || Ahmad Syarofi, WI 25027 E
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)